
Ilustrasi frasa dari orang tua yang menghancurkan anak. (pexels).
JawaPos.com – Sebagai orang tua, tentu kita ingin anak-anak tumbuh bahagia dan merasa dicintai. Namun, tanpa disadari, ada pola asuh tertentu yang justru bisa membuat mereka merasa kesepian dan kurang bahagia.
Psikologi menunjukkan bahwa cara orang tua berinteraksi dengan anak sangat mempengaruhi kesehatan emosional mereka.
Hal-hal kecil, seperti bagaimana kita merespons perasaan mereka atau kebiasaan sehari-hari yang kita lakukan, bisa berdampak besar pada kepercayaan diri dan kebahagiaan mereka di masa depan.
Kabar baiknya, jika kita menyadari pola ini, kita bisa mulai mengubahnya. Berikut adalah tujuh kebiasaan orang tua yang bisa membuat anak merasa terisolasi dan tidak bahagia, serta bagaimana cara memperbaikinya, dikutip dari Blog Herald, Kamis (20/3).
Anak-anak sedang belajar mengenali dan mengelola emosinya. Jika orang tua sering menyepelekan atau mengabaikan perasaan mereka, anak akan merasa bahwa emosinya tidak penting.
Contohnya, ketika anak sedih lalu kita berkata, "Ah, cuma gitu aja kok nangis?" atau "Jangan lebay, nggak segitunya." Hal ini bisa membuat mereka enggan berbagi perasaan dan akhirnya menutup diri.
Sebaliknya, cobalah mengakui dan memahami perasaan mereka. Misalnya dengan berkata, "Ibu lihat kamu sedih, mau cerita ke ibu?" Dengan begitu, mereka akan merasa didengar dan dihargai.
Sebagai orang tua, kita ingin memastikan anak melakukan hal yang benar. Namun, jika kita terlalu banyak mengatur—mulai dari pakaian, teman bermain, hingga hobi mereka—anak bisa merasa tidak punya kendali atas hidupnya.
Anak butuh bimbingan, tapi juga butuh ruang untuk belajar membuat keputusan sendiri. Jika mereka merasa setiap pilihan sudah ditentukan oleh orang tua, mereka bisa kehilangan rasa percaya diri dan menjadi kurang mandiri.
Daripada mengambil semua keputusan untuk mereka, berikan kesempatan bagi anak untuk memilih, tentu dengan bimbingan. Misalnya, "Hari ini kamu mau pakai baju biru atau merah?" Ini membantu mereka merasa dihargai dan lebih percaya diri dalam mengambil keputusan.
Ada orang tua yang berpikir bahwa menyediakan kebutuhan anak sudah cukup untuk menunjukkan cinta. Padahal, anak juga butuh kasih sayang dalam bentuk pelukan, kata-kata hangat, dan perhatian emosional.
Jika kita jarang mengatakan "Aku sayang kamu" atau enggan memeluk mereka, anak bisa merasa kurang dicintai meskipun kita selalu ada untuk mereka.
Jangan ragu untuk lebih ekspresif dalam menunjukkan kasih sayang, baik melalui kata-kata, sentuhan, maupun perhatian yang tulus.
Terlalu sering mengkritik bisa membuat anak merasa tidak cukup baik. Misalnya, saat mereka mendapatkan nilai 90, tapi yang kita komentari justru, "Kenapa nggak bisa 100?"
Meskipun niatnya untuk memotivasi, jika kritik lebih sering diberikan daripada apresiasi, anak bisa kehilangan rasa percaya diri dan merasa tidak pernah cukup baik di mata orang tuanya.

Bocor! 3 Alasan Krusial Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Nomor Dua Jadi Kunci Utama
Viral Penonton Konser F4 di Jakarta Kena Campak Sebelumnya, Kemenkes Lakukan Pengecekan
Soal Kabar Kepala BGN Dadan Hindayana Ditangkap, Dasco: Serahkan ke Aparat Hukum
Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Kunker Luar Negeri Presiden Dikritik, Teddy Singgung Dino Patti Djalal yang hanya 3 Bulan jadi Wamenlu
Kejagung Konfirmasi Penggeledahan Kantor BGN Usai Pencopotan Dadan Hindayana
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Wariskan 39 Gol yang Sulit Dilupakan
Profil Sony Sanjaya, Eks Jenderal Polri yang Dicopot Sebagai Wakil Kepala BGN, Sempat Diterpa Isu OTT
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
