Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 1 September 2024 | 23.08 WIB

Parpol Bergabung ke Koalisi Prabowo, Pengamat Sebut Semakin Sedikit Kubu Partai yang Memilih Jalur Oposisi

Ketua Umum Partai Gerindra sekaligus presiden terpilih Prabowo Subianto menyampaikan sambutan saat acara Penutupan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai Gerindra di Indonesia Arena, GBK, Senayan, Jakarta, Sabtu (31/8/2024). (Dery Ridwansah/ JawaPos.co - Image

Ketua Umum Partai Gerindra sekaligus presiden terpilih Prabowo Subianto menyampaikan sambutan saat acara Penutupan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai Gerindra di Indonesia Arena, GBK, Senayan, Jakarta, Sabtu (31/8/2024). (Dery Ridwansah/ JawaPos.co

JawaPos.com - Analis komunikasi politik Lembaga Survei KedaiKOPI Hendri Satrio mengatakan, dinamika saat ini mengisyaratkan bahwa akan semakin sedikit kubu partai politik yang memilih jalur oposisi. Bahkan, tak dimungkiri bahwa partai politik semakin enggan menjadi oposisi.

Menurut Hensat, sapaan Hendri Satrio, keengganan parpol menjadi oposisi disebabkan kurangnya dukungan masyarakat saat pemilu. Hal tersebut bisa dilihat dari perolehan kursi parlemen yang tak banyak mengalami peningkatan. "Jadi, tak ada reward yang signifikan dari rakyat," kata Hensat kepada Jawa Pos kemarin.

Sebagai contoh, dua parpol oposisi di awal pemerintahan Joko Widodo-Ma’ruf Amin, yakni PKS dan Demokrat. Dua parpol tersebut tidak mendapatkan dukungan signifikan saat pemilu. PKS hanya naik 3 kursi di DPR tahun ini. Sedangkan kursi Partai Demokrat justru turun. Padahal, dua partai itu memberikan cukup banyak masukan kritis kepada pemerintah.

"Reward dari rakyat saat menjadi oposisi terakhir didapatkan PDI Perjuangan yang menang saat Pemilu 2014. Setelah itu, otomatis oposisi tenggelam," kata Hensat.

Dia menilai, saat ini tidak ada istilah oposisi jika melihat dinamika politik di Indonesia. "Yang ada adalah kekuatan di luar pemerintahan. Tapi, jika didukung rakyat, seharusnya suara parpol oposisi naik ya," ujar Hensat.

Dia menegaskan, oposisi tetap dibutuhkan pemerintah. Sebab, ketiadaan oposisi jelas akan membuat rakyat sulit untuk menyampaikan aspirasi serta masukan kepada pemangku kebijakan.

"Tapi, jika ingin menyelamatkan parpol dari, misalnya sandera politik, ya harus kadernya yang bergerak sendiri untuk menyadari akan kebutuhan oposisi itu tanpa intervensi penguasa, rakyat tidak bisa menyelamatkan parpol," tandasnya. (far/tyo/c7/oni)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore