
Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah
JawaPos.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Pemimpin Tertinggi Korea Utara (korut) Kim Jong Un melakukan pertemuan bersejarah mereka di Singapura pada Senin (11/6). Betapa tidak, kedua negara ini biasanya selalu menghiasi tensi panas antar negara.
Menanggapi pertemuan itu, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Fahri Hamzah mengaku tak bisa memprediksi dampak apa yang terjadi pada Indonesia usai pertemuan kedua negara itu. Baginya, kedua pemimpin ini memiliki watak yang cukup membuatnya aneh.
"Pertemuan ini adalah pertemuan yang sulit diberi analisis yang konvensional sifatnya. Pertama karena kedua pemimpin ini dua-duanya pemimpin aneh," kata Fahri Hamzah kepada Wartawan, Senin (11/6).
Keanehan itu, kata Fahri, lantaran belum mengetahui seperti apa sebenarnya watak Kim Jong Un. sebab selama ini Korea Utara memang negara tertutup. Begitupula orang nomor satu Paman Sam yang tiba-tiba menjadi sosok yang sangat terbuka.
"Dia (Kim Jong Un) jarang bicara. Dia jarang kita lihat aktivitasnya karena sistem tertutup di Korut. Tapi Donald Trump aneh karena sangat terbuka. Dan keanehannya itu hari-harinya mewarnai media," ucap Fahri.
Lebih lanjut, Fahri menuturkan, dirinya khawatir bukan hanya motif menyepakati denukrilisasi saja dalam pertemuan itu. Namun adanya motif lain yang berkembang dan dapat mengganggu negara lainnya, termasuk Indonesia.
"Kalau motifnya nanti kemudian berkembang kepada konsesi-konsesi tertutup itu bisa merugikan kita semua," ujarnya.
Fahri menduga, Trump tengah melakukan cara untuk memperkuat kembali perekonomian AS yang mulai menurun. Dengan mendapatkan hati Korut, akan memuluskan langkahnya dalam perdagangan negaranya itu.
"Mungkin dia (AS) sudah pegang Korsel, kalau dia bisa reunifikasi lalu memegang Korut maka barang-barang produk dan jasa Amerika akan masuk melalui Korea Selatan," ucapnya.
"Maka semenanjung Korea kemudian akan berada di bawah AS, nah itu bisa membuat tensi ketegangan yang tinggi antara Amerika dengan China sebab selama ini Korut sudah didominasi oleh produk dan barang-barang jasa China," sambungnya.
Dengan kondisi seperti itu, ungkap Fahri, apabila Indonesia tak berhati-hati, maka bukan tidak mungkin tanah air tercinta ini dapat jadi korban.
"Nah perang dagang antara dua negara besar ini kalau Indonesia tidak mengerti posisinya, kita bisa rugi. Sebab pada perang dagang dua negara ini, kita bisa jadi korban seperti terinjak di antara dua gajah," tutupnya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
