Minggu, 17 Dec 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Internasional

Mesir Berlakukan Keadaan Darurat, Pelajar RI Ditangkap dan Dideportasi

| editor : 

Keamanan Mesir

RISIKO: Sebuah ledakan terjadi di dekat perbatasan Mesir. Banyaknya serangan militan membuat Mesir memberlakukan keadaan darurat. (SAID KHATIB/AFP)

JawaPos.com - Sejak ditetapkannya State of Emergency alias keadaaan darurat di Mesir pada April 2017 dan selanjutnya diperpanjang mulai 13 Oktober 2017 hingga Desember 2017, aparat keamanan Mesir atau National Security secara rutin melakukan razia terhadap warga negara asing.

Itu dilakukan demi penertiban keamanan di Mesir. Razia itu pun berimbas pada warga Indonesia yang berada di negeri itu. Termasuk para pelajar yang sedang menimba ilmu di sana. Hingga Senin (4/12), KBRI Cairo telah memfasilitasi deportasi 18 pelajar.

Saat ini, jumlah WNI di Mesir per Oktober 2017 ada 7.594. Dari jumlah tersebut separuh lebih, yaitu 4.975 orang berstatus mahasiswa.

Mempertimbangkan besarnya jumlah mahasiswa di Mesir yang potensial sebagai sasaran razia aparat keamanan Mesir, KBRI Cairo telah mengomunikasikan saran sebagai upaya tindak lanjut terhadap kasus ini kepada instansi terkait di Indonesia. Termasuk mempertimbangkan untuk menghentikan pengiriman mahasiswa ke Mesir selama situasi dan prosedur keamanan di Mesir belum kondusif.

Namun, salah seorang sumber menyebut bahwa sejauh ini pihak polisi Mesir dianggap sedikit berlebihan dalam urusan menangkapi warga negara asing. ’’Setahu saya, hubungan diplomasi Mesir dan Indonesia sudah bagus, atase pertahanan juga sudah mengayomi. Bisa jadi mungkin karena kurangnya koordinasi dari pemerintah Mesir dan polisi-polisi tersebut,’’ papar seorang pelajar Universitas Al Azhar, Mesir, yang meminta namanya dirahasikan.

Selain itu, dalam kasus tangkap-menangkap ini, para WNI yang ditangkap merasa pihak KBRI kurang cepat dalam melakukan diplomasi terhadap kasusnya. ’’Bahkan, ada broadcast yang menyebar bahwa salah seorang mahasiswa Indonesia yang ditangkap, Muhammad Fitrah Nur Akbar, sudah tidak kuat berada di tahanan. Dia berkali-kali bilang mau dideportasi saja karena sudah tidak kuat lagi,’’ ujar sumber tersebut.

Penangkapan dan penahanan para pelajar polisi Mesir dilakukan mulai November. Sebagian besar adalah mahasiswa resmi yang sedang sekolah di Universitas Al- Azhar. Dampak deportasi tersebut membuat mereka tidak bisa melanjutkan kuliahnya. ’’Sedih sekali memang, tolong doakan saja supaya kami, ribuan pelajar Indonesia di Mesir tetap aman,’’ ungkapnya. (*)

(ina/ce1/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP