
Ilustrasi seorang pelajar sedang membaca di perpustakaan sekolah daerah Kudus
BULAN Maret lalu, menteri pendidikan dan kebudayaan Muhadjir Effendy mengeluarkan pernyataan bahwa kemampuan literasi dan budaya membaca masyarakat Indonesia tertinggal 4 tahun dibandingkan dengan negara maju. Rata-rata siswa SMA kelas 12 di Indonesia memiliki kemampuan yang setara dengan siswa setingkat SMP kelas 8 di negara maju. Rendahnya minat baca merupakan salah satu dari sekian banyak masalah yang bahayanya tidak disadari oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.
Padahal, suatu kelompok yang membaca secara rutin akan memiliki wawasan serta pola pikir yang lebih luas. Tentunya bisa berdampak positif terhadap aspek-aspek lain dimulai. Dari meningkatnya kualitas pendidikan yang akhirnya memicu perkembangan teknologi dan perekonomian suatu negara.
Hal itu telah dibuktikan oleh beberapa negara maju seperti Jerman, Finlandia dan Amerika Serikat. Negara itu dikenal memiliki masyarakat dengan minat baca tinggi. Ketiga negara tersebut berada di posisi 10 besar pemeringkatan literasi internasional yang dirilis pada maret 2016 lalu oleh Most Literate Nations in the World[1].
Finlandia yang merupakan negara dengan salah satu sistem pendidikan terbaik di dunia bertengger di posisi pertama. Sementara Amerika Serikat dan Jerman secara berurutan berada di posisi ke 7 dan 8. Ketika negara-negara maju jauh berada di atas, Indonesia menempati posisi ke 60 dari 61 total negara, satu peringkat di atas Botswana.
Padahal, dari segi infrastruktur yang mendukung kegiatan membaca, Indonesia mengungguli Jerman dengan berada di peringkat ke 34. Dari ranking minat baca yang tidak berbanding lurus dengan cukup mapannya infrastruktur pendukung, muncul hipotesis negatif. Yang mengindikasikan masyarakat Indonesia, terutama di daerah perkotaan, belum mampu mengoptimalkan sumber-sumber untuk menumbuhkan minat baca. Terutama di kalangan generasi muda termasuk pelajar usia sekolah dasar.
Selain itu, yang sudah menjadi masalah adalah, tidak meratanya penyebaran minat baca di Indonesia. Progress in International Reading Literacy Studies yang diterbitkan International Study Center, Boston College[2] pada 2011 menampilkan data statistik. Kesimpulannya, berdasarkan standar skala penilaian PIRLS, distribusi perolehan membaca anak usia sekolah dasar di Indonesia berada di bawah rata-rata.
Dari skala standar PIRLS yang bernilai 500, Indonesia berada di posisi 4 dari bawah dengan skala nilai 428. Tidak terlihat begitu mencolok memang, namun perlu diketahui bahwa fasilitas membaca seperti perpustakaan sekolah dan perpustakaan berjalan yang terbilang sudah baik dan layak.
Apalagi, dengan beragam fasilitas berteknologi canggih yang menunjang berbagai fitur. Termasuk ketersediaan buku elektronik, belum banyak tersebar di daerah-daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) di Indonesia. Hal itu memberi pengaruh besar terhadap penyebaran minat baca di Indonesia yang memiliki jumlah daerah tertinggal cukup banyak.
Jumlah daerah tertinggal di Indonesia jauh lebih banyak dibandingkan dengan daerah yang sudah berkembang. Faktor geografis mempengaruhi sulitnya pengembangan sebagian besar daerah tertinggal di Indonesia yang berlokasi di pedalaman serta tersebar di berbagai pulau besar maupun kecil.
Keterbatasan itu berdampak pada tersendatnya pengadaan berbagai fasilitas termasuk diantaranya pembangunan perpustakaan, pendistribusian buku hingga pengadaan fasilitas pendukung seperti internet dan komputer sebagai penunjang kegiatan membaca baik akademis maupun non-akademis.
Berbanding terbalik dengan daerah 3T, siswa-siswi sekolah dasar di wilayah perkotaan maupun daerah berkembang lainnya di Indonesia tidak merasakan minimnya fasilitas serta sulitnya memperoleh akses bacaan baik dalam bentuk cetak maupun digital. Namun fenomena yang ada di masyarakat adalah, anak-anak di lingkungan modern masih belum memiliki kesadaran yang cukup untuk menanamkan kebiasaan membaca secara rutin.
Berbagai fasilitas di sekolah seperti perpustakaan serta akses internet di beberapa sekolah dasar di daerah kota masih belum dimanfaatkan dengan baik oleh para siswa-siswi.
Perpustakaan yang sepi serta asingnya kegiatan membaca buku dikalangan anak dan remaja bukan hal yang mengagetkan lagi di Indonesia apalagi semenjak internet semakin mudah diakses. Popularitas buku dikalangan generasi muda kian anjlok termakan oleh hingar-bingar media sosial, mesin pencari serta situs berbagi video dan berbagai fitur lain yang dapat diakses melalui internet.
Tak banyak siswa-siswi sekolah dasar maupun guru serta orang tua yang peduli bahwa dari berbagai fitur yang tersedia di dunia maya, di luar media sosial serta komunikasi dan sarana hiburan lainnya, banyak sekali sarana modern yang dapat dimaksimalkan sebagai sumber bacaan seperti buku elektronik serta berbagai blog dan situs penyedia artikel, jurnal maupun sumber bacaan lain.
Hal ini menunjukkan betapa minimnya kesadaran siswa-siswi serta para pendidik, dalam hal ini guru dan orang tua, dalam pemanfaatan fasilitas yang sudah ada dan semestinya dapat sangat membantu perkembangan minat baca generasi muda.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
