
DIPENGARUHI JENIS TANAH: Jalan Babatan Unesa yang bergelombang kemarin. Pengendara harus berhati-hati saat melintasinya. Pekerja dari dinas pekerjaan umum menyelesaikan perbaikan jalan di Wiyung kemarin (foto bawah). (Guslan Gumilang/Jawa Pos)
JawaPos.com – Saat melintasi jalan di Surabaya Barat, pengguna jalan sering merasakan permukaan jalan yang tak rata atau bergelombang. Selain imbas beban tonase kendaraan yang setiap hari melintasi kawasan tersebut, jalan yang tak rata atau bergelombang itu disebabkan karakteristik tanah.
Wilayah Surabaya Barat memiliki jenis tanah yang berbeda dari wilayah lain. Yakni, kondisi kontur tanah yang cenderung lunak. Hal itu yang mengakibatkan sebagian besar jalan bergelombang. ”Di sana jenis tanahnya expansive soil,” ucap ahli struktur bangunan dan jalan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) R. Buyung Anugraha Affandhie kemarin (20/8).
Buyung menjelaskan, karakteristik tanah tersebut sebenarnya memiliki keunggulan dan ciri tersendiri. Saat musim kemarau, kekuatan atau kepadatan tanahnya sangat tinggi. Artinya, konstruksi tanah akan kuat untuk menyangga beban kendaraan yang melintas. Hanya, kondisi berbeda terjadi saat musim hujan datang.
Saat itu, lanjut dia, tanah akan basah. Ketika kadar air melampaui batas normal, daya dukung tanah akan rendah. Dengan demikian, secara fisik, konstruksi tanah bergerak atau mengembang. Nah, ketika sudah berubah posisi, tanah tidak bisa kembali seperti semula.
Seiring berjalannya waktu, ditambah dengan jalan tersebut tetap dilalui kendaraan, jalan akan bergelombang di permukaan. Kalau sudah seperti itu, bisa diartikan bahwa fondasi jalan rusak.
Dosen Teknik Infrastruktur Sipil Fakultas Vokasi ITS itu menambahkan, jalan bergelombang memang disebabkan faktor kendaraan yang melintas. Namun, untuk Surabaya Barat, faktor utamanya adalah jenis tanah.
Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi hal tersebut adalah memilih konstruksi jalan yang tepat. Misalnya, jalan dibuat dari beton atau rigid pavement. Hanya, itu memerlukan biaya yang lebih besar daripada aspal.
Cara kedua, area yang dibuat jalan terlebih dulu digali sekitar 1,5 meter. Kemudian, bagian bawah dialasi membran dan diuruk dengan tanah dasar yang baru seperti sertu. Setelah itu, atasnya diaspal seperti pada umumnya.
Lapisan membran itu berfungsi menyekat antara tanah asli dan tanah urukan yang baru. Termasuk mencegah air yang merembes dari tanah asal ke sertu tersebut. ”Karena itu, Jalan Mayjen Sungkono dibangun dengan menggunakan konstruksi beton,” katanya.
”Biasanya, jalan bergelombang itu terjadi bukan saat musim hujan. Namun, ketika pertengahan atau menjelang kemarau. Saat itu air sudah merasuk pada lapisan tanah. Nah, ini yang membuat konstruksi tanah mengembang dan akhirnya bergelombang,” sambungnya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
