
MENGGODA: Satu porsi sate taichan di Sate Taichan Surabaya.
JawaPos.com - Sate yang kita kenal biasa disajikan dengan campuran bumbu kacang dan kecap. Warnanya kecokelatan dengan sedikit bekas gosong di beberapa bagian. Sate taichan muncul dengan tampilan putih dan sambal superpedas. Nah, meski penampilannya tidak lazim, sate varian baru yang mulai ngehit ini sukses menggoda warga Jakarta dan Surabaya.
---
RAHASIA dari tampilan sate taichan yang putih itu adalah tidak disertakannya kecap dalam resep. Dengan begitu, pembakaran tidak mengubah warna daging. Jadi, sebelum dibakar, daging ayam hanya diberi minyak sayur dan bumbu putih. Bumbu tersebut terdiri atas garam, penyedap, dan bumbu lain sesuai racikan penjual. Masing-masing tukang sate, tampaknya, punya bumbu rahasia.
Potongan ayam pada sate taichan mungkin terlihat lebih kecil daripada sate-sate pada umumnya. Tujuannya, memudahkan proses pembakaran. Dengan begitu, meski terlihat belum matang, setelah sekitar lima menit dibakar, sate sudah siap disantap.
Setelah dibakar, sate disajikan dengan bumbu putih, sambal (dengan bahan utama cabai rawit), dan jeruk nipis atau jeruk limau. Meski warnanya pucat, sensasi pedas, asin, dan asam berpadu nikmat begitu sate masuk ke mulut.
Bagi yang tidak tahan pedas, sebaiknya sampaikan permintaan khusus untuk menyisihkan sambalnya, tidak langsung dilumurkan di atas sate. Sebab, kebanyakan penjual sate taichan langsung menuangkan sambal di atas sate. Kini sate taichan makin banyak dan mudah ditemui di berbagai kota. Misalnya, Surabaya, Jakarta, Jogjakarta, dan Malang.
Ngomong-ngomong, kenapa dinamakan sate taichan? Itu ada ceritanya. Konon, di Senayan, ada pembeli asal Jepang yang request untuk diperbolehkan meracik dan membakar sendiri satenya. Dia hanya menggunakan garam dan jeruk nipis. Kecap maupun bumbu kacang yang ada di gerobak tidak disentuh. Jadilah sate taichan. Itu konon, sih.
Sate Taichan ”Goreng” Galaxy, Bekasi, Lokasi: Ruko Grand Glaxy City, Bekasi Selatan, Buka: Senin–Kamis pukul 11.00–22.00, Jumat–Minggu pukul 11.00–23.00, Harga: Rp 25 ribu (per porsi, 10 tusuk) belum termasuk pajak dan service charge.
’’Neng, satenya dibakar atau digoreng?’’ Lho, sate kokdigoreng? Ternyata, ’’goreng’’ diambil dari bahasa Sunda yang artinya ”jelek”. Seperti yang diungkapkan Haykal Hamdy, manajer Sate Taichan ”Goreng”. Dengan konsep restoran, outlet ini selalu diserbu pengunjung. Apalagi kalau weekend, harus sedia ekstratenaga dan kesabaran untuk menunggu pesanan datang. Hehehe. Tim Jawa Pos For Her sampai balik dua kali.
Menu utamanya adalah sate paha. Lalu, ada sate kulit, sate usus, dan taichan wings yang bisa disantap dengan lontong atau onigiri. Menurut Haykal, yang khas adalah sambal ekstrapedas yang 90 persen bahannya cabai rawit. ’’Sebelum dibakar, daging ayamnya direbus dengan bumbu-bumbu. Jadi, untuk customer yang tidak suka pedas, tanpa sambal pun sudah ada rasa,’’ kata Haykal. Baru buka September 2016, dalam waktu singkat namanya ngetop di kalangan pelanggan muda. Untuk sate paha saja, rata-rata setiap hari terjual 2.500–3.000 tusuk.
Sate Taichan Bang Ocit, Senayan, Lokasi: Jl Asia Afrika, Senayan, Jakarta Selatan, Buka: Pukul 21.00–02.00 WIB, Harga: Rp 20 ribu per 10 tusuk.
Di kawasan Senayan, berjejer banyak penjual sate taichan saat malam. Kalau diperhatikan, ada yang paling ramai pembeli dan antreannya bisa sampai berjam-jam. Dua panggangan besar tidak pernah berhenti mengepulkan asap. Lima karyawan bergantian mengipasi sate pesanan pembeli.
Harganya sama dengan yang lain, Rp 20 ribu untuk 10 tusuk (Rp 25 ribu plus lontong). Kata beberapa pembeli, kelebihan sate taichan Bang Ocit adalah potongan daging ayamnya yang lumayan besar. Setiap tusuknya sudah dilengkapi kulit ayam. Plus, pedasnya nampol. Oh ya, di sini yang dipakai sebagai kucuran adalah jeruk limau. Segeerrrr.
Sate Taichan Mas Bro, Lokasi: Jl Kemang Raya, Jakarta Selatan, Buka: Pukul 18.00–01.00 WIB, Harga: Rp 20 ribu/10 tusuk.
Sebagai salah satu kawasan hype di Jakarta, Kemang juga harus punya makanan yang sedang famous. Warung tenda sate taichan Mas Bro berada di sekitar La Codefin. Sate yang sudah matang disajikan bersama lontong sesuai permintaan pembeli. Lalu, Vino, sang penjual, menyiramkan sambal ke atasnya. Dari tampilan dan aromanya, sudah bisa ditebak kalau rasanya superpedas.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
