
Samsudin Adlawi
MUNGKINKAH Indonesia Raya berubah menjadi negara Rimba Raya? Sangat mungkin. Gejala-gejala menuju ke arah sana mulai tampak. Satu per satu habitus kerimbaan itu mulai terlihat jelas. Setiap hari berseliweran di depan mata. Terus-menerus memukuli gendang telinga. Menyesaki tabung kaca dan media sosial (medsos).
Dalam kisah fabel disebutkan, harimau adalah raja rimba. Versi lain menyebutkan, macanlah penguasa rimba. Bahkan, raja hutan Amerika bukan harimau atau macan. Melainkan jaguar. Yang pasti, ketiganya masih satu rumpun: keluarga kucing besar.
Mereka sangat ditakuti binatang lainnya. Bukan karena kepandaiannya. Sebab, soal kecerdikan dan kepandaian, mereka masih kalah oleh kancil. Penghuni hutan takut karena keluarga kucing besar itu punya kuku-kuku dan taring yang sangat tajam. Kuku dan taring tersebut dipakai untuk mengintimidasi. Menggertak lawan. Selain untuk mencabik-cabik lawan dan mangsanya. Sesuai fungsi utamanya.
Perilaku menakut-nakuti pihak lain seperti itu sekarang lagi ngetren di negeri ini. Menjadi semacam habit baru. Di semua lini kehidupan. Terutama dilakukan mereka yang sedang (merasa) punya kuasa. Belum lama berselang kita dihenyakkan kabar meninggalnya tiga mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta. Mereka meninggal dalam kegiatan pendidikan dasar (diksar) Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Unisi UII. Diduga, mereka menjadi korban tindak kekerasan dalam kegiatan yang dilaksanakan di lereng Gunung Lawu, Karanganyar, Jawa Tengah, 13–20 Januari lalu itu. Aksi kekerasan tersebut diduga dilakukan para senior ketiga korban.
Tragedi semacam itu sudah sering terjadi. Sebelumnya, masih pada Januari tahun ini, seorang taruna Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta bernama Amirullah Adityas Putra juga tewas dianiaya seniornya. Rangkaian aksi kekerasan berbuntut hilangnya nyawa mahasiswa junior oleh seniornya tersebut sangat disayangkan. Seharusnya mahasiswa yang hidup dalam lingkungan intelektual menjadi kancil. Bukan malah berperilaku seperti harimau. Sebagai senior seharusnya mereka menggunakan logika dalam bertindak. Bukannya mengeluarkan ”kuku-kuku” dan ”taringnya” yang tajam untuk mengintimidasi junior yang sedang dididik dan dilatihnya.
Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, kondisinya lebih mengkhawatirkan. Bukan hanya fenomena saling intimidasi yang berkembang, tapi juga saling lapor. Si A melaporkan si B, lalu si B balik melaporkan si A. Bahkan, si B yang tidak terima mencari bolo (teman) si C dan D ketika melaporkan balik si A.
Perilaku saling lapor itu tidak hanya dilakukan para tokoh. Rakyat biasa yang tidak punya ”kuku dan taring” sekarang ikut-ikutan saling lapor. Dengan hanya gara-gara ujaran kebencian di medsos atau media nirkabel lainnya. Seperti biasa, polisi menerima setiap laporan yang masuk. Maka, kini polisi tidak hanya sibuk mengatasi kriminalitas dan narkoba yang terus meningkat. Mereka juga disibukkan meladeni para pihak yang saling lapor. Seperti diketahui, polisi sudah menerima sepuluhan laporan dari beberapa pihak untuk seorang Habib Rizieq Shihab saja.
Mengeluarkan ”kuku dan taring” tidak selamanya jelek. Khusus bagi pemerintah, jika ”kuku dan taringnya” dilepaskan pada tempatnya, sepatutnya kita beri standing applaus. Tanpa diminta sekalipun. Misalnya, ”kuku dan taring” itu dikeluarkan demi tegaknya kebenaran dan menjaga stabilitas kehidupan berbangsa. Namun, beda halnya jika ”kuku dan taring” dikeluarkan untuk keuntungan pribadi dan kelompok. Rakyat harus berteriak lantang terhadap tindakan najis seperti itu.
Kita ambil contoh, seorang oknum jaksa atau polisi menakut-nakuti terperiksa dengan ancaman akan menersangkakannya jika tidak memberinya upeti. Atau penegak hukum yang terus mencari-cari kesalahan seseorang hanya karena yang bersangkutan sudah masuk target. Sekalipun minim alat bukti, dengan berbagai cara yang bersangkutan tetap ditersangkakan. Lalu oleh jaksa secara lajak kasusnya dipaksakan masuk ke persidangan. Kalau terus dibiarkan, tindakan-tindakan mengeluarkan ”kuku dan taring” yang dilakukan masyarakat hingga aparat itu akan mempercepat Indonesia Raya menjadi Rimba Raya.
Suatu negara, yang konstitusinya dikalahkan praktik-praktik hukum rimba, yang kuat karena punya kuasa dan harta akan terus menindas yang lemah. Tentunya, sebagai bangsa kita tidak menghendaki hal itu terjadi. Kecuali yang punya kuasa tertinggi di negara ini sengaja mendiamkannya. (*)
*Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Bali United FC vs Sabah FC di Dewata Challenge Series 2026: Serdadu Tridatu Berpesta!
Pegawai Diskominfo Kukar Bakar Kantor Usai Wajah Dijadikan Stiker WA
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Eks Dewas KPK Albertina Ho Tak Lolos Seleksi CHA di KY, TII Bandingkan dengan Politikus Golkar Ini
Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
3 Fakta Gonzalo Ritacco, Pemain Incaran Persebaya Surabaya yang Pernah Lawan Son Heung-min
HUT ke-81 RI, Naik Suroboyo Bus dan Wira Wiri Cuma Rp81, Berlaku Sepekan
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Everton vs Newcastle di Stadion Scottish Gas Murrayfield
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
