
Pelatih PSIS Semarang Gilbert Agius saat memberikan instruksi dari pinggir lapangan. (Instagram/psisofficial)
JawaPos.com - PSIS Semarang mengalami penurunan performa drastis di BRI Liga 1 2024/2025. Klub berjuluk Mahesa Jenar itu kini kesulitan bersaing di papan atas dan justru semakin terperosok ke zona merah.
Rentetan hasil buruk, terutama saat bermain di kandang sendiri, membuat posisi mereka di klasemen semakin mengkhawatirkan. Dalam dua pertandingan terakhir, PSIS harus menelan kekalahan menyakitkan di Stadion Jatidiri.
Mereka dihajar Dewa United 1-4 dan tumbang 0-1 dari Persib Bandung. Akibatnya, PSIS kini merosot ke peringkat ke-14 dengan 21 poin, hanya berjarak empat angka dari zona degradasi.
Ada beberapa faktor utama yang membuat PSIS semakin melemah musim ini. Berikut tiga penyebab utama keterpurukan Mahesa Jenar di BRI Liga 1 Indonesia 2024/2025.
1. Produktivitas Gol Anjlok
PSIS Semarang menghadapi masalah serius di lini serang. Meskipun memiliki tiga striker asing—Sudi Abdallah, Evandro Brandao, dan Gustavo Souza—tim asuhan Gilbert Agius tetap menjadi salah satu tim dengan jumlah gol terendah di liga.
Hingga pekan ke-22, PSIS baru mencetak 17 gol, jumlah yang lebih sedikit dibandingkan tiga tim penghuni zona degradasi: Persis Solo (18 gol), Semen Padang (22 gol), dan Madura United (21 gol). Minimnya kreativitas serangan dan tumpulnya lini depan menjadi penyebab utama merosotnya performa mereka.
2. Pemain Asing Gagal Bersinar
Harapan besar diletakkan pada para pemain asing untuk membawa PSIS ke papan atas. Namun, kenyataannya, mereka justru minim kontribusi.
Evandro Brandao dan Sudi Abdallah baru mencetak dua gol, sedangkan Paulo Gali Freitas hanya menyumbang satu gol dan dua assist. Bahkan, rekrutan anyar Gustavo Souza belum memberikan dampak signifikan dalam lima pertandingan pertamanya.
Bandingkan dengan musim lalu, ketika PSIS memiliki pemain seperti Paulo Gali (11 gol, 7 assist), Carlos Fortes (10 gol), dan Taisei Marukawa (4 gol, 11 assist), yang lebih produktif dan berkontribusi besar untuk tim.
3. Konflik Suporter dan Manajemen
Di luar masalah teknis, kondisi internal PSIS juga semakin buruk akibat konflik antara suporter dan manajemen. Dua kelompok suporter terbesar, Panser Biru dan Snex, memilih memboikot pertandingan sebagai bentuk protes terhadap kepemimpinan Yoyok Sukawi.
Akibatnya, jumlah penonton di Stadion Jatidiri menurun drastis. Bahkan, laga Derby Jateng hanya disaksikan 723 suporter sebelum akhirnya manajemen memutuskan untuk menggelar pertandingan tanpa penonton guna menghemat pengeluaran.
Minimnya dukungan dari tribun tentu berpengaruh pada motivasi dan semangat bertanding para pemain. Jika PSIS tidak segera berbenah, bukan tidak mungkin mereka akan semakin terperosok ke jurang degradasi.

Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Pesan Perpisahan Penuh Misteri Milos Raickovic Bersama Persebaya Surabaya, Bonek Penasaran hingga Menyesali
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
Bocor! 3 Alasan Krusial Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Nomor Dua Jadi Kunci Utama
Ada Pemain Bali United yang Dirumorkan Gabung Persebaya Surabaya Musim Depan, Bonek Sebutkan 3 Nama Termasuk Irfan Jaya
Kunker Luar Negeri Presiden Dikritik, Teddy Singgung Dino Patti Djalal yang hanya 3 Bulan jadi Wamenlu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Wariskan 39 Gol yang Sulit Dilupakan
Harga BBM Pertamina Nonsubsidi Terbaru Per 1 Juni 2026, Dex Series Turun, Pertamax Turbo Naik
Viral Penonton Konser F4 di Jakarta Kena Campak Sebelumnya, Kemenkes Lakukan Pengecekan
