Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 10 Juli 2020 | 00.00 WIB

Mengapa Lin Dan Menjadi Ikon dan Pemain Terbesar Sepanjang Sejarah

China - Image

China

JawaPos.com-Lin Dan berteriak ke arah wasit. Matanya menatap tajam, tangannya menuding-nuding tanda protes keras.

Lin Dan meminta wasit untuk mengubah keputusan hakim garis. Wasit menggeleng tak setuju. Lin Dan terus saja mengeluh dan memandang liar ke beberapa penjuru. Ke arah pelatihnya, ke arah penonton, ke hakim garis, lalu kembali ke wasit. Masih belum puas, dia berteriak ke arah lawannya, Lee Hyun-Il. “Kamu lihat itu? Kamu lihat itu?” jerit Lin Dan.

Lin Dan merasa smes keras Hyun-Il ke sisi kiri lapangan itu keluar. Hakim garis memutuskan sebaliknya. Dan ini membuat Lin Dan sangat-sangat kesal. Sebab, kesimpulan itu membikin Hyun-Il mencapai match point dalam posisi genting 24-23.

Kondisi panas di lapangan lekas menular. Pelatih Hyun-Il asal Tiongkok Li Mao terpancing. Dia bangkit dari tempat duduknya, mendekati lapangan, dan mulai mengumpat ke muka Lin Dan.

Pelatih Lin Dan, Zhang Bo mendekati Li Mao, berusaha menenangkan kompatriotnya tersebut.

Bukannya mereda, Li Mao malah mendorong pundak kanan Zhang Bao. Ofisial dan perangkat pertandingan dengan gesit memisahkan kedua pihak sehingga adu fisik tidak pecah.

Ketegangan selama dua menit itu berhenti setelah wasit mencabut kartu kuning dari saku kirinya. Dengan mantap, dia acungkan tanda peringatan itu kepada Lin Dan.

Lee akhirnya memenangkan laga final Korea Open 2008 tersebut dengan skor 4-21, 23-21, dan 25-23. Pertandingan intens ini berlangsung selama 1 jam dan 11 menit. Walau baru saja habis-habisan menguras tenaga, nyatanya energi Lin Dan tidak lekas habis.

Photo

Lin Dan berseteru dengan Li Mao setelah final Korea Open 2008. (Badminton Central).

Karena masih kesal, setelah pertandingan, dia melampiaskan rasa dongkol yang melambung dengan melemparkan raket ke arah Li Mao. Untung saja, tidak terjadi perkelahian massal karena kedua pihak berhasil menahan diri.

Dengan bersungut-sungut, kepada media, Li Mao mengatakan bahwa selama menjadi pelatih, dia tidak pernah menghadapi pemain macam Lin Dan. "Dia itu tidak bermoral!” sembur pelatih tinggi besar berkepala plontos itu.

Tak mau kalah, dengan lagaknya yang keras kepala, Lin Dan yang saat itu masih berusia 24 tahun, mengatakan sama sekali tak menyesal telah melakukan perbuatan itu.

Menurut Lin Dan, Li Mao sudah menyerangnya secara verbal. Dan sebagai sesama orang Tiongkok, dalam opini Lin Dan, Lia Mao tak seharusnya mengeluarkan hinaan-hinaan merendahkan.

Korea Open adalah turnamen pembuka BWF World Tour 2008. Ketika itu, Lin Dan berstatus pemain nomor satu dunia. Dan dia berambisi meraih emas Olimpiade di rumah sendiri yang berlangsung beberapa bulan kemudian.

Tekanan kepada Lin Dan memang sangat hebat. Selain desakan dari diri sendiri, publik Tiongkok sungguh-sungguh mendamba jagoannya itu untuk naik ke podium tertinggi setelah kegagalan menyakitkan di Olimpiade Athena 2004.

Empat tahun sebelumnya, Lin Dan yang berstatus unggulan nomor satu, sudah tumbang pada babak pertama. Dia disingkirkan oleh pemain Singapura kelahiran Kediri, Ronald Susilo.

Tuntutan untuk selalu tampil sempurna, bisa berujung pada rasa frustrasi. Ada kabar bahwa April tahun itu, Lin Dan sempat memukul pelatihnya, Ji Xinpeng dalam latihan.

Agar kekompakan tidak koyak dan citra negara terjaga, beredar gosip bahwa otoritas bulu tangkis Tiongkok memaksa Lin Dan membantah perkara tersebut. Lin Dan lalu menulis di blog pribadi, menangkis insiden yang telah terjadi.

Walau kondang karena punya temperamen tinggi dan emosi yang meluap-luap, publik Tiongkok tetap saja memuja Lin Dan.

Pertama, karena Lin Dan adalah anggota Tentara Pembebasan Rakyat, sebuah institusi militer terhormat yang dikendalikan oleh Partai Komunis Tiongkok. Untuk menegaskan identitasnya, setiap kali naik di podium tertinggi, Lin Dan hampir selalu melakukan sikap hormat. Sebuah tanda salut kepada lembaganya.

Photo

Lin Dan melakukan sikap hormat setelah dipastikan meraih emas Olimpiade Beijing 2008. (Goh Chai Hin/AFP).

Selain itu, Lin Dan juga memiliki paras ganteng. Rambutnya spike dan keren. Predikat bad boy membuat aura maskulinnya semakin pekat. Makin afdal karena Lin Dan memiliki istri jelita, seorang mantan pemain nomor satu dunia bernama Xie Xingfang.

Oleh publik Tiongkok, pasangan Lin Dan dan Xingfang dijuluki Condor Couple. Itu mengacu kepada novel dan serial televisi terkenal The Return of the Condor Heroes.

Usia Lin Dan yang lebih muda ketimbang Xingfang, disama-samakan dengan pasangan khayalan legendaris, Yoko dan Bibi Lung.

Namun di atas semua atribut luar lapangan itu, prestasi Lin Dan memang dahsyat. Walau tahun itu dikelilingi banyak kontroversi, Lin Dan berhasil meraih gelar China Open, mengantarkan Tiongkok merebut Piala Thomas di Istora Senayan, dan tentu saja puncaknya adalah meraih emas Beijing 2008.

Lin Dan mengaku bahwa emas Olimpiade adalah impian terbesarnya. Lebih-lebih, jika itu didapatkan di rumah sendiri. Tetapi, sehari sebelum final, Lin Dan sempat terpukul karena Xingfang tumbang di partai puncak.

Walau kalah, Lin Dan merasa bahwa Xingfang yang merupakan unggulan pertama, sudah bertarung hebat melawan rekan senegaranya, Zhang Ning.

"Fang Fang sudah melakukan yang terbaik. Sangat bagus sekali,” kata Lin Dan.

"Jadi, saat saya berada dalam tekanan untuk meraih emas, saya melihat ke arah Fang Fang dan bertekad bermain sebaik dia. Kalau sudah begitu, kalahpun tak mengapa,” imbuhnya.

Ucapan Lin Dan menjadi kenyataan. Dia bermain luar biasa, membantai rival terbesarnya Lee Chong Wei yang terlihat gugup dan pucat dengan skor sangat telak 21-12, 21-8.

Pada Olimpiade keduanya itu, Lin Dan menyapu bersih lima kemenangan tanpa kehilangan satu gamepun!

*


Lin Dan lahir dari keluarga Hakka, di Shanghang, Longyan, provinsi Fujian pada 14 Oktober 1983.

Saat balita, kedua orang tuanya Gao Xiuyu dan Lin Jianbin, memasukkan Lin Dan ke sebuah tempat kursus piano. Harapannya tentu saja agar Lin Dan menjadi musisi hebat.

Tetapi, saat menekan-nekan tuts piano menjadi sebuah aktivitas yang begitu menjemukan, hati Lin Dan justru terpikat pada bulu tangkis.

Pada usia lima tahun, dia mulai berlatih dan menemukan keasyikan menghajar shuttlecock. Pada usia 9 tahun, Lin Dan sudah meninggalkan rumah dan tinggal di asrama agar fokus bermain bulu tangkis.

Sejak saat itu, sampai delapan tahun kemudian, neneknya menjadi sosok paling penting untuk mengurus semua keperluan Lin Dan. Setiap hari Selasa dan Kamis, sang nenek selalu mengunjungi Lin Dan di sekolah.

Pada dua hari itulah, Lin Dan kecil selalu mengintip ke seberang jendela kelasnya dengan rasa gelisah. Dia tidak sabar menanti kehadiran sang nenek. Melihat neneknya datang dan menyambutnya di bawah tangga, kata Lin Dan, adalah salah satu memori termanisnya sepanjang hidup.

Lin Dan kecil sering tidak mau keluarganya datang untuk menonton pertandingannya. Dia takut terbebani. Keinginan untuk selalu memberikan kemenangan, benar-benar membuat Lin Dan tersiksa. Selama bertahun-tahun, dia teramat gentar membuat keluarganya kecewa.

Namun, cinta kasih sang nenek, membuat Lin Dan sadar bahwa keluarganya adalah satu-satunya pendukung tanpa syarat. Apapun hasil yang Lin Dan dapatkan, hati sang nenek selalu terbuka untuknya.

Agama nenek Lin Dan itu kristen. Setiap Minggu, perempuan tua itu selalu pergi ke gereja untuk mendoakan kesehatan dan kemenangan sang cucu.

Inilah alasan, mengapa Lin Dan akhirnya membuat tato bergambar salib di lengan kirinya jelang Olimpiade London 2012. Keputusan, yang membuatnya menjadi kontroversi nasional selama berhari-hari.

Photo

Lin Dan merajah lengan kirinya dengan tato bergambar salib. (Johannes Eisele/AFP).

Latihan dan tekad yang keras, membuat Lin Dan menjadi juara nasional junior pada usia 12 tahun. Tim olahraga Tentara Pembebasan Rakyat lalu datang untuk merekrut dan melatihnya. Enam tahun kemudian, Lin Dan resmi masuk tim nasional Tiongkok. Usianya masih 18 tahun.

*


Lin Dan terjun di ajang senior pada 2001. Setahun sebelumnya, dia hanya mampu menembus semifinal Kejuaraan Dunia Junior. Pada ajang itu, Lin Dan dan Lee Chong Wei—yang belakangan menjadi rival terbesarnya--berbagi medali perunggu.

Emas dan perak didapatkan Bao Chunlai dan Sony Dwi Kuncoro.

Dua tahun kemudian, Lin Dan meraih gelar besar pertamanya pada ajang Denmark Open. Pada Februari 2004, untuk kali pertama, Lin Dan menjadi pemain nomor satu dunia.

Menempati ranking satu dunia pada usia 20 tahun, Lin Dan menjalani tahun yang luar biasa. Untuk kali pertama, dia menjadi juara All England. Lalu, Lin Dan membantu Tiongkok meraih juara Piala Thomas di Istora Senayan, Jakarta.

Gelar All England 2004 itulah, yang membuat legenda Denmark Peter Gade Christensen memberikan julukan Super Dan. Sebutan yang lantas melekat sejak saat itu sampai kapanpun.

Namun, pada pertengahan Juli, jelang Olimpiade Athena 2004, Lin Dan mengalami cedera kaki. Dalam kondisi tidak fit, Lin Dan yang menempati unggulan nomor satu, kandas pada babak pertama.

Lin Dan tak pernah berdalih bahwa kekalahan itu akibat kondisi tubuhnya yang buruk. Dia hanya mengatakan bahwa Ronald Susilo, sang lawan, memiliki keinginan menang lebih besar. Jauh sekali jika dibandingkan dirinya.

Pasca kekalahan yang bikin pengap di Athena itu, sinar Lin Dan tidak lantas redup dan musnah. Takdir, akhirnya mengantarkan Lin Dan menjadi pemain terbaik dunia dengan meraih dua emas Olimpiade secara back-to-back pada 2008 dan 2012.

Dibantai Taufik Hidayat pada final Kejuaraan Dunia 2005, hanyalah jembatan yang melesatkan Lin Dan untuk lebih mendominasi dengan menjadi juara dunia lima kali dalam enam turnamen berikutnya.

Photo

Lin Dan melawan Taufik Hidayat pada ajang BWF World Superseries Finals di Liuzhou, Guangxi, 5 Desember 2011. (Liu Jin/AFP)

Pada 2011 atau ketika berumur 28 tahun, Lin Dan resmi meraih titel Super Grand Slam karena memenangkan sembilan gelar mayor bulu tangkis. Yakni Olimpiade, Kejuaraan Dunia, Piala Dunia, Piala Thomas, Piala Sudirman, Final Superseries, All England, Asian Games, dan Piala Asia.

Lin Dan adalah pemain pertama dan satu-satunya yang berhasil melakukannya. Dan tampaknya, akan butuh waktu yang sangat lama bagi pemain manapun di dunia ini untuk bisa menyamai catatan fenonemal tersebut.

Konsistensi Lin Dan sangat luar biasa. Pada usia 33 tahun, dia masih bisa menjadi juara dunia dan All England. Dua tahun kemudian, Lin Dan tetap mampu tampil solid dengan menembus final All England 2018.

Lin Dan menjadi pemain terbaik sepanjang masa karena dia dibekali dengan teknik tinggi dan tubuh yang sangat atletis. Menurut juara dunia 1995 dan kampiun All England dua kali Hariyanto Arbi, Lin Dan istimewa karena punya kaki yang kuat dan lincah.

Bermodal langkah-langkah kukuh dan ringan, Lin Dan bisa dengan gampang menjangkau bola dan menguasi sudut-sudut lapangan.

Lin Dan juga tidak takut mengambil risiko. Dalam permainan bulu tangkis, seorang pemain kelas dunia umumnya bisa menemukan formula yang pas antara kekuatan dan akurasi.

Untuk menjadi pemain top, mereka harus becus menakar kadar kekuatan dan akurasi sehingga menghasilkan pukulan yang mematikan.

Lin Dan menjadi spesial karena dia pintar sekali memukul ke arah sideline lawan dengan kekuatan yang solid dan sangat akurat.

Tidak semua pemain mampu atau berani menempuh siasat ini. Sebab, kalau terlalu kuat, maka bola akan out. Jika terlalu lemah, bola akan gampang diantisipasi.

Lin Dan dengan cakap menemukan resep yang efisien dalam membunuh pertahanan musuh dari titik ini. Pukulannya mengerikan karena keras, jitu, dan sangat terarah.

Senjata Lin Dan juga sangat variatif. Dengan tangan kirinya, Lin Dan bisa memukul dengan berbagai macam cara, tipuan, dan berkelindan dengan teknik amat tinggi.

Pertahanan Lin Dan juga sangat susah ditembus karena dia punya keseimbangan tubuh yang dahsyat. Lin Dan bisa langsung bertahan dengan sikap sempurna bahkan setelah melakukan jump smash bertenaga.

Malahan, dalam posisi yang tidak nyaman sekalipun, Lin Dan bisa melakukan smes dengan kuat. Salah satu ciri khas Lin Dan adalah dia bisa melakukan smes lompat dengan kekuatan keras level forehand walaupun bola berada di posisi backhand.

Metode ini sangat-sangat tidak gampang.

Photo

Lin Dan saat menghadapi Huang Yuxiang pada semifinal All England 2018. (Paul Ellis/AFP).

Mengapa Lin Dan piawai memakai teknik itu? Jawabannya adalah karena dia punya akselerasi, kecepatan, kekuatan, serta kelenturan pergelangan tangan yang bukan alang kepalang baiknya.

Lin Dan gampang sekali mengubah posisi tidak menguntungkan menjadi senjata penyerangan yang mematikan.

Pemain dunia lain, mungkin saja bisa melakukan smes dengan cara itu. Namun, kurangnya akselerasi dan kegesitan, membuat mereka gagal menginjeksikan kekuatan penuh dalam tiap pukulan. Ironisnya, ini adalah hal yang sangat mudah dilakukan oleh Lin Dan selama belasan tahun.

Tapi yang jelas, keahlian level tinggi bukanlah satu-satunya kekuatan Lin Dan. Banyak sekali pemain berbakat gagal mencapai potensi terbesarnya karena mereka tak kuat menundukkan tekanan.

Lin Dan bisa menjadi pemain terbesar sepanjang masa karena dia memiliki mentalitas yang sangat dahsyat.

Sejak awal, Lin Dan mendefinisikan dirinya sebagai seorang petarung yang menolak menyerah sebelum berperang habis-habisan. "Lin Dan yang kamu lihat adalah Lin Dan yang sangat kompetitif dan ganas," katanya dalam sebuah film pendek yang diluncurkan oleh Intel.

Lin Dan mencontohkan kekuatan pikiran itu pada musim bulu tangkis 2013. Saat itu, dia hanya mendapatkan jatah wild card agar bisa bermain untuk mempertahankan gelar juara dunianya.

Cedera, gagal berlaga di banyak turnamen, membuat rankingnya jeblok ke posisi 286 dunia. Tetapi, dengan mental yang luar biasa, Lin Dan menjadi juara dengan hanya kehilangan satu game di final melawan Lee Chong Wei.

Lin Dan mengatakan bahwa kejayaannya bukan cuma berasal ketika dia menang. Tetapi kemampuannya untuk bangkit setelah mengalami kekalahan pahit. Lin Dan memiliki tato bertuliskan “Until the End of World” di lengan kanannya. Ini adalah judul lagu penutup di anime favoritnya, Slam Dunk.

Setiap selesai pertandingan, saat berjalan menjauh dari penonton, Lin Dan mengatakan bahwa dia harus merasa sangat puas dengan apa yang sudah dia sajikan. Tidak peduli dengan hasilnya. Menang dan kalah tidak lagi relevan. Sebab, Lin Dan telah mencurahkan seluruh energinya untuk permainan bulu tangkis.

Oleh karena itulah, Lin Dan sering berada dalam tingkat emosi tertinggi. Dia berteriak keras, tangan mengepal ke depan, atau membuka baju dan memamerkan otot-ototnya saat menang. Sebaliknya, Lin Dan juga bisa menangis keras saat kalah.

Ekspresi meledak-ledak inilah yang membuat pengalaman menonton pertandingan-pertandingan Lin Dan menjadi sangat menarik. Sebab Lin Dan selalu menyingkirkan sifat inferior. Dia tidak malu-malu untuk mendemonstrasikan identitasnya. Dan itulah yang membuatnya menjadi ikon global dan superstar terbesar bulu tangkis.

Saya dua kali bertemu dan ikut dalam sesi wawancara yang dilakukan Lin Dan dalam dua ajang besar. Pertama saat dia meraih emas Asian Games 2014 di Incheon. Dan kedua saat dia kalah di semifinal Olimpiade Rio 2016.

Orang ini memang memiliki aura kebintangan dan karisma yang sangat kuat. Jauh melebihi pemain kelas dunia manapun yang pernah saya temui. Lin Dan terlihat jarang tersenyum. Sebab, semua fokus dia kerahkan secara total dalam pertandingan. Tidak ada hal yang bisa menggoyahkannya.

Keahlian dan mental itu pula yang membuat mantan pemain nomor satu dunia Lee Chong Wei terobsesi.

Photo

Lin Dan dan Lee Chong Wei setelah laga semifinal Kejuaraan Asia 2017 di Wuhan. (STR/AFP).

Sepanjang karir mereka, Lin Dan dan Chong Wei telah berduel dalam 40 pertandingan. Lin Dan menang dalam posisi 28-12. Sebanyak 22 pertarungan terjadi di final. Itu termasuk final Olimpiade Beijing 2008, London 2012, Kejuaraan Dunia 2011, dan 2013. Dalam empat final itu, Lin Dan selalu menang.

Lin Dan juga unggul dalam final ajang Superseries. Dalam 11 pertarungan, Lin Dan menang sembilan kali.

Walau begitu, Chong Wei punya kesuksesannya sendiri. Dalam sepuluh tahun mulai 2007 sampai 2017, Chong Wei memenangkan 47 gelar superseries dan menjadi pemain nomor satu dunia dalam 349 pekan. Itu termasuk 199 pekan beruntun mulai 21 Agustus 2008 sampai 14 Juni 2012.

Secara persentase menang-kalah, Chong Wei juga lebih baik dari Lin Dan. Chong Wei berada di peringkat pertama daftar tunggal putra terhebat sepanjang masa dengan catatan 721 menang dan 134 kalah alias 84 persen.

Sementara itu, Lin Dan ada di ranking kedua dengan rekor 83 persen (670 menang dan 134 kalah).

Pertemuan terakhir Lin Dan kontra Chong Wei terjadi pada perempat final All England 2018. Saat itu, Chong Wei kalah dalam straight game. Itulah tahun terakhir bagi karir hebat Chong Wei. Tragis, karena dia dipaksa pensiun akibat sergapan kanker hidung.

Chong Wei mengaku bahwa kehebatan Lin Dan membuatnya terpacu. Dalam setiap latihan, Chong Wei mengatakan bahwa sosok Lin Dan selalu menghantui benaknya.
Kalau ingin menjadi juara di ajang-ajang besar, Chong Wei menegaskan bahwa dia pasti harus mengalahkan Lin Dan.

Oleh karena itu, Chong Wei wajib berlatih dengan keras. Persetan dengan rasa sakit. Sebab, dedemit bernama Lin Dan ini harus segera dikalahkan.

"Bahkan ketika saya mengalami kram, saya mengatakan kepada pelatih untuk terus berlatih. Saya tidak mau berhenti karena di ujung sana, Lin Dan sudah menanti,” kata Chong Wei dikutip dari situs resmi BWF.

Lin Dan juga menganggap bahwa Chong Wei adalah musuh terbesar dan selalu membuatnya terinspirasi. Namun sebetulnya, di dalam diri Lin Dan sendiri, ada gairah yang tak pernah terpuaskan.

Setiap tahun, Lin Dan merasa belum mencapai puncak permainan. Bahkan ketika sudah tak ada gelar besar untuk dimenangkan, Lin Dan terus saja mencoba menang. Walaupun di sisi lain, usia terus bergerak mengintai dan sedikit demi sedikit mengerat kemampuannya.

Lin Dan yang berambisi untuk menembus Olimpiade kelimanya di Tokyo 2020, harus mengela napas panjang dan mendesah pasrah. Sebab, tubuh tuanya ternyata sudah susah diajak berlari kencang dan melompat tinggi.

Turun dalam empat turnamen sepanjang 2020, Lin Dan selalu tumbang di babak pertama. Setelah itu, dia hanya mampu mencapai babak kedua All England.

Kombinasi dari pandemi virus korona baru, hasil buruk, rentetan cedera, dan ranking dunia yang rendah, memaksa Lin Dan untuk mundur dalam sunyi.

Dalam kalimat perpisahannya, Lin Dan mengatakan kepada dirinya untuk terus bertahan walau dicekik rasa sakit. Dia ingin terus menantang batasan fisik sebagai seorang atlet tua.

Photo

Lin Dan bereaksi saat kalah melawan pemain Taiwan Wang Tzu-wei pada babak pertama Kejuaraan Asia 2018 di Wuhan. (STR/AFP).

Tetapi, bagaimanapun besarnya hasrat, toh pada akhirnya akan takluk pada cengkeraman kejam waktu. Pada 4 Juli 2020, Lin Dan pensiun pada usia 36 setelah 20 tahun bertempur di level tertinggi.

Dan kendati secara kehadiran fisik tamat terpisah, kenangan kita terhadap pemain bulu tangkis terbesar sepanjang sejarah bernama Lin Dan, akan tetap terikat. Selamanya. (*)

Editor: Ainur Rohman
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore