
MIAMI GARDENS, FLORIDA - APRIL 03: Bianca Andreescu of Canada is consoled by her coach, Isade Juneau, after retiring in her match against Ashleigh Barty of Australia during the final of the Miami Open at Hard Rock Stadium on April 03, 2021 in Miami Garden
JawaPos.com - Pukulan forehand keras petenis putri Ashleigh Barty ke pojok kanan lapangan masih bisa dikembalikan lawannya, Bianca Andreescu.
Tetapi, setelah itu petenis Kanada tersebut langsung terjatuh mengerang kesakitan dan memegangi punggung. Beberapa saat kemudian Andreescu memang masih bisa bangun dan melanjutkan pertandingan.
Namun, sejatinya final Miami Open tunggal putri tersebut sudah berakhir di titik itu.
Andreescu terjatuh di pertengahan set kedua saat Barty unggul 2-0. Setelah melanjutkan dua game dengan menahan sakit, Andreescu akhirnya mundur dari pertandingan tersebut. Barty pun dipastikan mempertahankan gelar ajang itu dengan kemenangan 6-3, 4-0.
Seusai pertandingan, Andreescu menyatakan bahwa pelatihnya yang memaksa dia untuk mundur dari final demi menghindari cedera yang lebih parah. Juara grand slam Amerika Serikat (AS) Terbuka 2019 tersebut menuturkan hal itu dengan menitikkan air mata.
”Aku sebenarnya tidak mau mundur,” ucap Andreescu dilansir Associated Press kemarin (4/4). ”Tapi, aku percaya dia (pelatih, Red). Aku tahu ini adalah keputusan terbaik,” tambahnya.
Mundur dari ajang final memang begitu menyesakkan. Apalagi, itu adalah kompetisi pertama Andreescu di AS sejak menjadi juara AS Terbuka dua tahun silam. Terlebih, setelah gelar prestisius itu, Andreescu lebih banyak istirahat akibat cedera. Musim lalu petenis 20 tahun nomor 9 dunia tersebut bahkan istirahat total.
Bagi Barty, trofi itu membuatnya disejajarkan dengan lima petenis tunggal putri lain yang juga pernah berhasil merengkuh gelar secara back-to-back. Mereka adalah Stefanie Graf, Monica Sales, Arantxa Sanchez-Vicario, Venus Williams, dan Serena Williams.
Dengan rendah hati, Barty merasa dirinya belum pantas disejajarkan dengan para legenda tersebut. ”Mereka adalah juara dan legenda sejati. Aku belum mencapai tahap itu. Tapi, jika ada yang memasukkan aku ke grup elite bersama mereka, itu adalah sebuah keistimewaan yang luar biasa,” ucap petenis asal Australia tersebut dikutip ESPN.
Namun, hadiah yang dibawa pulang Barty tahun ini jauh terjun bebas jika dibandingkan yang dia terima saat menjadi juara pada 2019. Saat itu dia membawa pulang USD 1,35 juta (Rp 19,6 miliar). Tahun ini dia hanya dapat USD 300 ribu (Rp 4,3 miliar).
Pandemi Covid-19 membuat panitia harus memangkas hadiah uang tunai. Pasalnya, mereka sulit mendapat sponsor. Penonton juga masih sangat dibatasi dengan hanya 750 fans per sesi pertandingan. Tahun lalu ajang itu juga batal digelar akibat pandemi tersebut.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
