
Pelatih timnas Jepang, Hajime Moriyasu ketika memimpin anak asuhnya bermain melawan Vietnam pada 14 Januari. (Sumber: REUTERS/Thaier Al-Sudani)
JawaPos.com - Setelah memastikan tiket ke Piala Dunia 2026 sebagai juara grup C, Timnas Jepang tampil dengan wajah berbeda saat melawan Australia dalam lanjutan kualifikasi. Dalam laga yang digelar di Perth (6/6/2025) lalu, pelatih Hajime Moriyasu secara mengejutkan menurunkan sembilan pemain debutan dan sejumlah pemain lapis kedua. Keputusan itu membuat rekor tak terkalahkan Jepang di fase kualifikasi harus terhenti usai takluk 0–1 dari tuan rumah Australia melalui gol menit akhir Aziz Behich.
Meski kalah, langkah Moriyasu tak lepas dari strategi jangka panjang. Ia menyebut rotasi tersebut sebagai bagian dari pembangunan kedalaman skuad (squad depth) untuk menghadapi tantangan besar di Piala Dunia mendatang. “Kami butuh mengembangkan pemain baru, dan memberikan mereka pengalaman di level tertinggi adalah bagian dari investasi jangka panjang,” ujar Moriyasu dalam konferensi pers usai pertandingan, sebagaimana dilansir Reuters. Ia juga mengakui bahwa "kurangnya pengalaman dan ketenangan menjadi salah satu penyebab kekalahan" timnya.
Dalam laga tersebut, Jepang sebenarnya mendominasi penguasaan bola, namun kesulitan membongkar pertahanan Australia yang tampil solid. Kurangnya kreativitas dan penyelesaian akhir jadi sorotan. Hal ini memunculkan pertanyaan besar: apakah pendekatan eksperimental Jepang ini akan membuka celah bagi Indonesia dalam laga terakhir Grup C di Suita City Stadium, Osaka, pada 10 Juni mendatang?
Bagi Indonesia, yang sudah memastikan lolos ke ronde keempat sebagai runner-up grup, laga ini bisa menjadi peluang untuk mencuri poin atau bahkan lebih. Dengan Jepang yang mungkin kembali menurunkan kombinasi pemain muda dan pelapis, skuad Garuda memiliki kesempatan untuk menguji diri tanpa tekanan hasil. Apalagi sejumlah pengamat menilai bahwa meskipun Jepang unggul kualitas individu, kekompakan tim pelapis mereka belum setara dengan skuad utama.
Namun, di sisi lain, eksperimen Moriyasu bisa menjadi alat penguat skuad Jepang. Memberi debutan jam terbang di laga internasional kompetitif memungkinkan mereka tampil lebih percaya diri, sekaligus menjadi kejutan tak terprediksi bagi lawan. “Mereka memang belum berpengalaman, tapi secara teknis dan fisik mereka sangat siap. Saya yakin dalam 1-2 tahun mereka akan jadi pemain kunci Jepang,” tulis The Guardian dalam ulasannya tentang rotasi ini.
Indonesia sendiri perlu bersiap terhadap dua kemungkinan: tim utama Jepang yang ingin menutup kampanye kualifikasi dengan catatan sempurna di kandang, atau tim eksperimen yang lebih lepas dan penuh semangat pembuktian. Apapun yang terjadi, pertandingan ini dipastikan akan menjadi ajang evaluasi penting bagi kedua tim—satu menguji kedalaman untuk turnamen besar, yang lain mengasah konsistensi untuk babak berikutnya.

Bocor! 3 Alasan Krusial Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Nomor Dua Jadi Kunci Utama
Viral Penonton Konser F4 di Jakarta Kena Campak Sebelumnya, Kemenkes Lakukan Pengecekan
Soal Kabar Kepala BGN Dadan Hindayana Ditangkap, Dasco: Serahkan ke Aparat Hukum
Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Kunker Luar Negeri Presiden Dikritik, Teddy Singgung Dino Patti Djalal yang hanya 3 Bulan jadi Wamenlu
Kejagung Konfirmasi Penggeledahan Kantor BGN Usai Pencopotan Dadan Hindayana
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Wariskan 39 Gol yang Sulit Dilupakan
Profil Sony Sanjaya, Eks Jenderal Polri yang Dicopot Sebagai Wakil Kepala BGN, Sempat Diterpa Isu OTT
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
