Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 22 Februari 2017 | 02.47 WIB

Papan Pasak Asah Kognitif Anak

CERIA: Dari kiri, Aufa (kiri) bersama Clarisa Aura dan Aura Zarfa bermain papan pasak. - Image

CERIA: Dari kiri, Aufa (kiri) bersama Clarisa Aura dan Aura Zarfa bermain papan pasak.

JawaPos.com – Mampu memecahkan masalah perlu dibiasakan sejak dini. Agar lebih menyenangkan, materi tersebut bisa dipelajari sambil bermain. Salah satunya menggunakan papan pasak.


Permainan itu menggunakan papan kayu berukuran 20 x 20 sentimeter. Terdapat 25 lubang berdiameter 1 sentimeter. Ada pasak kecil warna-warni yang diletakkan di dalam lubang. ”Banyak cara untuk memainkannya,” kata Tiwik, guru TK Persatuan Istri Karyawan Petrokimia Gresik (PIK PG) Pongangan, Senin (20/2).


Anak-anak, lanjut dia, harus bisa memasukkan pasak ke dalam lubang. Warna pada satu baris pasak yang ditata harus seragam. Tinggi pasak juga harus sejajar. ”Kalau kuning, ya harus kuning semua dan sama tinggi,” jelasnya. Bentuk yang seragam bisa menjadi pola. Bisa segi tiga atau persegi. Anak-anak harus bisa mengaitkan pola yang terbentuk dari warna pasak. Dengan begitu, anak tidak hanya mengenal ukuran tinggi rendah, tapi juga berbagai bentuk yang berbeda.


Menurut Tiwik, permainan tersebut sangat bagus untuk kognitif anak. Terutama untuk melatih logika. ”Permainan itu diberikan untuk persiapan baca tulis berhitung (calistung, Red),” terangnya.


Yang tidak kalah penting, permainan papan pasak juga melatih anak untuk memecahkan masalah. Setiap pasak yang berbeda warna dan ukuran harus disusun rapi. ”Otak harus bisa berpikir cepat untuk menyusun pasak tanpa salah,” tuturnya.


Kepala TK PIK PG Makrifa menambahkan, permainan tersebut idealnya diberikan sejak usia 3–4 tahun. Pada usia itu, otak anak sedang berkembang pesat. Tahap pembelajaran anak idealnya dimulai dengan pengenalan benda fisik, lalu teori. Misalnya, pasak. Kayu kecil berbentuk tabung merupakan benda. ”Sementara itu, tinggi maupun warna merupakan teori yang melekat pada benda,” lanjutnya.



Perempuan asal Dawar tersebut mengungkapkan, pembelajaran untuk anak sebaiknya dilakukan sambil bermain, tapi tidak asal bermain. ”Permainan yang diberikan harus menjadi alat yang menunjang perkembangan otak anak,” tambahnya. (adi/c16/ai/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore