Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 25 Oktober 2022 | 05.22 WIB

Kisah PB Suryanaga, Klub Rudi Hartono dan Alan Budikusuma yang Redup

SEMANGAT MUDA: Sejumlah atlet berlatih GOR Suryanaga, Jalana Dharmahusada Indah Barat, Surabaya, Rabu (19/10/2022). Klub bulutangkis tersebut mencetak juara-jura dan mengharumkan nama bangsa. ROBERTUS RISKY/ JAWA POS - Image

SEMANGAT MUDA: Sejumlah atlet berlatih GOR Suryanaga, Jalana Dharmahusada Indah Barat, Surabaya, Rabu (19/10/2022). Klub bulutangkis tersebut mencetak juara-jura dan mengharumkan nama bangsa. ROBERTUS RISKY/ JAWA POS

JawaPos.com-Sederet nama besar bulu tangkis Indonesia mulai Rudi Hartono, Alan Budikusuma, sampai Sony Dwi Kuncoro merupakan hasil didikan PB Suryanaga.

Klub yang dulu dikenal dengan nama Naga Kuning itu juga rajin menyumbang atlet di pemusatan latihan nasional (pelatnas). Akan tetapi, lima tahun terakhir sinar PB Suryanaga mulai redup.

--

Rabu (19/10) lalu Ketua PB Suryanaga Yacob Rusdianto menunjukkan sebuah plakat marmer yang terletak di dalam GOR Suryanaga, Surabaya.

Plakat untuk menandai peresmian gedung tersebut ditandatangani oleh Ketua Umum PBSI 1985–1993 Try Soetrisno. Di bawahnya tertulis beberapa perusahaan seperti Gudang Garam, Sinar Galaxi, Bogasari, dan Maspion.

’’Ini perusahaan yang dulu turut menyumbang pembangunan gedung Suryanaga,’’ kenang Yacob.

Pada masa jayanya, Suryanaga memang mampu menarik minat banyak sponsor. Saat itu, menurut Yacob, pihak luar tertarik bekerja sama karena melihat banyaknya atlet Suryanaga yang berprestasi.

Selain Alan Budi Kusuma, tercatat ada nama-nama seperti Liem You Tjong, Suwarno, Ali Winoto, Merry Halim, Liliana Santoso, atau Dwi Elmiati yang sempat masuk pelatnas era 1980-an.

’’Prinsip saya adalah berprestasi dulu baru sponsor akan datang sendiri. Karena sponsor juga melihat pemberitaan atlet-atlet Suryanaga yang sering juara di media-media,’’ ungkap sosok yang memimpin PB Suryanaga sejak 1975 itu.

Sampai periode 2010-an, pembinaan tersebut masih terus berjalan. Pemain andalan Indonesia seperti Alvent Yulianto atau Sony Dwi Kuncoro tercatat sebagai atlet binaan PB Suryanaga.

Akan tetapi, sepuluh tahun terakhir situasi berubah. Seingat Yacob sejak awal 2013. Tepatnya, ketika tak ada lagi aturan jelas mengenai perpindahan atlet.

’’Perpindahan atlet tidak dilarang, kami dulu juga ambil dari klub lain. Tapi, kami tidak pernah ambil tanpa kompensasi. Jadi, harus ada kesepakatan win-win bagi semua pihak,’’ ucap Yacob. ’’Tapi, sejak 2012 aturan tersebut tidak dipatuhi,’’ keluhnya.

Yacob mencontohkan sistem audisi yang dilakukan salah satu klub besar di Indonesia. Klub lama yang atletnya lolos audisi di klub baru tersebut tidak mendapat kompensasi apa pun. Padahal, itu sangat penting bagi perkembangan klub-klub di daerah.

’’Karena prinsip mereka tidak ambil pemain, tapi pemain yang ingin masuk. Ini yang akhirnya berdampak ke banyak klub-klub di daerah, termasuk Suryanaga yang notabene klub amatir,’’ jelas Yacob.

Selain itu, ada satu lagi perubahan aturan yang menurut Yacob berdampak pada klub di daerah. Yaitu, pemberian reward bagi klub yang atletnya berprestasi ketika masuk pelatnas. Dulu, ketika ada atlet meraih gelar juara di turnamen internasional, klub asal juga mendapat bonus.

’’Misal ada pemain kami juara Indonesia Open, kami dapat sekitar 2,5 persen dari hadiah. Semakin banyak atlet kami juara, semakin banyak kompensasi,’’ ujarnya.

Yacob sebenarnya bisa memahami aturan tersebut dibuat supaya atlet bisa menikmati hasil jerih payahnya secara penuh. Namun, di sisi lain, hal itu berdampak pada klub-klub yang tidak punya sumber pendanaan cukup baik. ’’Padahal, fresh money bisa untuk bantu adik-adiknya lagi,’’ katanya.

Sementara itu, usaha klub untuk menarik sponsor juga tidak mudah. Beberapa masih bertahan sampai 2010-an. Namun, ketika tidak ada lagi atlet Suryanaga yang berprestasi sejak lima tahun terakhir, sponsor pun mulai hengkang satu per satu.

Kini, Yacob hanya bisa berharap. Ada regulasi yang bisa menguntungkan semua klub, tidak hanya klub-klub besar yang punya sumber daya tidak terbatas.

’’Kalau perpindahan ini tidak diatur, ya habis. Sejak dulu memang ada klub kuat dan klub lemah, cuma dulu tidak gampang ambil pemain klub lain,” ucap Yacob.

Editor: Ainur Rohman
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore