Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 18 Februari 2017 | 01.27 WIB

Merananya Lapangan Klagen, Tempat Lahirnya Sederet Bintang Sepak Bola Indonesia

RUSAK: Kondisi Lapangan Klagen, Sukodono, Sidoarjo yang merana. - Image

RUSAK: Kondisi Lapangan Klagen, Sukodono, Sidoarjo yang merana.


Rusaknya lapangan turut membuat seret proses produksi bintang baru dari Klagen. Manajemen baru, dengan Uston Nawawi sebagai wakil ketua, berencana memperbaiki lapangan tersebut secara bertahap.





Rizka Perdana Putra, SIDOARJO





BEBERAPA sisi lapangan tampak bergelombang. Lebih terlihat seperti kubangan lumpur. Hujan yang belakangan rutin mengguyur kawasan Sidoarjo memperparah kondisi.



Tetapi, pada Selasa sore dua pekan lalu (31/1), puluhan anak tetap berlatih dengan gembira di ’’kubangan lumpur’’ tersebut. Menendang, mengumpan, dan mengejar bola. Sudah pasti pula kostum yang mereka kenakan coreng-moreng terkena kotoran.



’’Ya begini ini kondisi lapangan di desa yang pernah disebut kampungnya sepak bola,’’ ujar Suwandi, pelatih SSB Kelud Putra (31/1), yang menangani puluhan anak-anak tersebut.



Klagen, tempat lapangan itu berada yang hanya berjarak sekitar 10 kilometer dari Sidoarjo Kota, memang mirip Tulehu di Maluku sana. Banyak melahirkan bintang sepak bola tenar.



Di antaranya, Nurul Huda dan Uston Nawawi yang sempat dididik di PSSI Primavera dan Baretti. Lalu, Hariono yang hingga kini menjadi tulang punggung Persib Bandung serta Sutaji dan Arif Ariyanto yang sama-sama pernah membela Persebaya Surabaya. Lantas, Rendy Irwan dan Lucky Wahyu yang sempat berkostum tim nasional (timnas) senior dan kelompok umur.



Mereka semua memulai belajar sepak bola di lapangan yang kini mirip kubangan tersebut. Rendy mengenang, ketika dirinya mulai belajar menyepak bola, lapangan itu masih bagus. Sering juga digunakan untuk turnamen antarkampung.



’’Pas kelas V dan VI SD, saya sering ikut kompetisi. Saya satu klub sama Hariono dan Arif Ariyanto,’’ kenang Rendy.



Uston menuturkan, lapangan menjadi rusak kali pertama karena adanya perbaikan saluran air di sekitarnya. Truk yang memuat material semen masuk ke lapangan sehingga mengakibatkan tekstur tanah berubah.



Itu diperparah, terang Suwandi, dengan adanya anak-anak kampung yang bermain di lapangan ketika hujan. ’’Dibuat kecek. Yang di pojok kiri dulu bagus kayak kasur. Begitu kena anak-anak, rumputnya dipotong lagi sudah nggak bisa karena rata,’’ ujar pria yang juga berprofesi sebagai guru tersebut.



Rusaknya lapangan tersebut pada akhirnya turut berpengaruh kepada perkembangan bakat-bakat sepak bola dari daerah Klagen. Tidak ada lagi pesepak bola tingkat nasional yang muncul dari Klagen. Terakhir hanya Lucky Wahyu yang pernah membela timnas U-23.



’’Ya, selain dulu memang ada bakat-bakat bagus dari Klagen, kemungkinan disebabkan faktor lapangan,’’ ungkap Uston. ’’Karena lapangan rusak, akhirnya SSB juga kurang berkembang. Dulu kan SSB jalan terus,’’ tambah mantan gelandang Persebaya dan timnas itu.



Faktor yang lain, antusiasme warga di sekitar dusun yang masuk wilayah Desa Wilayut, Kecamatan Sukodono, tersebut tidak setinggi dulu lagi. Menurut Rendy, belakangan hanya beberapa kali lapangan dan SSB Kelud Putra yang dikelola desa menjadi ramai.



Contohnya, ketika Uston dan Huda ikut melatih SSB tahun lalu. ’’Tetapi, ketika Cak Uston melatih Laga FC, jadi sepi lagi. Lapangan juga semakin rusak karena tidak terawat,’’ ungkap Rendy.

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore