Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 23 Mei 2018 | 19.15 WIB

Pesantren Al Hidayah, Tempat Deradikalisasi Anak-Anak Teroris (1)

Khairul Ghazali, Pimpinan Pondok Pesantren Al Hidayah Deli Serdang Sumatera Utara sedang memberikan arahan kepada para santri yang merupakan anak mantan teroris pada Senin (21/5) - Image

Khairul Ghazali, Pimpinan Pondok Pesantren Al Hidayah Deli Serdang Sumatera Utara sedang memberikan arahan kepada para santri yang merupakan anak mantan teroris pada Senin (21/5)

Di Pesantren Al Hidayah, puluhan anak para pelaku tindak terorisme dibentengi dari pemahaman jihad yang salah. Rasa dendam dan bencinya dikikis. Jawa Pos pun berkesempatan menjadi pengajar dadakan bagi para santri.


KHAFIDLUL ULUM, Deli Serdang


SEBAGIAN di antara mereka terlihat mengantuk. Berkali-kali menguap. Sebagian yang lain asyik berbincang dengan sesama.


Ruang kelas di Pondok Pesantren Al Hidayah, Deli Serdang, tempat anak-anak berusia 13–14 tahun tersebut berada, memang dikelilingi kebun hijau. Tapi, di siang seterik itu, dalam suasana berpuasa, wajar mereka butuh sedikit pengusir rasa kantuk.


"Ayo kita tepuk semangat," ajak saya pada Senin lalu itu (21/5).


Satu kali beri semangat, prok. Dua kali beri semangat, prok, prok. Tiga kali beri semangat, prok, prok, prok. Empat kali beri semangat, prok, prok, prok, prok.


Mereka pun kembali bersemangat. Dan, itu otomatis menular kepada saya. Yang pada siang itu diberi kesempatan membagikan pengalaman kepada para santri. Di sela mereka menunggu pergantian mata pelajaran dalam ujian akhir semester.


***


Al Hidayah khusus mendidik anak-anak pelaku tindak terorisme. Menderadikalisasi mereka. Membentengi dari pemahaman jihad yang salah.


Dan, semua itu bermula saat sang pemimpin pondok, Khairul Gazali, masih mendekam dalam penjara. Di balik kerangkeng Lapas Medan, tempat dia menjalani hukuman enam tahun, narapidana kasus pembobolan bank dan penyerangan Polsek Hamparan Perak, Deli Serdang, itu sadar. Bahwa apa yang dia kerjakan selama ini salah.


Amaliah jihad yang dia laksanakan memakan banyak korban. Terutama orang-orang yang tidak bersalah.


"Ide mendirikan pesantren itu muncul waktu awal-awal di penjara," ucapnya saat ditemui di kantor pesantren pada Senin lalu (21/5).


Inspirasi tersebut datang setelah mengetahui banyak anak ikhwan jihadi yang putus sekolah karena tidak ada biaya. Banyak pula yang menjadi korban perundungan.


Kebetulan, saat itu Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) juga menggagas program deradikalisasi. Keinginan Ghazali mendirikan pesantren pun semakin kuat.


"Kalau dibiarkan, akan sangat berbahaya. Sebab, mereka pasti akan mewarisi semangat jihad yang salah. Terorisme akan terus berlanjut," terangnya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore