Peringatan dini cuaca ekstrem ini menjadi atensi berbagai pihak. Termasuk Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) untuk menyiapkan langkah-langkah antisipasi.
Kepala DSDABM Kota Surabaya, Syamsul Hariadi mengatakan bahwa untuk mewaspadai hujan lebat dan banjir, pihaknya melakukan normalisasi box culvert hingga menyiagakan 315 pompa air di 77 lokasi.
"Pompa-pompa kami bisa menyedot 513 meter kubik air per detik untuk dibuang ke laut. Kalaupun ada genangan yang tidak bisa dihindari tidak akan lama," ujar Syamsul dalam konferensi pers di Surabaya, Jumat (3/1).
Sebab menurut Standar Operasional (SOP) yang DSDABM Kota Surabaya, ketika sudah ada tanda-tanda hujan seperti mendung, rumah pompa akan langsung dinyalakan. Dengan begitu, pompa air bisa langsung bekerja saat hujan tiba.
"Musuhnya pompa itu sampah, ketika terbelit sampah tidak akan bisa memutar. Itu terjadi di beberapa lokasi rumah pompa kami seperti di Kalisari, dua dari lima pompa harus berhenti beroperasi karena sampah," imbuhnya.
Untuk memaksimalkan penanganan banjir di Surabaya, Syamsul mengimbau masyarakat untuk tidak membuang sampah di saluran. Sebab, tindakan tersebut dapat menyebabkan kerusakan pada pompa air.
Selain banjir akibat hujan lebat, banjir rob di wilayah pesisir Surabaya juga tak bisa dianggap enteng. Oleh karena itu, DSDABM menyiagakan pintu air agar ketika pasang, air laut tidak sampai masuk ke pemukiman.
"Ketika hujan datang, air laut pasang, banjir rob bisa tertanggulangi. Semua wilayah di Surabaya sudah ada pintu air, kecuali tiga kawasan yaitu Kalianak, Kali Sememi, dan Kali Krembangan yang masih kami persiapkan," tukas Syamsul.
Sebelumnya, Kepala BMKG Juanda, Taufiq Hermawan mengatakan bahwa saat ini, wilayah Jawa Timur, termasuk Kota Surabaya memasuki puncak musim hujan. Selama 10 hari ke depan, cuaca ekstrem diprediksi meningkat.
Yakni selama 2-10 Januari 2025. Peningkatan cuaca ekstrem ini berpotensi memicu bencana hidrometeorologi. Mulai dari hujan lebat disertai petir, banjir, angin puting beliung, banjir rob, hingga hujan es.
"Jadi Desember, Januari dan Februari adalah puncak musim hujan. Desember sudah kita lewati, Januari akan kita jalani dan nantinya hingga Februari. Peringatan dini cuaca ekstrem masih terus akan kami update," tukasnya.