Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 12 Februari 2025 | 05.25 WIB

PSIS Semarang Terpuruk di Liga 1 Indonesia, Berikut Tiga Penyebab Utama Keterpurukan Mahesa Jenar

Pelatih PSIS Semarang Gilbert Agius saat memberikan instruksi dari pinggir lapangan. (Instagram/psisofficial) - Image

Pelatih PSIS Semarang Gilbert Agius saat memberikan instruksi dari pinggir lapangan. (Instagram/psisofficial)

JawaPos.com - PSIS Semarang mengalami penurunan performa drastis di BRI Liga 1 2024/2025. Klub berjuluk Mahesa Jenar itu kini kesulitan bersaing di papan atas dan justru semakin terperosok ke zona merah.

Rentetan hasil buruk, terutama saat bermain di kandang sendiri, membuat posisi mereka di klasemen semakin mengkhawatirkan. Dalam dua pertandingan terakhir, PSIS harus menelan kekalahan menyakitkan di Stadion Jatidiri.

Mereka dihajar Dewa United 1-4 dan tumbang 0-1 dari Persib Bandung. Akibatnya, PSIS kini merosot ke peringkat ke-14 dengan 21 poin, hanya berjarak empat angka dari zona degradasi.

Ada beberapa faktor utama yang membuat PSIS semakin melemah musim ini. Berikut tiga penyebab utama keterpurukan Mahesa Jenar di BRI Liga 1 Indonesia 2024/2025.

1. Produktivitas Gol Anjlok

PSIS Semarang menghadapi masalah serius di lini serang. Meskipun memiliki tiga striker asing—Sudi Abdallah, Evandro Brandao, dan Gustavo Souza—tim asuhan Gilbert Agius tetap menjadi salah satu tim dengan jumlah gol terendah di liga.

Hingga pekan ke-22, PSIS baru mencetak 17 gol, jumlah yang lebih sedikit dibandingkan tiga tim penghuni zona degradasi: Persis Solo (18 gol), Semen Padang (22 gol), dan Madura United (21 gol). Minimnya kreativitas serangan dan tumpulnya lini depan menjadi penyebab utama merosotnya performa mereka.

2. Pemain Asing Gagal Bersinar

Harapan besar diletakkan pada para pemain asing untuk membawa PSIS ke papan atas. Namun, kenyataannya, mereka justru minim kontribusi.

Evandro Brandao dan Sudi Abdallah baru mencetak dua gol, sedangkan Paulo Gali Freitas hanya menyumbang satu gol dan dua assist. Bahkan, rekrutan anyar Gustavo Souza belum memberikan dampak signifikan dalam lima pertandingan pertamanya.

Bandingkan dengan musim lalu, ketika PSIS memiliki pemain seperti Paulo Gali (11 gol, 7 assist), Carlos Fortes (10 gol), dan Taisei Marukawa (4 gol, 11 assist), yang lebih produktif dan berkontribusi besar untuk tim.

3. Konflik Suporter dan Manajemen

Di luar masalah teknis, kondisi internal PSIS juga semakin buruk akibat konflik antara suporter dan manajemen. Dua kelompok suporter terbesar, Panser Biru dan Snex, memilih memboikot pertandingan sebagai bentuk protes terhadap kepemimpinan Yoyok Sukawi.

Akibatnya, jumlah penonton di Stadion Jatidiri menurun drastis. Bahkan, laga Derby Jateng hanya disaksikan 723 suporter sebelum akhirnya manajemen memutuskan untuk menggelar pertandingan tanpa penonton guna menghemat pengeluaran.

Minimnya dukungan dari tribun tentu berpengaruh pada motivasi dan semangat bertanding para pemain. Jika PSIS tidak segera berbenah, bukan tidak mungkin mereka akan semakin terperosok ke jurang degradasi.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore