
Pasangan Tb Hasanudin-Anton Charliyan (Hasanah).
JawaPos.com - Hasil temuan Lembaga Survei Indikator Politik Indonesia mengenai peta kekuatan elektoral kandidat di pilkada Jawa Barat 2018 menunjukan hasil menarik. Beberapa partai politik pendukung paslon dinilai masih belum dapat meyakinkan konstituennya untuk memilih figur yang diusungnya di daerah.
Hal itu diungkapkan oleh Direktur Eksutif Indikator Politik Indonesia Burhanudin Muhtadi. Dia mengatakan, setidaknya ada dua paslon yang paling tidak solid untuk mengusung kandidatnya dalam perhelatan pilkada Jabar 2018. Mereka adalah parpol pendukung pasangan Sudrajat-Syaikhu (Asyik) dan pasangan Tb Hasanudin-Anton Charliyan (Hasanah).
Diketahui, pasangan Asyik diusung oleh gabungan partai Gerindra, PKS dan PAN. Sementara, pasangan Hasanah diusung tunggal oleh PDIP.
Dalam hasil temuan surveinya, Burhan mengatakan, konstituen pendukung parpol yang berada di koalisi Asyik justru lebih banyak menjatuhkan pilihannya kepada pasangan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul (Rindu), yakni sebesar 44 persen. Sementara itu, suara lainnya juga tersebar kepada pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi (Duo DM) sebanyak 30 persen.
Sementara itu, koalisi Hasanah juga mendapatkan suntikan elektoral sebesar 1 persen dan tidak menjawab sebesar 9 persen. Sedangkan, pasangan Asyik hanya memperoleh kepercayaan sebesar 16 persen suara dari konstituennya sendiri.
"Karena umumnya calon yang diusung oleh PKS itu relatif agak solid. Tapi, ingat pasangan asyik bukan hanya didukung PKS, tapi juga didukung Gerindra oleh PAN, dan pemilih mereka jauh lebih banyak memilih ke Rindu dan Duo DM daripada memilih calon gubernurnya sendiri," kata Burhan di Kantor Indikator Politik, Jakarta, Rabu (6/6).
Kondisi yang tak jauh berbeda pun terjadi di koalisi Hasanah yang dimotori oleh PDIP. Kendati partai moncong putih itu memiliki kekuatan elektoral yang besar di Jawa Barat pada pileg lalu, namun dukungan itu tak diaminin sepenuhnya pada calon yang diusung oleh partainya di Jawa Barat.
Hasilnya, sebanyak 42 persen kontituen pemilih Hasanah justru berpaling memilih Duo DM, sedangkan 38 persen suaranya mengalir kepada pasangan Rindu dan pasangan Asyik mendapatkan 2 persen suara. Sementara pasangan Hasanah hanya mendapatkan 8 persen suara dari konstituennya sendiri dan tidak menjawab sebanyak 10 persen.
"Basis pemilih PDIP (Hasanah) jadi titik bancakan oleh pemilih Rindu ataupun Duo DM, jadi tidak solid sama sekali PDIP ini. Pemilih PDIP besar, tapi tidak solid dengan dukungannya keputusannya DPP untuk memenangkan Hasanah," tutupnya.
Sebagai informasi, Survei ini dilaksanakan pada Maret sampai Mei 2019 dengan populasi sampel yang berjumlah 5.169 responden. Adapun metode yang digunakan yakni multistage random sampling dengan margin of error sebesar 3,5 persen.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
