Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 26 Januari 2024 | 23.05 WIB

Status Pro Sport Sebut Sepak Bola dan Pasar Ekonomi Indonesia Menggiurkan untuk Dimaksimalkan

Status Pro Sport, perusahaan agensi sepak bola dari Belanda, melirik pasar Indonesia. - Image

Status Pro Sport, perusahaan agensi sepak bola dari Belanda, melirik pasar Indonesia.

JawaPos.com–Survey Nielsen pernah membuktikan Indonesia sebagai negara paling gila sepak bola di urutan tiga besar dunia. Pasar Indonesia punya potensi besar.

Hal ini yang menginspirasi Status Pro Sport, perusahaan agensi sepak bola dari Belanda, melirik pasar Indonesia. Didirikan pada 2011, Status Pro Sport diisi pakar-pakar di bidang digital marketing, sales, hingga produksi konten.

Seiring waktu, perusahaan itu kemudian membuka cabangnya di Indonesia pada era Covid-19. Salah satu pekerjaan yang paling terlihat adalah personal branding para pemain sepak bola yang merumput di negeri ini.

Pesepak bola Marc Klok merupakan salah satu pemain yang ikut serta membesarkan perusahaan. Kini sudah banyak pemain yang ditangani dan dibantu untuk bisa menjual diri demi memaksimalkan potensi ekonomi yang ada dari kegilaan masyarakat Indonesia akan sepak bola.

Pada era sepak bola modern, pemain sepak bola kini bukan cuma pesohor lapangan hijau saja. Mereka juga kini bak artis yang kerap muncul di layar kaca sebagai brand ambassador brand-brand besar.

”Saya sudah bekerja di sektor ini sejak 2011, kemudian 2014 adalah pertama kali saya melakukan project di Indonesia. Sampai saat ini masih sulit mencari formula yang tepat (untuk pengembangan sepak bola Indonesia),” kata Founder Status Pro Sport Estafano van Aanholt di Senayan City, Jakarta.

”Kami juga ingin membawa pemain atau tim muda ke Eropa. Kami juga ingin adanya pertukaran pakar-pakar antar kedua belah pihak,” tambah dia.

”Ada juga program komunitas lewat Oranje Indonesia yang pernah digelar sebelumnya (nobar Timnas Belanda di Piala Dunia 2022),” ujar dia.

Membawa bakat-bakat terbaik Indonesia ke Eropa menjadi misi yang ingin diwujudkan. Untuk satu ini masih menjadi tantangan karena pemain sepak bola Indonesia belum dijadikan referensi klub-klub Benua Biru.

Regulasi yang ketat juga kadang menyulitkan pemain Indonesia untuk unjuk gigi di Eropa. Contoh paling gampang adalah Bagus Kahfi yang akhirnya cuma numpang nama di FC Utrecht.

Sebab pemain asing, dari manapun mereka berasal, diharapkan bisa memberikan value lebih dibanding pemain lokal. Di Belanda misalnya, ada aturan menggaji besar pemain asing, untuk menjaga mutu kalau pilar impor yang datang memang benar-benar berkualitas.

Tapi bermain di Eropa juga tidak melulu mustahil buat pemain Indonesia. Bisa dimulai dengan bermain di negara-negara yang kurang ketat regulasinya.

”Kalau di Inggris atau Belanda memang susah, tapi bisa di Belgia atau negara-negara Eropa Timur. Kami ingin pemain bercita-cita setinggi mungkin, kami mau memberikan tuntunan,” ucap Estefano yang memiliki darah Maluku dari kakek dan neneknya.

Banyak pekerjaan yang sedang dan akan dilakukan untuk membantu sepak bola Indonesia terus berkembang. Tak cuma soal pemain, tapi juga sepak bola itu sendiri.

Untuk itu, mimpi dan usaha-usaha pun dicanangkan. Salah satunya adalah harapan untuk menjembatani sepak bola Indonesia dengan Eropa, khususnya Belanda, berupa kerja sama, asistensi, hingga pertukaran ide.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore