
Photo
JawaPos.com- Angka tambahan kasus positif Covid-19 harian, sejauh ini masih mengkhawatirkan. Tidak terkecuali di wilayah Kabupaten Gresik. Dalam beberapa pekan terakhir, tambahan kasus positif mencapai ratusan orang. Begitu juga dengan kasus meninggal. Kabar baiknya, belakangan tren kesembuhan juga terus naik.
Berdasarkan data Satgas Pemprov Jatim per Senin (26/7), total jumlah kasus positif di Kota Pudak mencapai 9.783 orang dengan jumlah sembuh 6.362 orang. Adapun jumlah kasus aktif atau pasien yang masih menjalani perawatan ada sebanyak 2.905 orang dan meninggal dunia 516 orang.
Untuk dapat menekan persebaran dan penanganan kasus Covid-19 tersebut, Pemkab Gresik bersama jajaran terkait sudah melakukan banyak langkah positif. Di penanganan hilir, misalnya. Terus berupaya menambah bed occupancy ratio (BOR) di rumah sakit, meningkatkan standar pelayanan puskemas 24 jam, menaikkan pondok rehabilitasi Stadion Gejos sebagai rumah sakit lapangan, hingga membentuk relawan-relawan sosial.
Namun, penanganan di wilayah hilir tersebut, tentu membutuhkan dukungan di wilayah pencegahan dan penanganan wilayah hulu. Terutama keterlibatan di tingkat mikro. Yakni, RT, RW, dan perangkat pemerintahan desa. Diakui atau tidak, dari sebanyak 356 desa/kelurahan se-Kabupaten Gresik, belum semua desa/kelurahan bergerak proaktif.
Fakta itupun membuat Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani beberapa kali harus memanggil dan mengumpulkan para kepala desa/lurah. Mereka diminta terus berinovasi. Bersama-sama mencegah dan menangani Covid-19 di wilayahnya masing-masing. Jika di lingkungan mikro abai, maka akan percuma program penanganan di wilayah hilir.
Nah, satu di antara kecamatan yang terbilang sudah sangat baik sistem penanganan Covid-19 adalah desa-desa di wilayah Kecamatan Panceng. Di kawasan pesisir Gresik utara itu, sistem tanggap darurat dan aksi kemanusiaan sudah berjalan baik. Koordinasi dan pembagian kerja antar asosiasi kepala desa (AKD) setempat dengan Satgas Kecamatan Panceng layak menjadi contoh.
Menurut Sonhaji, ketua AKD Kecamatan Panceng, di wilayahnya sempat ada dua desa yang kondisinya sangat mengkhawatirkan. Banyak warga yang terkonfirmasi positif Covid-19. Yakni, Desa Doudo dan Wotan. Saat itu, dua desa tersebut tebilang zona merah-hitam. ‘’Paparan kemungkinan dari klaster hajatan. Yang positif banyak sekali. Tapi tidak sampai 50 persen,’’ ujarnya kepada Jawa Pos.
Melihat fakta itu, lanjut dia, para Kades pun cepat berkoordinasi. Di bawah fasilitasi AKD Kecamatan Panceng, pihaknya membentuk tim khusus aksi kemanusiaan. Tim itu terdiri atas berbagai gugus tugas. Mulai layanan call center 24 jam, penyediaan logistik, hingga tim sosialisasi. ‘’Tim itu bergerak sesuai dengan tugas masing-masing. Kami melibatkan RT-RW desa setempat untuk bergerak dalam tim aksi kemanusiaan ini,’’ papar Sonhaji.
Nah, tim aksi kemanusiaan itulah yang bergerak untuk melayani warga. Mulai memberikan bantuan sembako, memberikan obat-obatan dan vitamin, hingga merujuk kalau ada warga yang harus mendapatkan layanan ke puskemas atau rumah sakit. Ketika ada warga sakit, tim mengetahui mana yang cukup isolasi mandiri (isoman) dan mana yang mesti dirujuk ke rumah sakit.
‘’Kami berkoordinasi dengan satgas kecamatan, baik Pak Camat, Dandramil, maupun Kapolsek. Terus begitu ketika ada warga yang sedang bermasalah,’’ ujarnya.
Dia menambahkan, memang tidak mudah untuk membangun kesadaran masyarakat desa. Misalnya, kalau sedang positif Covid-19 maka harus di rumah saja dan kepatuhan akan protokol kesehatan. Namun, pihaknya juga melibatkan tokoh-tokoh masyarakat setempat untuk turut mengedukasi warga. ‘’Bahwa, persoalan seperti sekarang ini memang tidak bisa diselesaikan sendiri-sendiri. Mesti bergandengan tangan, bersama-sama,’’ ujar Kades Sirowiti itu.
Berkat kesigapan semua pihak itu, lanjut Sonhaji, paparan di wilayah Kecamatan Panceng relatif terkendali. Termasuk di Desa Doudo maupun Wotan. ‘’Alhamdulillah, sekarang sudah hijau. Namun, kami terus mengingatkan untuk selalu disiplin protokol kesehatan,’’ katanya.
Sebagai antisipasi, sambung Sonhaji, pihaknya juga sudah berhasil membeli sebanyak 17 tabung oksigen untuk kebutuhan warga. Tabung-tabung itu didistribusikan ke warga yang sangat membutuhkan. Ada tim tersendiri yang mengirim. Termasuk pengisiannya. Anggaran yang dipakai berasal dari 8 persen dana desa. ‘’Pada saat seperti sekarang, kebutuhan oksigen kan tinggi. Karena itu, kami sudah mempersiapkan mandiri,’’ tandasnya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
