
ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS
Ketersinggungan seseorang tak cuma tergantung pada apa seseorang itu pas bokek atau pas tidak. Semakin tipis kantong semakin sensitif seseorang. Umpamanya begitu. Tidak!
---
SEBAGAI kaum Nasrani, Sastro mulai tersinggung pada wacana tentang boleh atau tidaknya mengucapkan selamat Natal. Bukan lantaran ia lagi bokek. Hari ini duitnya lumayan. Hari ini bisa saja ia beli tiket untuk maraton menonton film-film Indonesia yang kian membaik, walau sedang dibiarkan oleh negara untuk digempur dengan Spider-Man.
Kok cuma untuk hiburan buat diri sendiri dan istrinya, Jendro. Nraktir orang-orang separtai buat menyaksikan berbagai karya anak bangsa yang kini dapat penghargaan di dalam dan luar negeri pun Sastro mampu. Taruh kata film Yuni. Atau, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas.
Sastro kini tersinggung sebab sudah bertahun-tahun wacana boleh atau tidaknya mengucapkan selamat Natal itu terus-menerus berulang. Penyinggungan yang berulang-ulang setiap akhir tahun ternyata membuat saraf ketersinggungan menjadi menipis seperti kantong mahasiswi/wa akhir bulan.
Batin Sastro, ”Memangnya kami membutuhkan ucapan selamat tersebut? Diucapi selamat Natal atau tidak, kami ndak patheken. Kami akan tetap damai dalam iman kami.”
Ingin rasanya Sastro bergegas mengumumkan rasa ketersinggungannya dalam acara guyub muka RT/RW-nya. Sayangnya, masa karantinanya 10 hari usai bepergian ke Vatikan belum usai. Masih kurang lima hari lagi.
Suami Jendro itu bisa saja kabur. Pasti tidak akan dipenjara. Toh asalkan di persidangan sopan dan santun kepada Yang Mulia, Yang Mulia akan membebaskannya dari tuntutan hukum. Justru di sini susahnya. Sejak kecil Sastro tidak dididik dalam sopan santun yang klise. Membungkuk-bungkuk dan berjalan semi merangkak seperti Suster Ngesot bukanlah tipe sopan santun ajaran leluhur Sastro.
Sopan santun leluhur Sastro adalah sopan santun modern. Namakanlah demikian. Itulah berkata jujur walaupun pahit. Tak suka kopi, terus terang bilang tak suka kopi saat bertamu disuguhi kopi. Sebenarnya hal ini juga, katakan apa adanya dan bukan ada apanya, yang membuat hati Jendro terkiul-kiul sehingga bersedia dinikahi Jendro.
Bagaimana kalau di persidangan nanti Sastro gagal menunjukkan sopan santun mainstream? Yang dapat ia citrakan di hadapan Yang Mulia tata krama modern yang mungkin malah dianggap kurang ajar?
Lagi pula, belajar dari seekor beruang di Taman Peradilan, taman safari pribadi seorang temannya yang kaya raya, Sastro curiga bahwa tata krama di hadapan Yang Mulia bukanlah syarat satu-satunya. Agar divonis bebas oleh Yang Mulia, selain punya unggah-ungguh, terdakwa juga harus ”gudluking” dan ”gudrekening”. Nah, dua hal inilah yang Sastro tak yakin memilikinya.
Apalagi Sastro sadar diri. Dia bukan anggota DPR. Karantina di rumah pribadi jelas bukan haknya sebagai rakyat biasa, yang bukan presiden. Beruang di Taman Peradilan itu juga menegaskan bahwa yang kedudukannya sejajar dengan presiden sejatinya DPR sebagai lembaga, bukan anggota DPR orang per orang.
Ah, sudahlah, mumet merenunginya. Yang jelas, Sastro bukan anggota DPR. Sastro, karena itu, memilih tak kabur dari karantina untuk mengurung diri di rumah pribadinya sehingga masih bisa nyolong-nyolong mengungkapkan unek-unek di pertempuan RT/RW setempat yang tak jauh dari rumahnya.
***
Di kamar karantina, 10 hari, jangka waktu yang totalnya lebih lama dari terbang Indonesia–Vatikan pulang pergi plus tinggal di Vatikan-nya, Sastro paling banter cuma bisa telepon-teleponan dengan teman-temannya. Termasuk dengan Dirman, sohibnya yang akrab disapanya SpiDIRMAN alias Spider-Man…
”Wah, Spider-Man. Lagi sibuk, ya, kamu sekarang, ngurusi rakyat di sekitar erupsi gunung. Berguna buat sesama itu bagus,” Sastro sambil leyeh-leyeh di kasur dan bersiap sewaktu-waktu pintu diketuk untuk pemeriksaan medis.
”Walah, Sastro. Aku memang aparat daerah. Sekarang aku sibuk sekali. Tapi bukan sibuk mengurus rakyat. Aku lebih sibuk melayani pejabat-pejabat dari pusat yang datang dan pergi. Habis melayani si Fulan, terus datang si Lanfu, lalu si Fulanwan, belum lagi si Fulanwati… Jalanan sampai macet. Padahal mereka sudah tak kulewatkan daratan. Mereka kugendong dengan jaring laba-labaku. Heuheuheu…”
”O, begitu... Aku sudah lima hari ini dikurung dalam kamar.”
”Wah, Sastro, masih lima hari lagi kalau begitu, ya, karantinamu?”
”Betul. Eh, di lereng gunung itu apa betul ada polisi patwal yang melintas di TKP kecelakaan tanpa berhenti untuk menolong korban, untuk memproses hukum?”
”Betul, Tro. Tapi peristiwanya di tempat lain. Jauh. Aku, sih, nggak terlalu anu… Apa coba bedanya polisi itu dengan fotografer atau videografer yang lebih memilih merekam korban tanpa menolongnya?”
”Beda, Cuk. Videografer yang rekamannya viral itu kan bukan polisi? Tidak ada tugas untuk menolong korban?”
”Halah, Sastro, kita ini manusia. Manusia itu, polisi atau bukan, kan tugasnya sama: menolong sesama!”
”Ya, orang Indonesia sudah kurang minat menolong sesama mungkin karena sudah kedatangan Spider-Man si penolong…”
”Heuheuheu… Eh, Sastro, ngomong-ngomong selamat Hari Natal ya…” (*)
---
SUJIWO TEJO, Tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

Menurut Psikologi, Orang yang Tidak Pernah Mengunggah Foto Dirinya di Media Sosial Kerap Kali Memiliki 8 Sifat Mengejutkan Ini
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
Sarwendah Dikabarkan Hengkang dari Rumah Cilandak, Begini Komentar Pihak Ruben Onsu
Sah! Nathalie Holscher Resmi Dinikahi Aripat, Maskawinnya Berupa Uang Rp 2.272.026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Taruhan 3 Hektar Kebun Sawit Rp 420 Juta demi Final Spanyol vs Argentina Viral, Vincent jadi Saksi
2 Alasan Vicky Prasetyo Belum Menjenguk Fangfang yang Sudah Melahirkan Buah Hatinya
Komentar Pedas Zlatan Ibrahimovic di Piala Dunia 2026 Bikin Heboh, Ini Deretan Frasa Ikoniknya
Jeritan Puluhan Tenaga Kesehatan PPPK Paruh Waktu di Balai Kota DKI: Gaji Ke-13 Tak Cair
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
