Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 13 April 2020 | 02.15 WIB

Gunung Gugah dan Moyang Macan

Sujiwo Tejo - Image

Sujiwo Tejo

ENAM gunung yang selama ini tidur bangun kembali. Pasangan Raja-Ratu Singa Sastro-Jendro pastilah menyadari batas-batas bawaan para hewan kawulanya untuk sanggup memaknai itu semua. Riuhnya badai gunung yang datang semalam, biarlah mereka tafsirkan sendiri-sendiri. Mau ditafsirkan sebagai tatanan alami monggo. Sebagai tatanan khayali pun monggo.

Raja mengirim sinyal agar masing-masing hewan mengusut silsilah keluarganya. Adakah yang pada pohon silsilahnya terdapat kemampuan pikir tingkat filsuf. Misal ayahnya. Atau kakeknya. Terus naik lagi ke kumpinya, buyutnya, kelabnya canggahnya, warengnya, dan seterusnya. Termasuk para leluhur induknya di setiap generasi.

”Saya, wahai Paduka Raja. Moyang kami filsuf,” harimau angkat tangan, eh, angkat kaki depannya. ”Wareng kami kucing. Kesayangan periwayat hadis Abu Hurairah. Kalau bukan hewan perenung, mustahil sahabat Kanjeng Nabi itu begitu dekat dengan kucing.”

”Oooo, begitu. Hmmm ... Apa bukti kucing itu warengmu?”

”Ah, Paduka ngetes, ya? Kucing bukan cuma wareng kami. Beliau juga wareng kita. Maaf, wareng Paduka juga. Kita ini, menurut anak-anak SD yang pernah wisata hutan ke sini, dalam taksonomi masuk famili kucing.”

”Buktinya?” Sastro bertanya lagi. Jendro mencubitnya lembut karena tahu suaminya hanya menguji.

Harimau mengaum. ”Bukti bahwa kita famili kucing, anjing takut kucing. Anjing sanggup menerawang, jauh di lubuk kucing mendekam singa.”

Waduh! Raja singa berlompatan kegirangan. Ia bangga. Ia terbahak-bahak.

Harimau kemudian mencoba memaknai peristiwa alam, peristiwa bangun kembalinya enam gunung dari bobonya justru di tengah-tengah pandemi wabah. Menurutnya tatanan alami tak akan pernah runtuh. Tatanan itu tak bertumpu pada fondasi kepercayaan. Itu sebabnya!

”Besok pagi cheetah tidak akan menjadi gajah, jaguar tidak akan menjadi badak, walaupun mulai petang nanti seluruh hewan akan berhenti memercayai itu,” tutur harimau.

”Kalau tatanan khayali? Bagaimana, coba?” Ratu Jendro tak tahan ikutan nimbrung.

”Ratu, mohon maaf, tatanan khayali sangatlah rapuh. Seperti jomblo. Ia selalu menghadapi risiko roboh. Kenapa? Karena bergantung pada mitos bahwa jomblo itu hebat. Begitu mitos sudah digerogoti oleh ilmu pengetahuan atau oleh yang lain-lain, tatanan khayali terancam...”

”Harimau!” potong ratu. ”Kamu mau bilang bahwa Gunung Tangkuban Perahu yang sudah dibuktikan terbentuk oleh proses geologi semesta menggerogoti kepercayaan lama bahwa gunung itu adalah perahu yang ditendang Sangkuriang karena jengkel ke ibunya, Dayang Sumbi?”

”Ampun, Kanjeng Ratu. Bukan saya yang bilang.”

Raja singa mengambil alih pembicaraan. Kini pertanyaan ia alihkan kepada macan tutul salju. Eh, bertanya atau ngetes? Entahlah.

”Tul, Tul ... Betulkah kamu peka? Kalau bagi kalangan rakyat, data-data tentang jumlah warga kita yang sudah terpapar wabah masuk tatanan apa? Alami, seperti gunung gugah, atau khayali?”

”Wah, ampun, Paduka. Ini bukan pertanyaan. Ini lecutan. ’Tul? Raja mencambuk kami untuk berburu lebih jauh dan semakin menjauh lagi menuju garis di luar kejauhan, nun di luar batas cakrawala tempat kita berharap dapat menemukan buruan kami, yaitu jawaban.”

”Ngomong apa, sih?” bola mata ratu singa memandang ke atas, berputar-putar, dan mulutnya ngowoh.

”Ssssttt...Ratu, heninglah di Jumat Agung ini,” raja berbisik. ”Tul, Tul, betulkah kamu tahu jalan menuju jawaban itu?”

”Ke timur, Paduka. Di sana ada bokor kencana, bokor emas, dan paidon, tempat meludah. Pesan kucing, leluhur kita, seluruh hinaan rakyat ke Paduka tempatkan di bokor kencana. Seluruh puja dan puji mereka, Paduka buang ke paidon.”

Photo






*) Sujiwo Tejo tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore