
Sejumlah anak panti asuhan berjemur saat isolasi mandiri di Panti Asuhan St Fransiskus Asisi, Depok, Jawa Barat, Jumat (22/1/2021). Sebanyak 40 anak panti asuhan ST Fransiskus Asisi reaktif COVID-19 berdasarkan hasil tes antigen dan seorang pengasuh terko
JawaPos.com – Kasus Covid-19 terus menggemuk di Kota Pahlawan. Bukan hanya orang dewasa, anak-anak pun menjadi sasaran. Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Kependudukan (DP3AK) Jawa Timur mencatat sebanyak 19.978 anak terpapar Covid-19 per 18 Juli lalu.
Isolasi mandiri (isoman) menjadi pilihan dalam kondisi seperti saat ini, di tengah ketersediaan bed di rumah sakit yang kosong. Namun, ada beberapa panduan yang perlu ditaati orang tua saat anak menjalani isoman. Dokter Dominicus Husada SpAK mengatakan, kebutuhan anak harus dicukupi. Kemudian, penting juga dipahami bagaimana supaya anak tidak menjadi penular ke orang lain. ’’Dan, pencegahan supaya anak tidak semakin ditulari,” ujarnya, Senin (26/7).
Berdasar buku Diary Panduan Isolasi Mandiri Anak, lanjut dia, ada beberapa syarat anak isoman. Antara lain, anak tidak bergejala (asimptomatik), anak aktif bisa tetap makan dan minum, pemeriksaan suhu tubuh dua kali sehari (pagi dan malam), lingkungan rumah atau kamar memiliki ventilasi yang baik, serta anak bergejala ringan.
Untuk gejala ringan, anak bisa terlihat seperti batuk, pilek, demam, diare, muntah, dan ruam. Dominicus menuturkan, selama anak isoman, orang tua tetap bisa mengasuh. Mendampingi, tapi tetap mengenakan masker. Orang tua atau pengasuh disarankan yang masuk kategori risiko rendah terhadap gejala berat Covid-19.
Konsultan infeksi anak Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga/RSUD dr Soetomo itu menyatakan, inkubasi virus antara anak dan orang dewasa sama (3–5 hari). Jumlah virus dan lamanya dalam tubuh pun sama (10–14 hari). Yang relatif tidak sama ialah potensi penularan. ’’Anak relatif lebih sedikit menularkan ke orang lain,’’ terangnya.
Lantas, berapa lama durasi isoman anak? Anggota tim vaksin Covid-19 Unair itu mengungkapkan, jika secara kaku, ya sampai anak dinyatakan negatif oleh hasil swab test. Nah, apabila merujuk pedoman WHO, isoman untuk OTG atau gejala ringan cukup dua minggu. Biasanya, setelah gejala menghilang, ditambah hitungan tiga hari.
Kemudian, pemberian obat lebih bersifat suplemen. Dia menyarankan agar anak mendapatkan asupan vitamin dan mineral. Misalnya, vitamin C, D, zinc, dan probiotik. ’’Berapa dosisnya, ya standar saja. Saya bukan aliran dosis tinggi. Sebab, untuk vitamin C dosis lebihnya akan dibuang juga lewat urine,” imbuh Dominicus.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
