
Pemilik akun @psikologi_sosial yang merupakan mahasiswa S2 Psikologi UI menjelaskan perspektif psikologi sosial tentang siswa yang dikirim ke barak militer. (Instagram @psikologi_sosial)
JawaPos.com - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kembali menjadi sorotan setelah mengunggah pernyataan seorang mahasiswa S2 Psikologi Universitas Indonesia, yang menanggapi kebijakan pengiriman siswa bermasalah ke barak militer.
Mahasiswa pemilik akun @psikologi_sosial itu menggunakan nama Saputra Syarif. Sampai berita ini dibuat, syarif memiliki 2.9446 pengikut di Instaramnya.
Sementara unggahannya pada 3 Mei mengenai kebijakan Dedi telah ditonton sebanyak 5.800 kali.
Dalam unggahannya, Dedi menekankan bahwa anak-anak yang terlibat tawuran, kecanduan gim daring, hingga penyalahgunaan obat-obatan tidak cukup ditangani dengan ceramah atau hukuman.
“Nih, ada pernyataan argumentatif dan logis dari anak muda Indonesia yang harus disimak oleh kita semua,” tulis Dedi, menyindir pihak yang masih mengkritik kebijakan kontroversialnya itu, dikutip Jumat (16/5).
Melalui kutipan mahasiswa psikologi tersebut, Dedi menyoroti bahwa langkah membawa anak ke barak bukan bertujuan menghukum, melainkan membimbing melalui struktur yang jelas.
Syarif, sang mahasiswa, menjelaskan perpekif sosial mengenai perilaku para remaja saat berada di lingkungan baru yang lebih tertib, yakni barak militer.
“Kadang yang dibutuhkan anak muda bukan hukuman, tapi struktur. Dedi Mulyadi mengirim puluhan siswa nakal ke barak militer, bukan untuk dihukum, tapi dibimbing,” ucap Syarif melalui akun Instagramnya, @psikologi_sosial.
Syarif tidak menampik bahwa banyak yangmemprotes kebijakan dedi dan menganggapnya sebagai langkah yang terlalu militeristik.
“Tapi, mari jujur. Sebagian anak muda kita tumbuh di lingkungan yang bising, tapi kosong. penuh tuntutan, tapi tanpa arah,” jelasnya.
Ia menjelaskan bahwa barak memang bukan solusi untuk semua. Tapi barak bisa menjadi ruang aman, terutama bagi anak-anak yang tumbuh di lingkungan penuh tuntutan namun tanpa arah sehingga mereka kehilangan pegangan.
Dalam barak, anak-anak diajak menjalani rutinitas seperti bangun pagi, menyusun tempat tidur, dan mematuhi instruksi. Hal-hal sederhana ini, menurut Syarif, secara psikologis mampu membentuk kebiasaan dan karakter baru.
“Dalam psikologi sosial, terutama dalam pendekatan behavioristik, meyakini bahwa perilaku manusia dibentuk, dipelihara, dan diubah oleh konsekuensi yang muncul dari lingkungannya,” lanjutnya.
Barak, dalam konteks ini, bukan simbol represi, melainkan laboratorium sosial—tempat anak-anak bisa mematikan pola perilaku lama dan mengembangkan yang baru lewat keteraturan dan konsistensi.
Syarif menutup pernyataannya dengan penjelasan bahwa kebijakan Dedi bukan lagi persoalan militerisasi pendidikan.

Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Pesan Perpisahan Penuh Misteri Milos Raickovic Bersama Persebaya Surabaya, Bonek Penasaran hingga Menyesali
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
Bocor! 3 Alasan Krusial Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Nomor Dua Jadi Kunci Utama
Ada Pemain Bali United yang Dirumorkan Gabung Persebaya Surabaya Musim Depan, Bonek Sebutkan 3 Nama Termasuk Irfan Jaya
Kunker Luar Negeri Presiden Dikritik, Teddy Singgung Dino Patti Djalal yang hanya 3 Bulan jadi Wamenlu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Wariskan 39 Gol yang Sulit Dilupakan
Harga BBM Pertamina Nonsubsidi Terbaru Per 1 Juni 2026, Dex Series Turun, Pertamax Turbo Naik
Viral Penonton Konser F4 di Jakarta Kena Campak Sebelumnya, Kemenkes Lakukan Pengecekan
