Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 12 Januari 2017 | 14.40 WIB

Prof Bambang Prajogo Eko Wardojo Utak-atik Gandarusa Jadi Kapsul Kontrasepsi Pria

ASLI INDONESIA: Prof Dr Bambang Prajogo Eko Wardojo MSApt bersama karyanya, kapsul kontrasepsi pria. - Image

ASLI INDONESIA: Prof Dr Bambang Prajogo Eko Wardojo MSApt bersama karyanya, kapsul kontrasepsi pria.


Setiap pengobatan tradisional harus dikembangkan. Kalau tidak, resep turun-temurun itu bisa punah dan tergerus zaman. Melalui pendekatan etnomedisin, Prof Dr Bambang Prajogo Eko Wardojo MSApt menemukan kontrasepsi pria dari gandarusa.



PENGGUNAAN gandarusa sebagai alat kontrasepsi pria ini sebenarnya sudah dikenal masyarakat Papua. Tapi, waktu itu belum ada pembuktian ilmiah,” ungkap Bambang saat ditemui Jawa Pos di Ruang Departemen Farmakognosi Fitokimia Fakultas Farmasi Universitas Airlangga Rabu (11/1).


Ide awal penelitian tumbuhan bernama latin Justicia gendarussa Burm.F tersebut tercetus pada 1987. Saat itu dia tertarik pada hasil temuan seorang profesor UGM yang meneliti varietas tanaman di Papua. Salah satu tanaman tersebut adalah gandarusa.


”Di sana (Papua, Red), tanaman gandarusa diolah dengan sederhana. Direbus,” terang guru besar yang memperoleh penghargaan Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa (AKIL) dari Departemen Pendidikan Nasional itu.


Pria kelahiran 17 Desember 1956 tersebut mengatakan, dirinya meneliti daun itu melalui serangkaian uji laboratorium. Dari uji tersebut, Bambang menemukan beberapa senyawa. Salah satunya, senyawa flavonoid.


Bahan itu memiliki keunggulan bisa melemahkan enzim di spermatozoa. Enzim tersebut juga berfungsi meluruhkan lapisan luar sel telur sehingga menghambat pembuahan.


Bukan hanya satu. Bambang menemukan 12 komponen flavonoid di gandarusa yang semuanya bisa membantu menyukseskan efektivitas kapsul kontrasepsi. Yakni, mencegah kehamilan saat berhubungan badan.


Untuk membuktikan efektivitas tersebut, perjuangan Bambang tidaklah mudah. Sejak 2006, ayah tiga anak itu melakukan serangkaian uji preklinik hingga klinik. Hal tersebut merupakan prosedur kelayakan obat. Mulai mencit sampai uji manusia.


Risetnya terbilang lancar, obat terbukti efektif. Obat yang dikonsumsi pasien berhasil menghambat pembuahan. ”Bahkan untuk uji di manusia, ada yang gairah seksnya lebih tinggi setelah minum kapsul kontrasepsi ini,” jelas penghobi otomotif itu.


Ada serangkaian tahapan penelitian bahan alam yang harus dijalaninya. Di antaranya, proses ekstraksi dan fraksi. Peneliti, lanjut dia, memisahkan beberapa bahan yang kurang bermanfaat pada fungsi pengobatan yang dituju.


Dalam gandarusa, menurut dia, terdapat banyak senyawa. Senyawa yang tidak bermanfaat dihilangkan dalam proses fraksi. ”Inilah yang membedakan pembuatan obat modern dengan tradisional. Modern lebih efektif,” jelasnya.


Selain efektif, pengujian modern menghindarkan senyawa yang berbahaya masuk dalam tubuh saat pengobatan. Dia mencontohkan, di gandarusa ada senyawa alkaloid yang beracun dan membahayakan tubuh.


”Jadi, meski menggunakan obat herbal, perlakuan dan pembuatannya tidak boleh asal,” tuturnya.


Hasil penelitiannya itu membuktikan keampuhan obat tradisional. Juga, membantu pengobatan tradisional agar tidak punah. Apalagi, potensi pengembangan pengobatan herbal di Indonesia sangat tinggi.


Sebab, negeri tropis ini memiliki banyak jenis tanaman obat. Jumlahnya sekitar tujuh ribu jenis. Meski demikian, baru 940 jenis yang berhasil diidentifikasi mempunyai khasiat obat.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore