
TAHUNAN: Sejumlah pemuda mengarak gunungan durian dan buah-buahan lain sebelum diperebutkan warga yang hadir dalam bazar dan lelang durian di Desa Sumberasri, Kecamatan Nglegok. (Agus Muhaimin/Jawa Pos Radar Blitar)
Kabupaten Blitar juga memiliki durian berkualitas. Salah satunya, badugol. Varietas hasil okulasi tersebut digadang-gadang bakal jadi durian unggulan asli kabupaten di pesisir selatan Jawa Timur.
---
DERETAN pohon durian berdiri kukuh di sebuah lahan di area persawahan kawasan permukiman Gogolatar, Kelurahan Kaweron, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar.
Ada sekitar 50 pohon. Ketinggiannya 15–20 meter. Usia pohon itu tergolong masih muda. Yakni, sekitar lima tahun. Namun, pohon-pohon tersebut sudah beberapa kali dipanen.
Pohon-pohon itu terlihat subur. Daunnya tampak lebat dan hijau. Buahnya juga sudah bermunculan. Pohon tersebut diprediksi bisa dipanen tiga bulan lagi. ”Sebenarnya, pada September tahun lalu sudah panen. Tapi kurang maksimal. Panen berikutnya semoga lebih baik,” kata Sutomo, pemilik pohon-pohon itu, kepada Jawa Pos Radar Blitar yang diajak berkeliling ke kebunnya.
Bukan hanya Sutomo, pohon-pohon itu juga tengah dibudidayakan oleh warga di kawasan permukiman tersebut. Sebab, mereka mempunyai mimpi besar. Durian asli wilayah itu menjadi produk unggulan Indonesia.
Mimpi besar tersebut bukan tanpa alasan. Keunggulan durian itu sudah diakui. Sepuluh tahun silam, tepatnya pada Maret 2010, varietas tersebut dinobatkan sebagai raja durian oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur (Jatim) pada Festival Durian Se-Jatim di Malang.
Durian itu diberi nama badugol. Yakni, akronim Blitar Asli Durian Gogolantar. Varietas tersebut dikembangkan petani bernama Supriyanto yang tak lain adalah kakak Sutomo.
Pembibitan durian itu dimulai pada 1986. Awalnya, Supriyanto menanam 40 bibit. Namun, hanya satu bibit yang bertahan. Singkat cerita, pada 1987 Supriyanto mencari delapan jenis mata tunas dari pohon durian untuk diokulasi.
Dari delapan tunas itu, satu pohon durian hasil okulasi tersebut memiliki kualitas buah yang bagus. Daging buahnya tebal. Bijinya cemet (gepeng). Supriyanto lantas membudidayakannya. Nama badugol baru diberikan saat varietas itu akan mengikuti kontes hingga akhirnya menang.
Durian badugol yang dikembangkan Supriyanto memang memiliki sejumlah keunggulan. Selain rasanya, biji badugol dikenal gepeng sehingga menghasilkan daging buah yang tebal. Bentuk buahnya juga simetris dengan duri yang lembut.
Adi Nugroho, putra Supriyanto, berharap badugol bisa menjadi durian lokal unggulan asli Blitar. Bahkan, sepuluh tahun mendatang durian tersebut diperkirakan sudah bisa diproduksi secara masif. Khususnya oleh warga Blitar. ’’Apalagi, dulu pemerintah daerah pernah menyalurkan 15 ribu bibit ke masyarakat,’’ ucap anak pertama Supriyanto itu.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
