Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 29 November 2016 | 21.04 WIB

Menginjak Wasit, Menginjak Sepak Bola

Ardy N. Shufy - Image

Ardy N. Shufy



Bahkan, mirisnya, kasus Budi Eka baru terangkat setelah ada media yang meliput dan meramaikannya di media sosial. Jika tidak terpublikasi, tidak ada rekaman dan bukti foto dari media, bukan tak mungkin tak akan ada tindakan tegas terhadap pelaku kekerasan tersebut. Sebab, kompetisi level Liga Nusantara memang kurang mendapat publikasi. Padahal, hal-hal seperti yang dilakukan Budi Eka sering terjadi dalam liga tersebut.



Di Indonesia, setiap kekerasan atau kebrutalan, baik di dalam maupun di luar lapangan, memang terjadi karena hukuman dari PSSI tidak memberikan efek jera. Kerusuhan suporter yang sampai melayangnya nyawa saja, hukumannya hanya melarang supporter tersebut memakai atribut. Jangan heran jika kejadian yang sama akan terus berulang.



Di Indonesia, wasit memang cenderung kurang mendapat respek. Bahkan dengan mudahnya kesebelasan Indonesia melakukan aksi mogok main setiap ada keputusan wasit yang dianggap tak adil. Bahkan, itu terjadi di kompetisi teratas sepak bola Indonesia.



Memang, wasit Indonesia sendirilah yang kerap memancing agresivitas pemain maupun suporter. Wasit Indonesia sering tidak mampu menjaga atau mengontrol tensi pertandingan. Tak jarang juga kita menyaksikan wasit yang memutuskan pelanggaran meski bukan pelanggaran atau sebaliknya. Hakim garis juga sering mengangkat bendera offside, padahal seharusnya tidak.



Namun, karena wasit merupakan perangkat pertandingan yang disediakan federasi, kesalahan jelas ada di pihak federasi. Wasit Indonesia, tampaknya, sudah jarang mendapat peningkatan kualitas. Ketimbang meng-upgrade sumber daya wasit yang ada, federasi justru berniat mendatangkan wasit asing. Karena itu, jangan heran jika wasit-wasit Indonesia sulit mendapat verifikasi dari ajang-ajang internasional bergengsi.



Mendatangkan wasit asing bukanlah hal buruk. Hanya, rasanya, masalah kepemimpinan wasit dan perilaku pemain atau pelatih terhadap wasit tidak akan selesai dengan hanya mendatangkan wasit asing.



Jadi, memang sudah seharusnya PSSI selaku federasi sepak bola Indonesia lebih peduli terhadap nasib wasit. Setiap perilaku agresif pemain atau manajer akan bisa diminimalisasi jika seandainya wasit-wasit Indonesia well-educated.



Setelah itu, hukuman bagi pihak yang melakukan kekerasan pun haruslah tegas. Sampingkan sejenak alasan kemanusiaan yang sering membuat hukuman federasi menjadi permisif.



Itu perlu dilakukan agar setiap hukuman yang diberikan bisa membuat pihak lain yang tidak melakukannya berpikir lebih jauh sebelum melakukan kekerasan kepada wasit. Dengan begitu, semua pihak akan menghargai wasit sebagai pengampu keputusan dan pertandingan sepak bola pun bisa disaksikan serta dinikmati sebagaimana mestinya.



Sebab, jika kejadian buruk terus-menerus berulang, hampir pasti ada yang salah dengan para pembuat kebijakan. Sesederhana itu. (*)





*)Redaktur Pelaksana Panditfootball.com

Editor: Fim Jepe
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore