
Ardy N. Shufy
Bahkan, mirisnya, kasus Budi Eka baru terangkat setelah ada media yang meliput dan meramaikannya di media sosial. Jika tidak terpublikasi, tidak ada rekaman dan bukti foto dari media, bukan tak mungkin tak akan ada tindakan tegas terhadap pelaku kekerasan tersebut. Sebab, kompetisi level Liga Nusantara memang kurang mendapat publikasi. Padahal, hal-hal seperti yang dilakukan Budi Eka sering terjadi dalam liga tersebut.
Di Indonesia, setiap kekerasan atau kebrutalan, baik di dalam maupun di luar lapangan, memang terjadi karena hukuman dari PSSI tidak memberikan efek jera. Kerusuhan suporter yang sampai melayangnya nyawa saja, hukumannya hanya melarang supporter tersebut memakai atribut. Jangan heran jika kejadian yang sama akan terus berulang.
Di Indonesia, wasit memang cenderung kurang mendapat respek. Bahkan dengan mudahnya kesebelasan Indonesia melakukan aksi mogok main setiap ada keputusan wasit yang dianggap tak adil. Bahkan, itu terjadi di kompetisi teratas sepak bola Indonesia.
Memang, wasit Indonesia sendirilah yang kerap memancing agresivitas pemain maupun suporter. Wasit Indonesia sering tidak mampu menjaga atau mengontrol tensi pertandingan. Tak jarang juga kita menyaksikan wasit yang memutuskan pelanggaran meski bukan pelanggaran atau sebaliknya. Hakim garis juga sering mengangkat bendera offside, padahal seharusnya tidak.
Namun, karena wasit merupakan perangkat pertandingan yang disediakan federasi, kesalahan jelas ada di pihak federasi. Wasit Indonesia, tampaknya, sudah jarang mendapat peningkatan kualitas. Ketimbang meng-upgrade sumber daya wasit yang ada, federasi justru berniat mendatangkan wasit asing. Karena itu, jangan heran jika wasit-wasit Indonesia sulit mendapat verifikasi dari ajang-ajang internasional bergengsi.
Mendatangkan wasit asing bukanlah hal buruk. Hanya, rasanya, masalah kepemimpinan wasit dan perilaku pemain atau pelatih terhadap wasit tidak akan selesai dengan hanya mendatangkan wasit asing.
Jadi, memang sudah seharusnya PSSI selaku federasi sepak bola Indonesia lebih peduli terhadap nasib wasit. Setiap perilaku agresif pemain atau manajer akan bisa diminimalisasi jika seandainya wasit-wasit Indonesia well-educated.
Setelah itu, hukuman bagi pihak yang melakukan kekerasan pun haruslah tegas. Sampingkan sejenak alasan kemanusiaan yang sering membuat hukuman federasi menjadi permisif.
Itu perlu dilakukan agar setiap hukuman yang diberikan bisa membuat pihak lain yang tidak melakukannya berpikir lebih jauh sebelum melakukan kekerasan kepada wasit. Dengan begitu, semua pihak akan menghargai wasit sebagai pengampu keputusan dan pertandingan sepak bola pun bisa disaksikan serta dinikmati sebagaimana mestinya.
Sebab, jika kejadian buruk terus-menerus berulang, hampir pasti ada yang salah dengan para pembuat kebijakan. Sesederhana itu. (*)
*)Redaktur Pelaksana Panditfootball.com

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
