
EMPATI: Samsul Arif menggendong SAH. Ketua Umum LPAI Seto Mulyadi atau Kak Seto mengunjungi SAH di rumahnya kemarin (24/9).
JawaPos.com – Kondisi penurunan penglihatan mata kanan SAH yang diduga korban perundungan mendapat empati dari Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi. Kemarin pria yang akrab disapa Kak Seto itu menjenguk SAH di rumahnya di Desa Randupadangan, Menganti.
Setelah menjenguk SAH, Kak Seto menyampaikan kondisi psikologis bocah 8 tahun itu. Menurut dia, SAH perlu pemulihan psikologis. Sebab, kondisi psikologisnya terguncang. Namun, saat ini kondisinya mulai membaik serta cukup komunikatif dan tampak ceria.
”Saya tadi mengajak berdialog, bernyanyi, dan spontan sekali. Dia memang anak yang cerdas dan tampak ceria. Responsnya cukup positif.
Artinya, akrab, komunikatif sekali. Dia juga mau foto bersama, nyanyi bersama,” ujar Kak Seto.
Menurut Kak Seto, kasus SAH menjadi pijakan bagi semua pihak bahwa anak-anak harus dilindungi dari segala tindak kekerasan. Baik secara verbal maupun nonverbal.
”Dan kalau selama ini terjadi beberapa kekerasan, ini harus dibebaskan untuk kembali mendapatkan suasana yang gembira, baik bersama keluarga maupun di sekolah barunya,” tuturnya.
Dalam pertemuan tersebut, Kak Seto sempat menanyakan cita-cita SAH. SAH ingin menjadi polwan. ”Jika semangatnya untuk jadi polisi tinggi sekali, untuk hal-hal di luar ini, jangan sampai anak kemudian jadi sasaran di-bully dan sebagainya,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Komnas Perlindungan Anak Jawa Timur Febri Kurniawan menghormati proses hukum yang sedang berjalan. Meski demikian, kondisi mata kanan korban hingga kini belum digambarkan dengan jelas.
”Jika penurunan penglihatan bukan karena kekerasan atau benda, lalu penyebabnya apa?” ucapnya.
Mata kanan SAH kembali diperiksa pada Jumat (22/9) lalu. Febri mendapatkan titik terang mengenai kondisi mata korban. Namun, pihaknya belum bisa menyampaikannya. ”Tapi, sementara ini kami masih mengumpulkan bukti-bukti baru,” ucapnya.
Pada bagian lain, polisi belum mendapatkan titik terang untuk mengungkap kasus dugaan kekerasan yang dialami SAH. Hal itu disebabkan minimnya alat bukti serta keterangan dari saksi ahli yang menyebutkan tidak ada bukti kekerasan yang dialami korban.
Baca Juga: Resistansi Massa Daerah Pinggiran
Kasatreskrim Polres Gresik AKP Aldhino Prima Wirdhan mengatakan, saksi ahli dari RS Cahaya Giri, tempat kali pertama korban memeriksakan matanya, menjelaskan bahwa ada gangguan penglihatan pada mata kanan SAH. Itu bukan disebabkan luka tusuk ataupun kekerasan.
Kini pihaknya sedang menunggu hasil uji labfor barang bukti lainnya. Yaitu, baju korban yang digunakan saat peristiwa terjadi. ”Dari keterangan pihak keluarga, ada bercak darah pada baju. Sehingga perlu melakukan uji laboratorium forensik untuk memastikan hal tersebut,” ungkapnya. (son/yog/c6/aph)

Bocor! 3 Alasan Krusial Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Nomor Dua Jadi Kunci Utama
Viral Penonton Konser F4 di Jakarta Kena Campak Sebelumnya, Kemenkes Lakukan Pengecekan
Soal Kabar Kepala BGN Dadan Hindayana Ditangkap, Dasco: Serahkan ke Aparat Hukum
Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Kunker Luar Negeri Presiden Dikritik, Teddy Singgung Dino Patti Djalal yang hanya 3 Bulan jadi Wamenlu
Kejagung Konfirmasi Penggeledahan Kantor BGN Usai Pencopotan Dadan Hindayana
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Wariskan 39 Gol yang Sulit Dilupakan
Profil Sony Sanjaya, Eks Jenderal Polri yang Dicopot Sebagai Wakil Kepala BGN, Sempat Diterpa Isu OTT
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
