Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 31 Agustus 2026 | 02.18 WIB

Indonesia Kaya Sumber Daya, Tantangan Pendidikan Ada pada Kapasitas Manusia

Ilustrasi Pendidikan - Image

Ilustrasi Pendidikan

JawaPos.com — Indonesia memiliki kekayaan alam dan sumber daya manusia yang besar. Namun, persoalannya bukan lagi sekadar memiliki potensi, melainkan bagaimana pendidikan mampu mengubah potensi tersebut menjadi kapasitas nyata untuk menghadapi perubahan dan membangun masa depan bangsa.

Persoalan tersebut menjadi bahasan dalam Ngkaji Pendidikan bertema Jatuh Bangunnya Peradaban yang digelar Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) di Auditorium Taman Budaya Kulon Progo, Sabtu (29/8/2026). Kegiatan tersebut dihadiri lebih dari 700 guru dan pendidik dari berbagai daerah.

Founder GSM sekaligus Dosen DTETI UGM Muhammad Nur Rizal dalam keterangan tertulisnya mengajak peserta melihat pengalaman sejumlah peradaban seperti Yunani, Romawi, Jepang, dan Tiongkok untuk memahami bagaimana bangsa menghadapi perubahan.

“Peradaban tidak jatuh dalam satu hari dan tidak bangkit karena satu kebijakan. Peradaban dibangun setiap hari melalui cara suatu bangsa mendidik manusia, memperlakukan gagasan, dan menyediakan ruang untuk bertumbuh.”

Menurut Rizal, kejayaan masa lalu tidak otomatis membuat sebuah bangsa mampu menghadapi persoalan baru. Jepang dan China, misalnya, menunjukkan bagaimana pembelajaran, keterbukaan, eksperimen, dan pembaruan institusi dapat menjadi bagian dari proses menghadapi perubahan.

“Jepang bangkit bukan karena sudah mengetahui jawabannya, melainkan karena berani mengakui, ‘Kami belum tahu,’ kemudian belajar dan mengubah institusi negara.”

Indonesia telah mengalokasikan anggaran pendidikan sekitar Rp724,3 triliun pada 2025 dan memperluas akses pendidikan hingga sekitar 408 ribu satuan pendidikan formal. Namun, besarnya investasi dan luasnya akses pendidikan belum otomatis menjawab persoalan kapasitas sumber daya manusia.

Hal itu antara lain tercermin dalam hasil PISA 2022. Skor Indonesia terpaut 106 poin dari rata-rata OECD untuk matematika, 117 poin untuk literasi, dan 102 poin untuk sains.

Kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa tantangan pendidikan Indonesia tidak berhenti pada menyediakan sekolah dan memperluas akses, tetapi juga memastikan peserta didik memiliki kemampuan memahami informasi, memecahkan masalah, menciptakan gagasan, dan beradaptasi.

Editor: Banu Adikara
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore