Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 29 Oktober 2025 | 21.53 WIB

Politik Multipolar dan Masa Depan Tata Dunia: Bagaimana Indonesia Bisa Bermain di Panggung Kekuatan yang Kini Tak Lagi Tunggal?

Distribusi kekuatan ekonomi global pada tahun 2018 mencerminkan pergeseran menuju sistem multipolar. (Modern Diplomacy) - Image

Distribusi kekuatan ekonomi global pada tahun 2018 mencerminkan pergeseran menuju sistem multipolar. (Modern Diplomacy)

JawaPos.com - Lanskap politik global tengah mengalami perubahan besar. Dominasi satu kekuatan besar pasca-Perang Dingin perlahan memudar, digantikan oleh munculnya banyak kutub kekuatan yang saling berinteraksi. Fenomena ini dikenal sebagai politik multipolar, sebuah tatanan dunia di mana kekuasaan dan pengaruh tidak lagi terpusat pada satu negara, melainkan tersebar di antara beberapa aktor utama.

Penelitian berjudul Changing Dynamics of Global Politics: Transition from Unipolar to Multipolar World oleh Muzaffar, Yaseen, dan Rahim, menjelaskan bahwa masa dominasi Amerika Serikat pasca-runtuhnya Uni Soviet kini menghadapi tantangan besar akibat kebangkitan kekuatan baru seperti Tiongkok, Rusia, India, dan Uni Eropa. Menurut mereka, perubahan ini menandai berakhirnya era unipolar dan lahirnya sistem multipolar yang lebih kompleks dan kompetitif.

Namun, bukan hanya banyaknya kekuatan baru yang menandai perubahan dunia. Dalam jurnal International Affairs, para peneliti memperkenalkan istilah baru, “multiplex world order”. Mereka berpendapat bahwa dunia kini tidak sekadar terdiri dari banyak kutub kekuasaan, tetapi juga berbagai jaringan kerja sama lintas negara yang saling berlapis, mulai dari ekonomi, lingkungan, hingga keamanan.

“Kapasitas interaksi antarnegara kini menjadi indikator utama kekuatan global,” tulis Acharya dkk, dalam penelitiannya.

Dari sisi pendekatan ekonomi dan strategis, artikel Adapting to Multipolarity: Insights from Iterated Game Theory Simulations yang diterbitkan oleh MDPI mengulas bagaimana sistem multipolar mempengaruhi perilaku negara melalui model teori permainan (game theory). Hasilnya menunjukkan bahwa dunia multipolar tidak selalu berarti konflik selama negara-negara memiliki strategi adaptif dan nilai kerja sama yang kuat, maka peluang kolaborasi justru meningkat.

Lalu, di mana posisi Indonesia dalam dinamika global ini?
Menurut penelitian Multipolar International System and the Place of Indonesia: Prospect and Opportunities oleh Mladenov dan Sulthan (2023) yang diterbitkan oleh JASSP, Indonesia berpotensi menjadi aktor tengah (middle power) yang berperan penting dalam menjaga stabilitas kawasan. Dengan posisi geografis strategis dan diplomasi aktif di forum seperti ASEAN dan G20, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi jembatan antara kekuatan besar dunia.

“Indonesia perlu mengoptimalkan nilai budaya dan politik luar negerinya yang bebas aktif untuk memperkuat peran di tengah sistem multipolar,” tulis Mladenov dan Sulthan. Mereka juga menekankan pentingnya diplomasi ekonomi dan kerja sama regional agar Indonesia tidak sekadar menjadi arena persaingan kekuatan besar, melainkan pemain aktif yang menentukan arah kebijakan kawasan.

Meski demikian, politik multipolar juga menghadirkan tantangan baru. Fragmentasi kepentingan antarnegara dapat memicu ketidakstabilan, sementara legitimasi lembaga global seperti PBB dan WTO mulai dipertanyakan di tengah munculnya kekuatan-kekuatan baru.Acharya dkk memperingatkan bahwa dunia multipolar tanpa koordinasi bisa berujung pada “chaotic plurality”, di mana terlalu banyak aktor membuat tata kelola global kehilangan arah.

Di sisi lain, Muzaffar dkk, melihat dinamika ini sebagai peluang bagi negara-negara berkembang untuk memperjuangkan kepentingan mereka secara lebih sejajar. Ketika tidak ada satu kekuatan hegemonik yang dominan, ruang untuk diplomasi alternatif dan kerja sama Selatan-Selatan semakin terbuka lebar.

Bagi Indonesia, tantangan terbesarnya adalah menyeimbangkan hubungan dengan semua kutub kekuatan dunia, Amerika Serikat, Tiongkok, Rusia, dan Uni Eropa, tanpa kehilangan identitas politik luar negeri yang independen. Diplomasi cerdas, netralitas strategis, dan kerja sama multilateral menjadi kunci dalam menghadapi era ini.

Perubahan menuju politik multipolar bukanlah sekadar pergeseran kekuasaan, melainkan transformasi cara dunia berinteraksi. Dalam tatanan baru yang penuh keragaman ini, kemampuan negara untuk beradaptasi dan berkolaborasi akan menentukan apakah multipolaritas menjadi ancaman atau justru peluang menuju keseimbangan global yang lebih adil. (*)

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore