
SEBERANGI SUNGAI: Pelajar SD dan SMP di dusun Damma, Desa Bonto Matinggi, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, Sulsel bertaruh nyawa dengan menyeberangi sungai yang dalam dan deras arus, Sabtu (7/4).
JawaPos.com - Puluhan pelajar Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah (SMP) di Dusun Damma, Desa Bonto Matinggi, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel) rela bertaruh nyawa dengan menyeberangi sungai untuk menuju sekolahnya.
Mereka tidak punya pilihan lain, lantaran satu-satunya akses yang bisa mereka lalui, hanya di sungai itu saja untuk bersekolah. Abdullah, 38, salah satu warga di daerah setempat mengatakan, kondisi ini sebenarnya sudah berlangsung cukup lama.
Saat hujan deras dan sungai meluap, menurut Abdullah, para pelajar tersebut terpaksa meliburkan diri karena sungai tidak bisa diarungi lagi. Tak hanya mereka, ratusan warga pun ikut terisolir dengan kondisi tersebut.
"Kondisi ini sudah sejak awal adanya kampung kami di sini. Setiap hari, baik warga maupun anak sekolah bertaruh nyawa menyeberang sungai ini. Kita tidak punya pilihan lain, karena ini satu-satunya jalan," kata Abdullah, Minggu (8/4).
Kondisi ini, imbuhnya sudah dialami warga sejak dulu. Namun, tidak pernah mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Jembatan yang diperuntukkan sebagai akses utama yang telah dibuat pemerintah setempat sejak 2015 lalu juga tidak kunjung diselesaikan hingga kini.
Bahkan sejumlah warga kerap ditemukan meninggal dunia karena hanyut sewaktu menyeberangi sungai. Kasus tersebut sempat terjadi beberapa tahun terakhir, ketika seorang ibu yang membawa dua anaknya ditemukan tak bernyawa ketika menyeberangi sungai.
Tak hanya itu, seorang warga yang meninggal dunia bahkan pernah tidak disalatkan karena tidak satu pun pemuka agama yang datang karena kondisi air deras.
"Kami juga heran kenapa jembatan itu tidak kunjung dirampungkan, padahal sungai ini sudah menelan korban. Penderitaan warga di seberang sungai sangat berat karena kadang mereka terisolir kalau airnya tinggi," lanjutnya.
Dari pantauan JawaPos.com sewaktu berkunjung ke lokasi itu, Sabtu (7/4), siswa yang baru saja pulang dari sekolahnya menyeberang sungai dengan menggunakan ban yang ditarik oleh siswa lainnya. Itu pun hanya ada satu-satunya ban, sehingga siswa itu harus bolak-balik menjemput.
Ban itu hanya boleh dinaiki oleh siswa yang masih duduk di bangku SD dan juga pelajar perempuan. Siswa lainnya, berenang sambil membawa tas mereka dengan menggunakan satu tangan. Bahkan, beberapa dari mereka pun terseret arus hingga beberapa meter dari tempat awal mereka berenang.
"Ban ini dinaiki untuk anak SD sama anak perempuan saja, karena kita takut mereka terseret. Mereka semua bisa berenang. Tapi airnya memang deras dan dalam, jadi kita gunakan ban sebagai bantuan," kata seorang siswa SMP kelas 2, Iskandar.
Bagi mereka, rasa takut saat bertaruh nyawa menyeberangi sungai itu, bagian dari perjuangan mereka meraih cita-cita. Iskandar yang ingin menjadi guru itu, bermaksud membuka sekolah di kampungnya, agar hal yang dialaminya saat ini tidak lagi dirasakan oleh anak-anak lain nantinya.
"Saya mau jadi guru, biar nanti saya buka sekolah di kampung saya. Saya tidak mau melihat lagi anak-anak nantinya seperti kami ini. Kalau dibilang takut, pasti adalah. Tapi harus bagaimana lagi. Ini kita anggap satu perjuangan," sebutnya.
Saat ini, baik siswa maupun warga, sangat berharap jembatan itu segera dirampungkan. Jembatan itu merupakan satu-satunya harapan mereka untuk melanjutkan kehidupan mereka yang lebih baik. Pasalnya, tak jarang hasil pertanian dan kebun mereka tidak bisa dijual karena tidak ada akses.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
Pegawai Diskominfo Kukar Bakar Kantor Usai Wajah Dijadikan Stiker WA
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
Doktif Bongkar Transfer Rp 9 Juta Richard Lee, Disebut untuk Jasa Prostitusi
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Richard Lee Bela Perempuan di Podcast, Eks Karyawan: Dia Penjahat Wanita
Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Eks Dewas KPK Albertina Ho Tak Lolos Seleksi CHA di KY, TII Bandingkan dengan Politikus Golkar Ini
Jessica Mila Sentil Kapten Kapal Soal Polemik Pulau Padar: Harus Terbuka soal Larangan Berlayar!
HUT ke-81 RI, Naik Suroboyo Bus dan Wira Wiri Cuma Rp81, Berlaku SepekanÂ
