
istimewa
JawaPos.com - Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat biodiversitas laut yang tinggi. Salah satu bagian penting yang menjadi jantung bagi kehidupan lautnya adalah terumbu karang. Sebuah ekosistem dengan tingkat produktivitas yang tinggi.
Pencetus Yayasan Terumbu Rupa (YTR) Teguh Ostenrik mengatakan, terumbu karang merupakan salah satu ekosistem yang berperan penting bagi kehidupan biota laut maupun masyarakat pesisir. Sekaligus sebagai rumah bagi berbagai biota laut, mencari makan, serta berkembang biak.
Menurut Teguh, Kondisi terumbu karang di Indonesia saat ini sudah tidak sebaik dulu. Banyak aktivitas - aktivitas manusia yang kerap kali menjadi penyebab rusaknya ekosistem ini. Kegiatan perikanan yang merusak serta tingkat eksploitasi yang tinggi membuat kondisi rumah bagi biota laut ini kian memburuk.
Oleh karena itu, lanjutnya, berbagai hal mulai dilakukan sebagai upaya untuk merenovasi rumah bagi ikan – ikan di laut. Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan transplantasi karang.
"Sejak 2015, YTR memiliki sebuah program berbasis masyarakat yang bertujuan untuk merehabilitasi karang. Program ini dikenal dengan nama ARTificial Reef. Hingga saat ini, YTR telah membuat 10 ARTificial Reef yang diantaranya berada di Lombok, Wakatobi, dan Pulau Sepa," jelasnya.
Selanjutnya, Yayasan Terumbu Rupa bekerja sama dengan Tim Dosen Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB) melalui Hibah Program Dosen Berkarya memulai aktivitas di Perairan Desa Bangsring, Banyuwangi, Jawa Timur.
Ketua Tim dosen dari program studi Ilmu Kelautan, FPIK - UB Citra Satrya Utama Dewi mengatakan, hibah Program Dosen Berkarya ini merupakan sebuah inovasi Universitas Brawijaya dalam menjawab tantangan program nasional Merdeka Belajar Kampus Merdeka, dimana (UB) memberikan apresiasi kepada akademisi yang diakui keahlian dan kemampuannya oleh masyarakat.
Citra juga menjelaskan, kerjasama ini berlangsung dalam rangka menenggelamkan, serta memonitoring sebuah ARTifcial Reef di Perairan Bangsring, Banyuwangi, Jawa Timur, dengan ukuran panjang 15 meter dan diameter lingkaran 3 – 5 meter, yang dinamakan Domus Coronarius Circularis.
Menurutnya, virus corona menjadi salah satu inspirasi dari motif di sekeliling media transplantasi ini. Proses penurunan Domus Coronarius Circularis melibatkan puluhan penyelam, terdiri dari masyarakat lokal Desa Bangsring dalam koordinasi Bangsring Underwater, akademisi dari Program Studi Ilmu Kelautan, FPIK – UB, serta dari YTR sendiri.
Para penyelam ini berperan untuk mengatur arah ketika media transplantasi karang itu diturunkan ke dasar perairan. Setelah dilakukan penurunan media tersebut, langkah selanjutnya adalah dilakukannya transplantasi karang pada tempat yang menjadi rumah baru bagi ikan – ikan di Perairan Bangsring. Sebanyak 200 bibit karang dipasang pada kegiatan transplantasi perdana di Domus Coronarius Circularis.
"Setidaknya terdapat dua genus karang yang ditransplantasi, yaitu acropora dan montipora, dengan beragam life form, yaitu bercabang, lembaran, dan submassive. Karang dari genus Acropora memiliki ciri khas utama yaitu letak koralit yang berada pada sisi radial dan axial dari karang," ujar Citra.
Genus ini memiliki banyak ditemukan dalam bentuk bercabang maupun submassive. Berikutnya, genus Montipora, merupakan genus paling sering ditemukan mendominasi perairan dangkal yang berkaitan dengan intensitas cahaya yang bagus serta kejernihan suatu perairan. Genus Montipora di perairan Bangsring ini memiliki bentuk koloni berupa lembaran.
Tidak berhenti disitu, lanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan memonitoring karang yang telah ditransplantasi. Kegiatan monitoring dilakukan setiap bulannya untuk memantau pertumbuhan bibt - bibit karang yang kelak menjadi tempat baru bagi berbagai biota. Hingga saat ini, lebih dari 350 bibit karang telah ditransplantasi di Domus Coronarius Circularis dan memiliki tingkat pertumbuhan yang baik. Selain itu, lebih dari 30 jenis ikan juga ditemui di sekitar Domus Coronarius Circularis.
Setelah hampir satu tahun melakukan proses penenggelaman rangka dan transplantasi karang, hasil monitoring menunjukkan beberapa jenis ikan mulai nyaman tinggal dalam domus ini, jenis jenis ikan tersebut ialah: Scorpionfish, Giant Trevally, dan Pufferfish. Scorpionfish merupakan ikan karnivora yang memiliki tubuh yang terkompresi dengan mulut lebar dan duri punggung berbisa yang mencolok, namun ikan ini tidaklah agresif.
Diketahui, Giant Trevally atau Ikan Kuwe merupakan salah satu jenis ikan yang lazim ditemukan berenang di sekitar terumbu karang, mudah dikenali dari tubuhnya yang berwarna perak-keabuan, kepalanya yang curam-tumpul, serta sirip dada yang besar layaknya dayung.
"Selanjutnya, Pufferfish atau umum disebut ikan buntal, memiliki ciri-ciri ikan tubuh yang panjang dan meruncing, kepala bundar, bibir menonjol dan perut besar. Ikan ini tidak memiliki sisik, namun beberapa memiliki duri. Ikan ini memiliki kemampuan mengubah arah saat berenang dan bahkan berenang mundur," pungkasnya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
