
Achmad Junaidi kini melatih Persipro Probolinggo.
Sebagai tim besar di Indonesia, Persebaya tak segan mendatangkan pemain-pemain dengan bandrol mahal. Salah satunya Achmad Junaidi. Siapa dia?
Sidiq Prasetyo, Surabaya
PADA 2001-2002, Achmad Junaidi kerap ke Terminal Bungurasih. Biasanya, momen itu terjadi sehari sebelum Persebaya Surabaya libur latihan. Junaidi, biasa dia dipanggil, memilih naik bus untuk pulang ke rumahnya di Kabupaten Probolinggo.
Dia menganggap bus lebih aman dan nyaman. Meski, dengan statusnya, Junaidi bisa membeli mobil. ''Nggak terasa sudah 23 tahun ya. Gak terasa waktu berjalan cepat,’’ kata Junaidi memulai percakapan.
Saat itu, Junaidi tengah berlimpah harta. Bagaimana tidak, lelaki kelahiran 1972 itu merupakan pemain termahal yang didatangkan Persebaya untuk persiapan Kompetisi Liga Indonesia musim 2002/2003.
''Saya didatangkan dari Arema dengan harga Rp 150 juta. Pelatih Persebaya Hartono yang mengajak saya karena beliau paham betul saya,’’ ungkap Junaidi.
Junaidi dan Hartono pernah bekerja sama di Mitra Surabaya. Di tangan lelaki yang akrab disapa Sinyo Hartono itu, Junaidi menjadi penyerang subur.
''Musim 1996/1997, saya mencetak 15 gol dan menjadi top skor kedua setelah pemain asing Barito Bako Sadissou dengan 17 gol,’’ kenang Junaidi.
Kedatangannya di musim 2002/2003 ke Persebaya itu juga kali kedua. Sebelumnya, di musim 1994/1995 dan 1995/1995, Junaidi juga pernah membela Persebaya.
''Hanya, saya banyak sebagai pemain pengganti. Ada gol yang saya ingat sampai sekarang yakni ke gawang Arema di Gelora 10 November sekaligus memastikan kemenangan menjadi 3-0,’’ ujar lelaki yang kini dikaruniai 4 anak itu.
Beda dengan periode dua yang dibandrol mahal, saat kali pertama membela Persebaya, Junaidi masih pemain ingusan. Niatnya ke Kota Pahlawan, adalah bergabung dengan klub Suryanaga, salah satu klub anggota internal Persebaya.
''Ada orang Probolonggo memberitahukan ke pimpinan klub Suryanaga ada pemain bagus. Kemudian, ketua Suryanaga menyuruh datang ke Surabaya,’’ papar Junaidi.
Tawaran tersebut tak bisa ditolak. Apalagi, Junaidi ingin mengembangkan karir dan ekonominya. Junaidi mengungkapkan, bahwa saat SMA dia sudah mencari uang. Banyak pekerjaan pernah dijalani. Salah satunya adalah mengangkut kayu untuk dibawa ke Pabrik Kertas Leces yang tak jauh dari desanya tinggal, Wonoasih.
''Namun, sebelum kompetisi internal Persebaya dimulai, saya dikirim Suryanaga seleksi Persebaya untuk Liga Indonesia 1. Alhamdulillah, saya masuk dan pelatih Persebaya adalah Mudayat yang juga menangani Suryanaga’’ jelas Junaidi.
Di Green Force, dia bertahan selama dua musim. Diakuinya, di Persebaya, persaingan sangat ketat. ''Ada Yusuf Ekodono dan Dodik Suprayogi di Liga Indonesia 1 dan Liga 1 ada pemain asing,’’ kata Junaidi.

Peringkat 12 Klub Terbesar yang Belum Pernah Memenangkan Liga Champions
Asisten YouTuber RA Diperiksa Kasus Whip Pink, Netizen Ramaikan Unggahan Reza Arap
Pesan Perpisahan Penuh Misteri Milos Raickovic Bersama Persebaya Surabaya, Bonek Penasaran hingga Menyesali
3 Calon Pelatih Liverpool Musim Depan, Semua Masih Muda dan Bertalenta!
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
6 Weton Bumi Kapetak Titisan Gatotkaca yang Ditakdirkan Kaya dan Sukses, Menurut Primbon Jawa
