Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 27 Mei 2018 | 16.00 WIB

Inilah Kisah Heroik Para Penyelamat dari Jakarta Timur (1)

Tim Rescue Pemadam Kebakaran Jakarta Timur Aris Kardyanto. - Image

Tim Rescue Pemadam Kebakaran Jakarta Timur Aris Kardyanto.

Aksi heroik superhero dalam film produksi Marvel Studios saat menyelamatkan seseorang dari ancaman bahaya seakan hadir dalam kehidupan nyata. Hal itu terbukti setelah kita mendengarkan cerita para anggota penyelamat di Sudin Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Jakarta Timur. Ketiganya adalah Aris Mardyanto, Tri Hadi, dan Afif Susmawardi.


==


Aris Mardyanto Terjang Derasnya Air Gorong-gorong



Bukan mengandalkan lengan besi dan tubuh kekar, tim penyelamat wajib memiliki otak yang cerdas dan jiwa yang berani. Percuma berbadan kekar jika ciut nyali. Yang lebih parah bila tidak panjang ide. Karena itu, keberanian dan kejelian adalah syarat mutlak bagi seseorang yang bergabung sebagai anggota penyelamat Sudin Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Jakarta Timur.


”Saya bertugas di Sudin Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Jakarta Timur sejak 2004. Bersyukur sampai sekarang ini masih bertugas,” kata Aris Mardyanto ketika ditemui Jawa Pos di kantornya pada Selasa (22/5). Kebetulan, hari itu Aris melaksanakan piket.


Kenangan bekerja sebagai tim penyelamat selama 14 tahun tentu penuh haru dan menegangkan. Saat ditanya mengenai kenangan manis yang tidak terlupakan hingga kini, Aris tersenyum tipis. Lalu, mengusap wajahnya yang memerah malu. ”Kenangan manis, ya?” ujarnya, lalu bergumam.


Menurut Aris, terlalu banyak kenangan manis yang tidak bisa terlupakan selama menjalankan tanggung jawabnya. Yang jelas, ketika baju penyelamat menempel dan helm dengan tulisan rescue terpasang di kepala, yang ada di otaknya hanya satu. ”Bagaimana saya bisa menyelamatkan seseorang di satu kondisi. Itu saja. Sebab, kami adalah rescuer yang berarti penyelamat,” tuturnya.


Aris menyatakan, otak, keberanian, kekuatan, dan pengalaman harus berjalan cepat ketika akan bergerak menyelamatkan orang lain. Tim penyelamat tidak boleh lembek, apalagi penakut. Karena itu, menjadi tim penyelamat tidak gampang. Tak semudah membalikkan telapak tangan. ”Itu memang hak para pekerja di sini. Cuma, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Tak asal,” ucapnya.


Para atasan yang memilih Aris tentu tidak hanya main tunjuk agar dirinya menjadi bagian dari tim penyelamat. Tidak boleh sembarangan. Ada beberapa indikator dan syarat yang mesti dipenuhi. ”Yang jelas harus sehat jasmani dan rohani. Misalnya, jika sakit bengek, ya tidak bisa,” tuturnya.


Status tim penyelamat akan nyantol dengan sendirinya di pundak setelah menjadi anggota pemadam kebakaran. Menurut Aris, tim pemadam kebakaran belum tentu bisa menjadi tim penyelamat. Sementara itu, tim pemadam kebakaran dipastikan bisa menjadi tim penyelamat.


Aris adalah anggota tim penyelamat generasi pertama. Dia menjalani masa pendidikan di Ciracas pada 2007. Selama sebulan, pria kelahiran Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, tersebut tidak bertemu buah hati dan keluarga kecilnya. ”Nggak boleh pulang. Full di Ciracas,” imbuhnya.


Selama pendidikan, lanjut dia, materi yang didapat hanya 10 menit. Sisanya adalah praktik plus improvisasi di lapangan. Tim penyelamat dituntut untuk terus belajar di lapangan. Sebab, pembelajaran di lapangan justru sangat berarti. ”Pengalaman akan mengepul toh,” katanya.


Kedua bola mata pria yang berulang tahun setiap 24 Mei itu seolah menembus sekat-sekat masa lalunya. ”Dulu itu pernah harus menyelamatkan orang di gorong-gorong di PGC Cililitan, Jakarta Timur. Pas banjir ya waktu itu, saya masuk ke gorong-gorong dengan diikat pakai tali,” kenangnya.


Aris menceritakan, saat itu, dirinya harus menyelam mengarungi derasnya air di gorong-gorong. Nah, pada satu titik, dia harus berhenti. Maju tidak bisa, mundur apalagi. ”Maju nggak bisa karena ada sofa gede. Ada lemari juga. Lah, balik belakang tidak mungkin karena harus melawan arus deras,” ungkapnya dengan wajah serius.


Untung, sebelum menjalankan aksinya, Aris mengingatkan temannya tentang kode yang akan diberikan. ”Saya sudah bilang kepada teman yang di atas. Kalau saya narik tali sekali, itu berarti aman. Tapi, kalau narik sampai dua kali, itu berarti saya sedang bahaya,” paparnya. Tidak pikir panjang, Aris menarik tali yang terikat di perutnya dua kali. Beberapa detik kemudian, temannya bertindak menyelamatkan Aris.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore