Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 8 Juni 2018 | 16.20 WIB

22 Menit, Melalui Aksi Teror Menggambarkan Waktu Sangat Berharga

Sutradara dan Pemain film 22 Menit saat peluncuran trailer di kawasan Jakarta Barat, Kamis (7/6). - Image

Sutradara dan Pemain film 22 Menit saat peluncuran trailer di kawasan Jakarta Barat, Kamis (7/6).

JawaPos.com – Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi meski untuk beberapa menit ke depan. Semua adalah rahasia sang pencipta. Oleh karenanya, biarlah setiap waktu dijalani dengan sebaik-baiknya. Demikian pesan yang ingin disampaikan dari film 22 Menit, selain mengenai upaya melawan aksi teror.


"Kita nggak tahu ke depannya, kita mau gimana dan seperti apa. Jadi time itu sangat precious buat kita. Itu sih intinya," kata salah satu sutradara film ini, Myrna Paramita saat peluncuran trailer di kawasan Jakarta Barat, Kamis (7/6).


Menggunakan bahan peledak asli, Myrna mengungkapkan dalam film ini akan digambarkan bagaimana upaya aparat kepolisian dalam waktu 22 menit mentralisasi aksi teror yang terjadi di Jalan MH Thamrin, Januari 2016 silam. Tetapi, dalam upayanya tersebut ternyata tidak akan berhasil tanpa kerja sama dari masyarakat.


Berusaha menggambarkan kejadian nyata, Myrna mengungkapkan butuh lebih dari satu tahun untuk risetnya. Apalagi, dibutuhkan izin dari kepolisian. Mengingat, semua sumber terkait dengan pasukan pengamanan tersebut.


"Kita pengin polisi sebener-benernya polisi seperti apa. Dari senjatanya, dari gerak-geriknya. Cuma takes time karena kita wawancara semua saksi mata yang di lokasi. Polisi kan punya divisi yang sangat banyak, dan itu semua kita interview satu per satu untuk dapat cerita seperti ini," ungkapnya.


Bahkan, lanjutnya, Ario Bayu (pemeran tokoh polisi) harus menjalani latihan selama satu bulan bersama para polisi. Dengan maksud menghindari adanya kesalahan prosedur karena film ini banyak mengambil sudut pandang dari upaya polisi mengatasi aksi teror.


Namun, Eugene Panji yang juga bertindak sebagai sutradara memastikan bahwa tokoh dan nama-nama dalam film ini adalah fiksi yang dibuat untuk membuat cerita lebih dramatis dan emosional.


"Film ini sekadar film fiksi, tapi memang rekonstruksi. Kita mencoba melakukan rekonstruksi sedekat mungkin. Bisa 60 persen mungkin lebih mungkin. Tapi kenapa kemudian kita sebut film fiksi? Tokoh-tokoh, nama kita ubah semua," jelasnya.


Oleh karena itu, lanjut Eugene, penonton tidak cuma akan disuguhkan aksi polisi menumpas teroris, tetapi juga kisah drama di balik masing-masing karakter yang ada di sini.


Intinya, Eugene menegaskan bahwa melalui film 22 Menit ini akan digambarkan bagaimana keberanian dan ketahanan bangsa Indonesia menghadapi serangan teroris.


"Kita ingin bukan bikin film dokumenter. Kami ingin begitu orang nonton film ini menikmati dalam konteks kita bisa menyusupi edukasi lebih medium film," pungkasnya.


Penasaran bagaimana upaya kepolisian mengatasi aksi teror secara riil? Jangan lewatkan 22 Menit yang mulai tayang 19 Juli 2018 mendatang.

Editor: Fersita Felicia Facette
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore