
Pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara, Djarot Syaiful Hidayat-Sihar Sitorus dan Edy Rahmayadi saat acara debat publik yang digelar KPU Sumut di Medan, beberapa waktu lalu.
JawaPos.com - Sejumlah lembaga merilis hasil survei Pemilihan Gubernur Sumatera Utara (Sumut) 2018. Survei tersebut menunjukkan hasil yang berbeda. Perbedaan itu, diharapkan jangan sampai membingungkan publik.
Akademisi Fisip Universitas Sumatera Utara (USU), Henri sitorus, Msc PhD mengatakan, masyarakat dapat memilih dengan rasional dengan mengesampingkan hasil survei yang tidak didasari metodologi yang jelas. Menurutnya, hasil survei yang dipaparkan oleh salah satu lembaga tidak bisa dijadikan acuan apabila hasil tersebut dipaparkan tanpa alasan yang jelas.
"Survei itu, harus menjelaskan metodologi dan cara pemilihan sampelnya serta batas errornya. Serta, harus benar-benar mencerminkan realita. Karena itu, seleksi responden harus mewakili populasi," katanya dalam pernyataannya, Minggu (17/6).
Lebih lanjut, Dosen Sosiologi Fisip USU dan juga pengajar Pascasarjana Studi Pembangunan dan PSL itu mengatakan, hasil survei Center for Election and Political Party (CEPP) berbeda dengan Indo Barometer. Kemungkinan besar, hal itu dikarenakan pengambilan sampelnya berbeda.
"Maka sebaiknya sampel juga dideskripsikan dan tidak bias. Waktu melakukan survei harus betul-betul dijelaskan. Kalau tidak dijelaskan, publik meragukan," ujarnya.
Intinya menurut Henri, survei itu harus independen serta harus dilihat siapa yang membiayai survei. "Jauh dari kepentingan SARA dan masyarakat juga harus menjadi pemilih rasional untuk memajukan Sumut," katanya.
Sekadar untuk diketahui, Center for Election and Political Party (CEPP) Fisip Universitas Sumatera Utara (USU) melansir hasil surveinya terkait Pilgub Sumut. Hasilnya, Pasangan nomor urut satu, Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah (Eramas), dinyatakan unggul jauh dari pasangan nomor urut dua, Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus (DJOSS).
Peneliti CEPP Fisip USU, Akhyar Anshori pada diskusi yang bertajuk 'Membaca Peta Pilgubsu 2018' di Pulau Biru Coffee, Medan mengatakan, bahwa, jika Pilgub Sumut dilaksanakan akhir Mei hingga awal Juni maka Eramas unggul 53,1 persen. Sedangkan DJOSS mendulang suara 35,7 persen dan yang belum menentukan pilihan 11,2 persen.
Hasil survei CEPP Fisip USU ini, hanya dipublikasikan sehari setelah Indo Barometer menyampaikan hasil surveinya. Berbeda dengan CEPP Fisip USU, hasil survei lembaga Indo Barometer justru pasangan DJOSS yang unggul dengan 37,8 persen. Sementara Eramas memperoleh 36,9 persen.
Keunggulan pasangan Djarot-Sihar ini dipengaruhi oleh faktor penilaian masyarakat terhadap masing-masing calon yang bertarung. Dalam survei tersebut, elektabilitas Djarot juga unggul atas Edy. Djarot berhasil meraih 37,0 persen sedangkan Edy 36,1 persen.
Hal yang sama juga terjadi pada sosok wakil mereka. Dimana Sihar jauh unggul dengan 34,0 persen dibanding Musa Rajekshah yang hanya 28,5 persen.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
