JawaPos.com - Calon presiden (capres) nomor urut 3, Ganjar Pranowo menjenguk relawan yang menjadi korban penganiayaan oknum TNI di Boyolali, Jawa Tengah, Sabtu (30/12). Peristiwa itu mengakibatkan tujuh relawan Ganjar-Mahfud menjadi korban penganiayaan 15 oknum anggota TNI di depan Markas Kompi B Yonif Raider 408/Sbh, Jalan Perintis Kemerdekaan, Boyolali.
“Iya dari tujuh anak, ada dua yang masih dirawat yaitu Slamet Andono dan Arif Diva Ramandhani. Satu tadi, saya tidak sempat ngomong karena masih tidur, karena situasinya masing-masing bengkak-bengkak, yang satu sudah bisa diajak bicara," kata Ganjar di RSUD Pandan Arang, Boyolali, Jawa Tengah, Minggu (31/12) malam.
Ganjar ditemani sang istri yakni Siti Atikoh saat menjenguk Slamet Andono dan Arif Diva. Menurutnya, kondisi keduanya saat ini mulai membaik, tetapi Ganjar tak kuasa menahan tangis
"Hasil pemeriksaan dokter membaik. Bagus. Tidak ada geger otak. Tulangnya bagus. Terus kemudian otaknya juga bagus, hanya memar-memar saja. Satu patah gigi. Itu kondisinya,” ungkap Ganjar.
Ganjar menegaskan, kedatangan dirinya merupakan bentuk pertanggungjawaban karena para korban ini merupakan pendukungnya. Ia menyebut, tindak kekerasan terhadap satu orang anggota keluarga kekerasan bagi seluruh keluarga besar Ganjar-Mahfud.
“Saya kira hanya pengadilan yang bisa memutuskan dengan baik agar menjadi peringatan untuk kita semua. Saya datang ke sini sebagai bentuk pertanggungjawaban karena dia pendukung saya. Tapi saya juga mengingatkan para pendukung saya, untuk tertib mengikuti seluruh aturan,” tegas Ganjar.
Capres berambut putih itu kemudian menceritakan kembali kronologi yang ia dengarkan dari para korban. Menurutnya, hal ini menjadi peringatan bagi siapa pun untuk tidak main hakim sendiri.
Menurut cerita yang ia dengar sebelumnya, ada komunikasi dua hulu. Namun, menurut cerita korban, ia hanya lewat dan berhenti kemudian dipukul tanpa peringatan.
“Tidak ada komunikasi sebelumnya. Karena saya ikuti ceritanya, katanya diperingatkan, enggak ada itu. Kalau dari korban enggak ada. Jadi, saya ingin luruskan biar enggak ada bengkok-bengkok," ungkap Ganjar.
“Jadi kejadiannya satu, dia lagi berhenti di lampu merah, tiba-tiba dipukul. Jadi, kalau ada penjelasan lainnya, rasa-rasanya ada pengadilan untuk itu. Biar penjelasannya tidak ting blasur. Semuanya sama,” tambahnya.
Ganjar pun mengaku telah menginstruksikan Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar-Mahfud untuk melakukan langkah-langkah konkret yang harus dilakukan, mendampingi para korban dengan bantuan hukum, dan dukungan maksimal TPN.
"Biaya perawatan para korban kami tanggung semua. Sudah diurus teman-teman . Teman- teman di Boyolali kompak. Soal seperti itu langsung diberesi," papar Ganjar.
“Ini cerita rakyat yang harusnya bisa diingatkan. Siapapun tidak boleh mengatasnamakan apapun dengan semena-mena. Kami akan urus itu. Dan kami mengkomunikasikan, teman-teman di Jakarta sudah bicara dengan Panglima TNI, KSAD, saya juga sudah berkomunikasi dengan Pak Pangdam,” lanjutnya.
Meski demikian, Ganjar mengapresiasi pihak TNI yang bergerak cepat menangani hal ini, saat ini 15 orang oknum dugaan penganiayaan tengah menjalani pemeriksaan. Ia pun meminta agar TNI menangani kasus ini sebaik-baiknya, transparan, dan memberikan rasa adil bagi korban, keluarganya, dan seluruh rakyat Indonesia.
“Sekaligus ini peringatan untuk siapapun untuk tidak melakukan tindakan semena-mena. Kami juga akan mengingatkan pendukung kami agar tertib untuk tidak memancing kemarahan. Hal ini harus dijadikan contoh agar tidak boleh terulang lagi,” pungkas Ganjar.