Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 3 Oktober 2021 | 20.15 WIB

Revolusi Mental Generasi Muda Berawal Dari Para Pendidik

Siswa saat mengikuti pembelajaran tatap muka terbatas di SMAN 1 Kota Tangerang, Banten, Senin (6/9/2021). Dinas Pendidikan Provinsi Banten menggelar uji coba pembelajaran tatap muka di sekolah menengah atas di Kota Tangerang secara terbatas dengan sistem - Image

Siswa saat mengikuti pembelajaran tatap muka terbatas di SMAN 1 Kota Tangerang, Banten, Senin (6/9/2021). Dinas Pendidikan Provinsi Banten menggelar uji coba pembelajaran tatap muka di sekolah menengah atas di Kota Tangerang secara terbatas dengan sistem

JawaPos.com - Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) bukan hal baru dalam dunia pendidikan. Para guru dan tenaga kependidikan memiliki peranan penting dalam upaya mengimplementasikan dan menanamkan nilai-nilai revolusi mental melalui pendidikan karakter.

Deputi Bidang Koordinasi Revolusi Mental, Pemajuan Budaya dan Peningkatan Prestasi Olahraga Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Didik Suhardi mengatakan, penanaman nilai-nilai revolusi mental mesti dilakukan dua jalur, yaitu pendidikan dan non-pendidikan.

"Dalam dunia pendidikan, proses transfer knowledge ialah dari pendidik. Kalau pendidiknya tidak berkarakter, tidak punya hal-hal atau nilai-nilai yang mencerminkan perubahan revolusi mental tentu itu tidak bisa ditularkan kepada peserta didik," ujarnya, Minggu (3/10).

Nilai-nilai revolusi mental yang harus dimiliki para pendidik dalam hal ini guru ialah integritas, etos kerja, dan gotong-royong. Nilai-nilai itulah yang diharapkan dapat ditularkan kepada peserta didik sehingga membentuk karakter kuat generasi bangsa Indonesia.

Didik mengutarakan bahwa pendidikan karakter harus dimulai sejak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Pada masa itu, nilai-nilai yang diajarkan adalah cara bersosialisasi, berkomunikasi, interaksi, dan kemampuan menjadi anak mandiri dalam segala hal.

"Di SD juga demikian, muatan karakternya masih sangat besar antara 60-70 persen. SMP 40-50 persen, lalu SMA 20-30 persen. Setelah di pendidikan tinggi maka sifatnya harus sudah implementasi dari karakter-karakter yang sudah diajarkan sejak PAUD hingga pendidikan menengah," tuturnya.

Didik menjelaskan pada periode kedua kepimpinan Presiden Jokowi, pemerintah fokus pada pembangunan sumber daya manusia (SDM). Revolusi mental berperan untuk mengubah cara pikir, cara kerja, dan cara hidup menuju masyarakat Indonesia yang berdikari, berdaulat, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

"Bagaimana pun, pendidikan terutama guru atau para pendidik menjadi ujung tombak keberhasilan pencapaian revolusi mental," jelasnya.

Sementara itu, Ketua Umum PB PGRI Unifah Rosyidi mengungkapkan bahwa peran guru sangat strategis dalam mengawal perubahan revolusi mental. Namun dalam implementasinya, para guru masih menghadapi berbagai tantangan terutama saat menanamkan nilai-nilai karakter peserta didik di era pandemi Covid-19.

"Tantangan lain yang juga sebenarnya sudah berlangsung lama yaitu fokus yang terbagi antara peserta didik dengan kewajiban administratif guru yang harus dipenuhi. Hal-hal birokratif seperti ini faktanya memang masih menjadi kendala bagi kita (guru)," tandas dia.

Editor: Banu Adikara
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore