
LARIS MANIS: Selama Ramadan, produksi cincau naik drastis hingga mencapai 1.000 persen.
JawaPos.com - Bulan Ramadan membawa berkah tersendiri bagi para pedagang makanan dan minuman di Kota Malang. Salah satunya dirasakan oleh produsen cincau, salah satu bahan minuman untuk berbuka puasa.
Hal itu terlihat dari jumlah peningkatan permintaan sejak awal bulan puasa ini. Akibatnya, cincau yang diproduksi pun mengalami kenaikan hingga 1.000 persen. "Hari-hari biasa hanya bisa jual 30 blek per hari. Sekarang bisa sampai 300 blek per hari," ujar pemilik usaha Mak Cao, Hariyati sewaktu ditemui di Jalan Zaenal Zakse Gang 1, Kota Malang, Hariyati ketika ditemui JawaPos.com, Kamis (24/5).
Sebagai informasi, blek merupakan toples berukuran 10 sentimeter x 10 sentimeter x 11 sentimeter. Toples ini dijadikan tempat menaruh cincau yang telah jadi. 1 blek berisi 25 kilogram cincau.
Hariyati mengatakan, 1 blek cincau tersebut dijualnya dengan harga Rp 27 ribu. Biasanya, cincau-cincau tersebut diambil oleh pedagang yang ada di pasar-pasar Kota Malang. Seperti Pasar Besar, Pasar Kebalen, Pasar Tawangmangu, Pasar Blimbing, Pasar Gadang, dan Pasar Dinoyo.
"Mereka ngambil sendiri kesini. Kalau yang lainnya ya diambil pedagang rumahan dan eceran," jelas wanita yang menjadi generasi ketiga dalam pembuatan cincau tersebut.
Untuk diketahui, nenek moyang Hariyati memang sudah menjadi produsen cincau sejak tahun 1986 silam. Resep tersebut didapatkannya dari kakeknya yang merupakan keturunan Tionghoa.
Anak ketiga dari tiga bersaudara itu menyampaikan, bahan dasar dari cincau tersebut, yakni daun cao, dia datangkan langsung dari Ponorogo. Biasanya dia mengambil hingga 6 ton daun cao. Selanjutnya dia produksi hingga menghasilkan cincau siap konsumsi.
Sebenarnya, lanjut dia, di Malang juga terdapat penjual daun cao, namun kualitasnya kurang bagus. "Di Malang ada, tapi nggak bagus (kualitasnya). Empuk dan nggak bisa diiris," terangnya. Cincau yang diproduksi Hariyati tersebut bisa tahan tiga sampai empat hari.
Dia mengungkapkan, meskipun permintaan Ramadan tahun ini meningkat, namun jumlahnya sedikit menurun dibanding Ramadan tahun lalu. "Rame tahun lalu. Ya, mungkin karena sekarang musim blewah juga," kata dia.
Dari sisi harga, juga ada kenaikan saat Ramadan ini. Jika sebelumnya dijual Rp 24 ribu per blek, kini naik menjadi Rp 27 ribu. Dia mengatakan, salah satu penyebabnya yakni karena bahan dasar yang juga naik, yakni tepung kanji. "Kanji naik banyak," keluhnya.
Sementara itu, dalam sehari, biasanya karyawan Haryati memulai produksi cincau sejak pukul 07.00 WIB hingga 19.00 WIB. "Kadang kalau rame bisa lembur sampe jam 2 pagi," imbuhnya.
Pembuatan cincau memerlukan waktu selama 7 jam. Prosesnya, pertama daun cincau direbus selama lima jam, setelah itu disaring air rebusannya. Hasil rebusan ini kemudian direbus kembali selama dua jam. Setelah itu air dimasak kembali, sembari diaduk dengan campuran tepung kanji yang telah dicairkan selama setengah jam. Setelah mendidih, cincau kemudian diletakkan diwadah dan siap didinginkan.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
