
Tim BPBD Kota Pasuruan sedang melakukan penyisirian korban di ruang kelas SDN Gentong, Kelurahan Gentong, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan, yang atapnya ambruk, Selasa (5/11/2019) pagi. Ambruknya atap empat ruang kelas di sekolah ini mengakibatkan satu
JawaPos.com - Insiden ambruknya atap SDN Gentong, Kota Pasuruan, Jawa Timur menjadi sorotan publik. Apalagi kejadian nahas tersebut menelan korban jiwa.
Peristiwa itu sangat menjadi catatan dari sejumlah pihak. Pasalnya, gedung sekolah itu tergolong baru. Bahkan atapnya yang menggunakan rangka baja ringan terlihat masih baru.
Asosiasi Roll Former Indonesia (ARFI) angkat bicara. Tapi bukan untuk kasus SDN Gentong. Melainkan saran untuk penggunaan material baja ringan untuk konstruksi bangunan.
Ketua Umum ARFI Stephanus Koeswandi mengatakan bahwa ada sejumlah hal penting yang diperhatikan dalam konstruksi. Terutama yang berkaitan dengan baja ringan. Yakninya produk yang berkualitas, desain, dan cara pemasangan yang tepat.
"Sebenarnya ini (atap roboh, red) sudah kejadian yang kesekian kalinya. Memang kita mesti lihat lebih lanjut penyebabnya apa," kata Stephanus Koeswandi kepada JawaPos.com, Sabtu (9/11).
Menurut dia, cara pemasangan baja ringan sangat berpengaruh terhada ketahanan. Begitu juga kualitas. Saat ini baja ringan sangat membanjiri Tanah Air. Kualitasnya sangat beragam. "Salah-salah pilih, risikonya bahaya," ujar Koeswandi.
Sebagaimana diketahui dunia pendidikan tengah berkabung. Atap empat ruang kelas UPT SDN Gentong, Kota Pasuruan, Selasa (5/11) mendadak runtuh. Insiden itu menimpa puluhan siswa.
Empat ruang kelas yang atapnya ambruk tersebut adalah kelas II-B, II-A, V-B, dan V-A. Keempatnya berada di satu lokal. Terletak di bagian depan sekolah, berjejer dari selatan ke utara. Posisi lokal ruangan menghadap ke barat atau Jalan Raya KH Sepuh.
Korban tewas adalah Sevina Arsy Wijaya, 19, pegawai tidak tetap (PTT) di sekolah tersebut. Warga Jalan Slamet Riyadi, Kota Pasuruan, itu mengalami pendarahan otak setelah kepalanya tertimpa batu bata yang berjatuhan bersamaan dengan ambrolnya atap kelas. Korban lain bernama Irza Almira, 8, warga Kelurahan Gentong, Kecamatan Gadingrejo. Gadis kecil itu meninggal setelah tertimpa galvalum dan asbes. Dia mengalami pendarahan di belakang kepala dan memar di wajah.
Menurut penelusuran Jawa Pos Radar Bromo, peristiwa memilukan itu terjadi pada pukul 08.15. Saat itu para siswa mengikuti kegiatan seperti biasa. Mereka masuk kelas pukul 07.00. Siswa kelas II-B dan II-A mendapat pelajaran matematika. Siswa kelas V-A dan V-B mengikuti pelajaran olahraga di halaman sekolah. Ada tiga siswa kelas V-A yang tidak ikut olahraga. Mereka tetap berada di kelas dengan didampingi Sevina Arsy Wijaya, PTT yang merupakan pegawai perpustakaan sekolah.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
