Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 29 Mei 2018 | 17.20 WIB

Begini Cara Mahasiswa Indonesia Menikmati Puasa 19 Jam di Finlandia

Salat Isya dan Tarawih berjamaah di Masjid Suomen Islamilainen Yhdiskunta - Image

Salat Isya dan Tarawih berjamaah di Masjid Suomen Islamilainen Yhdiskunta

“Assalamualaikum, diumumkan bahwa puasa mulai hari Kamis, 17 Mei 2018”. Begitulah pesan yang tersebar di salah satu messenger group warga Indonesia di Finlandia beberapa hari sebelum Ramadan tiba. Pesan tersebut terkonfirmasikan melalui pengumuman yang disampaikan pada laman Masjid Al-Iman, tempat saya biasa menjalankan ibadah salat Jumat di Helsinki, ibu kota Finlandia.


Sesenang-senangnya saya menyambut bulan suci Ramadan 1439 Hijriah, tebersit rasa khawatir. Mampu atau tidak saya melaksanakan ibadah puasa dengan afdal dan khusyuk. Kekhawatiran itu tidak lain karena separuh pertama Ramadan akan jatuh pada musim semi. Lantas, separuhnya lagi pada musim panas.


Artinya, siang hari di Finlandia akan berjalan lebih lama daripada malam hari. Durasi berpuasa akan terus bertambah seiring menuanya umur bulan. Tantangan lainnya adalah, suhu udara yang sejak 12 Mei lalu berada tidak kurang dari 20 derajat Celcius. Itu dua kali lebih tinggi dari suhu rata-rata Mei dari tahun-tahun sebelumnya.


Meski demikian, saya berbesar hati karena mengetahui bahwa ibadah puasa nan panjang ini akan saya laksanakan bersama-sama dengan jutaan Muslim dan Muslimat yang tinggal di negara-negara lain di belahan bumi utara. Saya juga harus bersyukur karena Ramadan tahun ini tidak melalui hari terpanjang dalam 1 tahun, atau summer solstice.


Biasanya itu jatuh pada 21 Juni. Berbekal semangat solidaritas dan rasa syukur tersebut, niat untuk menjalankan ibadah puasa saya ucapkan seiring memanjatkan doa agar puasa yang saya jalankan dapat dimudahkan oleh Allah SWT.


“Ayah, bangun, sahur!” ucap istri saya pada dini hari puasa pertama. Waktu menunjukkan pukul 1.48 pagi. Ini berarti kami memiliki waktu 54 menit sebelum datangnya fajar pada pukul 2.42, dan 44 menit sebelum waktu Imsak. Saya bergegas membangunkan anak saya yang sebelum tidur malam tadi berpesan agar dibangunkan ketika orang tuanya bersahur.


Kami berencana memperkenalkan ibadah puasa bagi anak kami melalui teladan, walaupun belum memintanya untuk berpuasa. Bagi saya, kehadiran keluarga menambah satu hal lagi yang patut saya syukuri, terutama pada Ramadan ini. Sahur dan berbuka puasa merupakan momentum yang lebih nikmat dilakukan bersama dengan keluarga.


Setelah membasuh muka dengan air hangat, saya bergegas menuju meja makan untuk bersantap sahur. Untuk sahur pertama kami di Ramadan, istri saya telah berbaik hati untuk memasak rawon iga sapi. Walaupun Helsinki dan Surabaya, tempat asal masakan rawon, berjarak hampir 14 ribu Kilometer, atau lebih dari 16 jam perjalanan udara, kami masih dapat menikmati sajian tersebut.


Sejumlah toko Asia yang tersebar di Helsinki memudahkan kami untuk mendapatkan bumbu-bumbu khas masakan Indonesia. Kemudahan yang sama kami alami dalam memperoleh daging ayam, sapi, dan kambing halal. Satu alasan lagi untuk mengucap hamdalah.


Puasa hari pertama saya lalui dengan melakukan kegiatan di rumah. Oleh karena studi doktoral saya telah memasuki tahun ketiga, tidak ada lagi mata kuliah yang harus saya tempuh. Dengan demikian, saya dapat fokus menulis disertasi saya, dan itu dapat dilakukan di luar kampus. Namun demikian, bagi saya, menulis disertasi dalam kondisi berpuasa tidaklah mudah.


Konsentrasi yang diperlukan untuk membaca artikel dan menyintesis berbagai argumentasi telah menyita banyak energi. Untuk menghilangkan rasa lelah, saya berjalan kaki dan menikmati cuaca di luar. Akhirnya, setelah 19 jam dan 17 menit, waktu berbuka puasa tiba. Alhamdulillah, kekhawatiran saya tidak terbukti, karena puasa hari pertama ini dapat saya lalui dengan lancar.


Hari berikutnya, saya memutuskan untuk ber-iftar di Masjid Suomen Islamilainen Yhdiskunta (Islamic Society of Finland) yang berlokasi di pusat kota. Masjid ini memiliki sekitar 1.600 jamaah dengan latar belakang etnis yang beragam, antara lain Somalia. Jamaah asal Somalia umumnya berlatar belakang pengungsi perang saudara di negaranya.


Warga Somalia pertama kali mengungsi ke Finlandia pada 1990, dan hingga saat ini berjumlah sekitar 16 ribu jiwa. Tidaklah berlebihan jika ada anggapan bahwa keberadaan warga Somalia telah berperan dalam menjaga pilar-pilar Islam untuk tetap berdiri di negara dengan mayoritas penduduk beragama Kristen Lutheran Evangelis ini.


Tepat pukul 22.05, azan Maghrib berkumandang. Saya menyegerakan berpuasa dengan meneguk segelas air putih dan tiga butir kurma. Setelah menunaikan ibadah shalat Maghrib, makan malam dihidangkan. Menu berbuka puasa hari ini bertemakan timur tengah. Yaitu nasi biryani dan kari kambing.


Untuk membiayai iftar para jamaah, masjid ini membuka kesempatan kepada para donatur untuk menyedekahkan hartanya. Sebagai gambaran, dana yang dibutuhkan untuk membiayai iftar bagi 30 jamaah adalah sebesar EUR 200, sedangkan bagi 50 jamaah sebesar EUR 350. Satu jam setelah berbuka, kami melaksanakan salat Isya dan Tarawih secara berjamaah. Rangkaian ibadah malam ini selesai pada tepat tengah malam. Saatnya kembali ke rumah dan bersiap untuk bersahur.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore