Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 18 Juni 2020 | 03.28 WIB

Lama Tidak Berlatih dan Bertanding, Atlet Nasional Rentan Stres

Tim estafet 4x100m NTB, Lalu M Zohri, M Fadlin, Sudirman Hadi dan Iswandi berpose seusai memenangi kejuarana nasional estafet 2019 di Stadion Madya GBK, Sabtu 14/12/19. Juara dua diraih tim Jawa Tengah dan juara tiga diraih tim DKI Jakarta. Foto: Chandra - Image

Tim estafet 4x100m NTB, Lalu M Zohri, M Fadlin, Sudirman Hadi dan Iswandi berpose seusai memenangi kejuarana nasional estafet 2019 di Stadion Madya GBK, Sabtu 14/12/19. Juara dua diraih tim Jawa Tengah dan juara tiga diraih tim DKI Jakarta. Foto: Chandra

JawaPos.com - Untuk menghilangkan stres akibat berhentinya kejuaraan karena pandemi Covid-19, psikolog PB Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Woro Aryati Prawoto menyarankan para atlet untuk mencari kegiatan lain yang disukai.

Menurutnya, dengan berhentinya kegiatan pelatnas dan kejuaraan di berbagai tingkat, bisa membuat atlet rentan mengalami stres. Sebab, mereka tidak bisa menjalani aktivitas harian seperti biasa.

"Alternatifnya memang diperlukan proses refleksi untuk mencari potensi apa yang bisa dilakukan agar bisa survive dan menghindari tekanan mental. Misalnya memasak, bermain musik, atau menjadi pegiat di media sosial," kata Aryati dalam seminar daring PB PASI dikutip dari Antara, Rabu (17/6).

Selain itu, atlet harus mengupayakan untuk menemukan makna hidup baru dan mencari potensi dalam diri sendiri. Tetapi bukan berarti melupakan fungsi dan tugas mereka sebagai atlet.

"Ini kaitannya dengan daya lenting dari mental seorang atlet. Jadi bukan sekadar tangguh atau tahan dalam menghadapi tekanan, tapi kemampuan diri untuk mengatasi dan bangkit dari keterpurukan dalam kondisi sekarang," jelasnya.

Sementara itu, mantan atlet lari gawang Dedeh Erawati dalam seminar itu juga mengakui bahwa dia berdiam diri di rumah selama tiga bulan. Dan ini adalah hal yang berat untuk dijalani.

Oleh karena itu, upaya penguatan mental merupakan hal dasar yang dibutuhkan atlet sekembalinya ke pelatnas dalam waktu dekat.

Dia memberi masukan kepada para pelatih agar tidak terlalu membebani atlet saat memulai latihan kembali. Sebab, bisa dipastikan kemampuan atlet akan menurun drastis akibat lama tak berlatih secara maksimal sebagaimana di pelatnas.

"Jangan terlalu banyak disalahkan kalau ada latihan yang belum sesuai, karena tidak berlatih di lapangan selama tiga bulan itu susah, harus adaptasi lagi. Atlet jangan langsung dipaksa, tapi mundur satu atau dua langkah program latihannya tidak apa-apa. Kalau sudah selevel lagi baru ditekan agar mengejar tingkat lanjutan," terangnya.

Sementara, Sekretaris Jenderal PB PASI Tigor Tanjung mengatakan, saat ini pihaknya tengah menyiapkan protokol kesehatan pada era normal baru. Menurutnya, salah satu persyaratan yang diatur World Athletics kepada federasi atletik internasional adalah wajib mengadakan swab test atau teknik reaksi rantai polymerase (PCR).

Pemeriksaan menggunakan teknik reaksi rantai polymerase (PCR) merupakan salah satu tes untuk mendeteksi virus korona baru. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara pengumpulan usap (swab) dari saluran pernapasan atas yakni bagian hidung, mulut, dan tenggorokan.

“Untuk latihan iya harus melakukan swab test. World Athletics meminta test PCR. Kami harus sosialisasikan dengan atlet dan pelatih terlebih dahulu," kata Tigor.

Oleh karena itu, Tigor masih belum mengetahui kapan tepatnya Pelatnas kembali digelar, mengingat untuk melakukan swab test butuh biaya tak sedikit.

Editor: Ainur Rohman
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore