Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 3 Juni 2018 | 19.05 WIB

Di Pantai Utara Jawa Tengah, Mereka Hidup Bersama Rob

TERGENANG: Jalanan pantura Cirebon tepatnya di Klayan Kecamatan Gunungjati Kabupaten Cirebon terendam banjir Minggu (11/3). - Image

TERGENANG: Jalanan pantura Cirebon tepatnya di Klayan Kecamatan Gunungjati Kabupaten Cirebon terendam banjir Minggu (11/3).

Rob menenggelamkan ribuan hektare lahan dan puluhan ribu warga di berbagai kota turut terkena dampak. Tanah di pantai utara sensitif. Seperti tumpukan pasir, digali di pinggir, akan longsor ke lubang galian tersebut.


TAUFIQURRAHMAN, Semarang - M. AINUL ATHO, Pekalongan


---


HENRI Setiawan dengan cemas menyaksikan ketinggian air di dalam rumahnya. Makin tinggi...makin tinggi Lalu, seiring kian dekatnya waktu berbuka puasa, satu per satu mulai tenggelam: seperangkat komputer, televisi, kulkas, lalu...


Sebelum semuanya terlambat, warga Kelurahan Panjang Baru, Kota Pekalongan, Jawa Tengah, itu memilih bergegas meninggalkan rumah. Dengan hanya membawa baju yang melekat di tubuh. Dan, satu unit laptop.


Dia tak sendirian. Puluhan warga lain juga mulai meninggalkan kediaman masing-masing. Menuju tempat pengungsian di ujung kampung di tepian pantai utara Jawa tersebut.


Tapi, itu pun tak mudah. Jalanan kampung sudah terkepung air setinggi kira-kira lutut orang dewasa.


"Air rob masuk rumah dengan cepatnya hingga ketinggian 1 meter. Saat rumah saya tinggal, motor saya, jenis motor sport, hanya terlihat tutup bensinnya," tutur Henri kepada Radar Pekalongan (Jawa Pos Group).


Hari itu, Rabu (23/5), rob atau banjir air laut di Kota Pekalongan mencapai puncak. Setelah sejak awal Mei hampir setiap sore air rob datang merendam wilayah-wilayah langganan terdampak. Banjir disebut paling parah sepanjang sejarah.


Hampir seluruh wilayah di Pekalongan Utara dan sebagian wilayah di Pekalongan Barat terendam rob. Di wilayah-wilayah langganan, ketinggian air bisa mencapai satu hingga satu setengah meter.


Catatan posko induk penanganan rob Kota Pekalongan, pada 23 Mei sekitar 5.000 warga mengungsi. Sebanyak 3.500 jiwa dari Pekalongan Utara dan 1.500 jiwa lainnya dari Pekalongan Barat.


Sebagian warga lainnya memilih bertahan di rumah masing-masing. Total ada 20.760 KK yang terdampak banjir rob.


Tapi, itu bukan fenomena sehari dua hari. Rob sewaktu-waktu bisa menyerang dalam kurun sekitar delapan bulan dalam setahun. Umumnya dari April sampai Desember. Tanpa harus dibarengi hujan.


Dan, itu telah terjadi puluhan tahun. Tak cu­ma di Pekalongan. Rob juga menjadi bagian keseharian warga di tepian pantai utara Jawa. Di Jawa Tengah, yang dialami warga Pekalongan juga dirasakan mereka yang tinggal di kawasan serupa di Tegal, Semarang, Demak, dan Jepara.


Baidi, kepala desa (Kades) Tanggul Tlare, Jepara, mengingat, pada 1970-an desanya masih sekitar 1 kilometer dari bibir pantai. Tapi, satu setengah dekade kemudian, warga akhirnya harus mengungsi.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore