
Ilustrasi Apartemen yang ada di Jakarta.
Jawapos.com - Bersamaan dengan derasnya arus urbanisasi, lahan-lahan di Jakarta kian hari kian sempit. Para penghuni pusat kota dan sekitarnya sudah mulai berganti tempat tinggal dari rumah tapak menjadi hunian vertikal.
Mulanya masyarakat terpaksa tinggal di apartemen karena kepemilikan yang berbeda dengan rumah tapak. Namun, lama kelamaan hunian vertikal juga dibutuhkan seiring dengan kemudahan akses yang ditawarkan. Banyak juga yang menjadikan apartemen sebagai investasi.
Berdasarkan data Colliers Internasional, bersamaan dengan hadirnya unit-unit apartemen yang selesai pada kuartal I-2018, maka jumlah apartemen dengan status hak milik di Jakarta sudah mencapai 189.882 unit.
Senior Associate Director Research Colliers International Ferry Salanto menuturkan, pada kuartal I-2018 saja sudah ada 5.589 unit pasokan apartemen baru yang merupakan penyelesaian dari sembilan proyek yang sudah ada pada tahun sebelumnya.
“Angka ini lebih dari dua kali lipat pasokan tahun lalu dan mewakili 22 persen dari total pasokan yang diproyeksikan pada 2018, yang terdiri dari 25.410 unit,” kata Ferry Salanto dikutip JawaPos.com dari data Colliers Internasional, Rabu (20/6).
Tak berhenti sampai di situ, ada lima dari sembilan proyek yang diklaim selesai pada kuartal I-2018, di antaranya Sudirman Suites, Distrik 8, Signature Park Grande, Kota Bassura, dan St. Moritz sebelumnya diharapkan dibuka pada 2017.
Dengan rampungnya proyek-proyek yang baru selesai itu, maka total pasokan apartemen yang ada di Jakarta telah mencapai 189.882 unit, atau meningkat 3 persen dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.
Ferry mengatakan, total pasokan apartemen di Jakarta dari 2018 hingga 2020 mencapai 59.968 unit, yang terdiri atas 25.410 unit pada 2018, 20.234 unit di 2019, dan 14.324 unit pada 2020.
“Kami percaya bahwa saat ini investor cenderung lebih pemilih dan lebih berisiko menghindari ekonomi yang lesu,” terangnya.
Bersamaan dengan tingginya pembangunan infrastruktur transportasi di Jakarta dan sekitarnya, masyarakat Jakarta dengan penghasilan di bawah Rp 7 juta didorong untuk tinggal di rumah vertikal. Salah satunya dengan cara pengusungan proyek Transit Oriented Development atau TOD yang dibangun di atas stasiun Commuterline serta proyek kereta ringan atau LRT.
“Pemerintah DKI Jakarta menyatakan untuk mempromosikan tidak hanya MRT tetapi juga model pembangunan berorientasi transit (TOD) yang menggabungkan infrastruktur transportasi dan pengembangan properti,” tutur Ferry.
Konsep TOD ini fokus pada penyediaan layanan angkutan umum yang lebih baik, sementara pada saat yang sama meningkatkan konektivitas dan memaksimalkan sektor publik dan swasta. Akan tetapi, konsep TOD dinilai relatif baru untuk warga Jakarta.
Ferry menilai, hingga saat ini pasar tampaknya masih datar karena orang-orang menunggu untuk melihat perkembangan konsep ini akan berkembang sebelum membuat keputusan untuk membeli.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
