Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 17 Oktober 2017 | 21.42 WIB

Kegelisahan Mathias Muchus soal Minimnya Film Pendidikan

Mathias Muchus (lima dari kiri) - Image

Mathias Muchus (lima dari kiri)

JawaPos.com - Aktor Senior Mathias Muchus memandang nilai-nilai pendidikan dapat dengan baik disampaikan melalui sebuah karya film. Maka dari itu, ia mendorong para sineas muda untuk tetap menggarap produksi film-film bertema pendidikan. Bukan hanya memikirkan sektor komersial, tetapi juga ikut bertanggung jawab dalam menanamkan nilai pendidikan, moral, dan budi pekerti.


Mathias kini tengah terlibat bersama kosmetik Wardah mempersembahkan sebuah film pendek bertajuk Sanggar Senja. Mathias membintangi film tersebut. Film itu merupakan apresiasi kepada para pendidik yang dalam film diwakilkan oleh sosok Bang Adi. Film yang mengisahkan perjuangan Guru Adi dalam mendidik anak jalanan merupakan bukti nyata, belajar juga bisa dilakukan dari siapa saja, termasuk anak-anak.


"Saya mau melihat lebih luas saja bahwa pendidikan itu persoalan hidup kita. Persoalan bangsa ini masalah pendidikan, artinya minimnya pendidikan kita menjadi persoalan hidup, menjadi pelik. Jadi kalau saya diundang untuk tema pendidikan, saya selalu ya, saya langsung bilang oke," tegasnya, Selasa (17/10).


Menurutnya, sumbangsih pada dunia pendidikan bisa dilakukan lewat film, sehingga tak hanya memikirkan untung rugi bisnis saja, tetapi ada sisi-sisi sosial yang perlu didukung. Sebab, masalah pendidikan adalah masalah semua elemen bangsa.


"Saya tanpa pamrih kalau ngomong masalah pendidikan selalu hadir. Saya pada dasarnya memang senang mengajar, senang berinteraksi dengan orang-orang yang butuh pengetahuan karena media kita enggak akan naik kelas kalau masyarakatnya stuck di situ. Berhenti selera dan pengetahuannya di situ," ujarnya.


Mathias menilai banyak cara untuk menaikkan kelas suatu bangsa, paling utama lewat pendidikan. Bicara film pendidikan akan relatif jika dilihat dari sisi komersialnya.


"Sekarang banyak sih tema-tema pendidikan, ya. Kalau bicara komersial kan ada jual belinya. Kalau film pendek semacam ini lebih bisa fokus sampaikan isinya, kontennya. Lewat film ini bisa bebas berbicara dan berkreasi. Kalau soal laku atau enggak tuh relatif. Bikin film itu pasti mahal dan ada biaya. Pasti untung rugi dulu yang dihitung," paparnya.


Namun menurutnya, penggagas karya film pendidikan tak semata-mata memikirkan keuntungan. Akan tetapi proyek-proyek pembuatan film pendek bertema pendidikan tentu menghindari unsur bisnis sebagai tujuan utama. Akan berbeda lahannya dengan film komersial.


Bicara soal pendidikan di Indonesia, Mathias mengaku gemas dengan sistem pendidikan di dalam negeri. Pemerintah semestinya sudah sejak lama bisa mengantisipasi perkembangan teknologi. Jangan sampai murid justru lebih pintar dari gurunya.


"Itu naluri saya, saya pribadi agak gelisah, gemas dengan dunia pendidikan. Enggak lagi hitung pakai lidi dan segala macam. Murid lebih bisa akses teknologi. Ini kegelisahan kita bersama, kita harus buka mata semua. Kalau mau bersaing, harus ubah sistem pendidikan, jangan ikuti pola-pola lama," tandas Mathias.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore