Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 8 Agustus 2022 | 16.22 WIB

Kawinkan Art Deco dengan Elemen Madura

MATERIAL OTENTIK: Pintu utama dan jendela didapat dari galeri seni tradisional. Dipoles ulang sesuai warna aslinya. Biru terang dipadu kuning, merah, dan hijau. (ALFIAN RIZAL/JAWA POS) - Image

MATERIAL OTENTIK: Pintu utama dan jendela didapat dari galeri seni tradisional. Dipoles ulang sesuai warna aslinya. Biru terang dipadu kuning, merah, dan hijau. (ALFIAN RIZAL/JAWA POS)

Arsitektur bergaya art deco mulai come back. Namun, kali ini art deco dikolaborasikan bersama gaya arsitektur lainnya. Yaitu, tradisional. Hal itulah yang ditampilkan di sebuah rumah di kawasan Sidoarjo, Jawa Timur, yang satu ini.

---

RUMAH tersebut terletak di tepi jalan utama kompleks perumahan. Karena itu, gol utamanya adalah merombaknya menjadi rumah yang stand-out. Arsitek Gayuh Budi Utomo pun mengaplikasikan tema dasar art deco. Hal itu ditandai dengan adanya garis-garis lengkung, mulai dinding pagar hingga foyer.

’’Ke depan, art deco akan tren lagi. Kafe-kafe sudah banyak yang mengusung tema ini. Lalu, kami coba terjemahkan ke dalam hunian,’’ kata Gayuh pada Selasa (2/8) lalu. Dominasi warna putih khas art deco pun dipertahankan. Lalu, yang membikin rumah ini unik adalah perpaduannya dengan gaya tradisional yang memiliki kedekatan dengan sang pemilik.

Gayuh menuturkan, pemilik merupakan orang Banjarmasin dan Makassar yang pekerjaannya banyak melibatkan orang-orang Madura. Dari situlah inspirasi diambil. Unsur tradisional Madura diterapkan melalui pintu utama dan sepasang jendela yang menjadi poin utama rumah tersebut. Pintu dan jendela itu memiliki warna dasar biru terang yang dipadukan dengan warna kuning, merah, dan hijau yang identik dengan budaya Madura.

Gayuh menjelaskan, untuk menjaga agar tetap otentik, pintu dan jendela itu didapat dari galeri seni tradisional. Dengan kata lain, pintu dan jendela itu merupakan barang bekas. ’’Namun, material kayu jatinya masih sangat bagus dan kukuh. Hanya catnya yang hilang,’’ kata ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Timur tersebut.

Photo

DIVIDER: Rak koleksi pajangan yang menyambut di ruang tamu sekaligus menjadi pemisah dengan ruangan di baliknya. (ALFIAN RIZAL/JAWA POS)

Bahkan ukirannya pun masih terasa tiga dimensi, lebih menonjol dibandingkan ukiran zaman sekarang. Untuk ’’menghidupkannya’’, pintu dan jendela itu pun dicat dan dipoles ulang menjadi seperti baru. ’’Warnanya disesuaikan dengan warna aslinya,’’ terang Gayuh. Hasilnya, warna pintu dan jendela tersebut tampak sangat kontras dengan dominasi putih dari art deco. Rupanya, dua gaya berbeda itu bisa ’’akur’’ ketika dikawinkan.

Satu lagi budaya tradisional yang ’’ditarik’’ ke dalam rumah itu. Yakni, budaya Jawa. Hal itu ditandai dengan adanya lantai dari tegel pada foyer. Tegel bermotif seperti batik kawung itu meramaikan rumah tersebut tanpa mencuri spotlight pintu dan jendela kayu tadi. Kemudian ditambah elemen pemanis seperti lampu gantung dan furnitur yang juga bernuansa tradisional.

---

HIGHLIGHTS

PENDAPA

Photo

BENTUK LENGKUNG: Detail yang menjadi salah satu ciri khas gaya art deco tersebut. (ALFIAN RIZAL/JAWA POS)

Di bagian belakang rumah tersebut awalnya terdapat dua gazebo besar. Satu untuk tempat berkumpul dan satu lagi berfungsi sebagai musala. Oleh Gayuh, gazebo tempat berkumpul dibongkar, lalu dibuat selasar memanjang yang lebih lega.

LUBANG POHON

Di depan foyer rumah sengaja dibangun atap seperti kanopi sebagai penghalang masuknya air hujan. Namun, pemilik juga menghendaki agar area itu ditanami pohon. Alhasil, atap dilubangi agar pohon paku brasil yang ditanam bisa ’’menembus’’ ke atas.

ROSTER

Photo

MATERIAL OTENTIK: Pintu utama dan jendela didapat dari galeri seni tradisional. Dipoles ulang sesuai warna aslinya. Biru terang dipadu kuning, merah, dan hijau. (ALFIAN RIZAL/JAWA POS)

Roster ditempatkan di sisi kanan rumah tersebut secara vertikal dan berfungsi sebagai void. Gayuh menuturkan bahwa roster itu berfungsi sebagai penyeimbang agar rumah tidak terasa terlalu horizontal.

KURSI

Pada area foyer terdapat kursi kayu jati yang menarik. Meski bentuknya sederhana dan hanya dilapisi vernis tanpa cat, dudukan kursi tersebut memanjang dan lebar. Bisa digunakan untuk bersila sehingga lebih santai.




Photo

(ALFIAN RIZAL/JAWA POS)


  • Arsitek: Gayuh Budi Utomo

  • Luas tanah: 288 meter persegi

  • Luas bangunan: 280 meter persegi

  • Lama pengerjaan: 6 bulan

  • Lokasi: Sidoarjo


 

Photo

Selasar untuk tempat ngumpul di halaman belakang. (ALFIAN RIZAL/JAWA POS)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore