Presiden FIA, Mohammed Ben Sulayem (Dok. REUTERS/Thaier Al-Sudani)
JawaPos.com - Drama antara para pembalap F1 dan Presiden FIA soal larangan berkata kasar tampaknya mulai menemukan titik terang. Menjelang Grand Prix Miami akhir pekan ini, Mohammed Ben Sulayem memposting di Instagram soal rencana untuk melakukan perbaikan. Ia menyebut adanya masukan yang konstruktif dari para pembalap di berbagai ajang motorsport.
Dalam unggahannya, Ben Sulayem menyatakan sedang mempertimbangkan untuk memperbaiki dokumen yang mengatur hukuman atas sejumlah pelanggaran, termasuk kekerasan fisik, pernyataan politik, hingga kata-kata kasar.
Dilansir dari The Guardian, Ben Sulayem memang sudah berupaya keras untuk mengendalikan penggunaan kata-kata kasar di paddock sejak tahun lalu. Aturannya bahkan diperketat untuk musim 2025, dengan ancaman denda lebih besar dan skorsing bagi pelanggar berulang.
Namun, langkah itu langsung menuai kontroversi sejak awal. Banyak pihak menilai kebijakan itu terlalu kaku dan tidak sesuai dengan karakter kompetitif balap.
"Manusia yang membuat aturan, dan manusia juga bisa memperbaiki aturan," tulis Ben Sulayem di Instagram.
"Prinsip perbaikan berkelanjutan adalah hal yang saya yakini dan menjadi inti dari semua yang kami lakukan di FIA," tambahnya.
Pernyataan itu disambut sebagai tanda membaiknya hubungan antara FIA dan para pembalap. Apalagi, banyak pembalap yang menyerukan adanya pendekatan yang lebih bijak dalam menilai konteks makian di lintasan.
Sebagian pembalap berargumen bahwa umpatan kadang muncul karena frustasi saat balapan, atau ketika pembalap non-Inggris tidak sadar arti kasar dari suatu kata. Ada juga yang menyumpahi mobilnya sendiri, bukan orang lain.
"Kita harus membedakan antara olahraga kita, motorsport, dan musik rap. Kita bukan rapper, tahu kan?" kata Ben Sulayem saat pertama kali mengumumkan aturan ini tahun lalu.
Komentar itu mengundang reaksi keras dari Lewis Hamilton. Juara dunia tujuh kali itu menyebut pernyataan Ben Sulayem memiliki unsur rasial.
Sementara Max Verstappen menyoroti perbedaan perlakuan media dalam olahraga lain. Ia menyebut bahwa atlet di cabang olahraga lain juga sering melontarkan kata kasar saat emosional, hanya saja tak direkam.
"Menurut saya ini urusan broadcaster, bukan pembalap," kata Verstappen tahun lalu.
Ia juga menyebut bahwa kata kasar pembalap justru kerap ditayangkan demi hiburan. Verstappen menyarankan agar siaran balapan menyaring kata-kata kasar, bukan menghukum pembalap.
"Saya rasa semuanya bermula dari tidak menyiarkannya," sebutnya.

BGN Terbitkan SE Nomor 12 Tahun 2026, Layanan MBG Dihentikan Sementara saat Hari Libur
TVRI Hilang? Begini Cara Memunculkan Sinyal TVRI untuk Nonton Piala Dunia 2026 Gratis
Bocor ke Publik! 2 Alasan Krusial Ramadhan Sananta Mau Gabung ke Persebaya Surabaya
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Sudah Masuk KBLI, Konten Kreator Didorong Punya NIB untuk Perkuat Legalitas
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Pembagian Grup Liga 2 2026/2027 Berubah, PSIS Semarang dan Persiku Kudus Geser ke Wilayah Barat
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
PP Muhammadiyah Minta MBG Dihentikan Sementara, Sebut Mudaratnya Lebih Banyak
Momen Republik Ceko dan Afrika Selatan Harus Puas Bermain Imbang 1-1
