
Aktivis kemanusiaan Natalius Pigai dan Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais turut serta dalam unjuk rasa buruh di depan gedung DPR, Jakarta, Selasa (1/5)
JawaPos.com - Operasi penanggulangan terorisme dan pembebasan sandera di Rumah Tahanan (Rutan) Mako Brimob dianggap sukses. Hal itu dinyatakan langsung oleh Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian seusai meninjau Tempat Kejadian Perkara (TKP) pada Kamis (10/5) malam.
Kesuksesan itu didapat karena petugas menerapkan standar penyelamatan internasional. Hal senada juga disampaikan oleh Aktivis Kemanusiaan, Natalius Pigai. Mantan Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) itu menilai Tito telah melakukan reformasi di internal Polri dengan baik.
Sebab dari pengamatan Pigai jika berkaca dari kasus-kasus penanganan terorisme yang pernah terjadi, Polri kerap kali mengabaikan prosedur yang berlaku, bahkan cenderung melanggarnya.
"Kami menghargai Kepolisian di bawah kepemiminan Tito Karnavian dan Wakapolri Syafruddin telah melakukan reformasi substansial. Karena berdasarkan pengamatan kami, setiap peristiwa menghadapi kelompok insurgensia domestik dan pelaku teror seringkali mengabaikan prosedur," kata Pigai dalam keterangan tertulis yang diterima JawaPos.com, Jumat (11/5).
Menurut Pigai dalam aksi penanganan terorisme sebelumnya, Polri memiliki catatan negatif misalnya soal pelanggaran prosedur tetap (protap). Sehingga menyebabkan banyaknya korban jiwa dan sebagainya. Seperti yang terjadi di Poso, Solo, Medan dan beberapa tempat lain.
Sementara itu, saat ini hal tersebut perlahan menghilang. Dalam setiap operasinya, Polri dianggap mengedepankan HAM. Hal itu sebagai penanda mulai terjadinya reformasi subtansial di tubuh Polri.
"Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang mau menjalankan tugas pelaksanaan kepolisian berbasis HAM sesuai dengan amanat yang terkandung dalam Peraturan Kapolri (Perkap) Nomor 8 Tahun 2009," tegas Pigai.
Operasi berlandaskan HAM itu tercemin dari upaya penyelesaian kericuhan di Rutan Mako Brimod. Meski lima anggota polisi dibantai mengenaskan oleh napiter, aparat tetap tenang dan tidak melakukan pembalasan secara membabi-buta.
Bahkan dalam kejadian penyanderaan selama 38 jam itu, hanya satu orang napiter yang dinyatakan tewas. Sedangkan 155 lainnya menyerahkan diri dengan sukarela.
"Kita harus memberi hormat kepada Kepolisian. Meskipun anggotanya gugur dalam tugas, namun anggota polisi yang ada saat itu tidak melakukan tindakan balasan untuk menewaskan sejumlah tahanan," pungkas Pigai.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
