Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 7 April 2025 | 03.05 WIB

Anak yang Dibesarkan dalam Lingkungan yang Penuh Rasa Takut Biasanya akan Menunjukkan 7 Perilaku Ini Saat Dewasa, Menurut Psikologi

Ilustrasi orang yang memiliki ketakutan mendalam. (pexels.com/Insmam Khan). - Image

Ilustrasi orang yang memiliki ketakutan mendalam. (pexels.com/Insmam Khan).

JawaPos.com - Waktu kecil, sebagian anak terbiasa untuk selalu waspada. Bukan karena ingin, tapi karena hidup menuntut dia untuk begitu. Rumah tidak menjadi tempat paling aman.

Karena itu, sebagian anak belajar untuk membaca situasi, menyembunyikan perasaan, dan memprediksi bahaya yang mungkin datang. Sambil berharap saat tumbuh dewasa, semua rasa takut itu akan hilang dengan sendirinya. Nyatanya, tidak.

Ketakutan di masa kecil bisa berubah jadi kebiasaan di masa dewasa. Tanpa kita sadari, pola pikir dan cara kita memperlakukan diri sendiri, bahkan cara kita menjalin hubungan, terbentuk dari pengalaman-pengalaman awal yang penuh ketidakpastian.

Inilah tujuh perilaku umum yang sering dimiliki orang dewasa yang dibesarkan dalam lingkungan penuh rasa takut, dikutip dari Small Business Bonfire, Sabtu (5/4).

1. Susah percaya pada orang lain

Kalau sejak kecil kamu tumbuh di lingkungan yang penuh tekanan, kepercayaan bukan hal yang mudah. Kamu mungkin pernah dikhianati oleh orang yang seharusnya melindungimu, atau sering merasa tidak aman karena keadaan yang berubah-ubah tanpa peringatan. Ini membuatmu terbiasa menjaga jarak dan tidak mudah membuka diri.

Saat dewasa, pola ini berlanjut. Kamu selalu menaruh curiga, bahkan pada orang yang sebenarnya tulus. Di kepalamu, kamu terus menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk—seperti dikhianati atau ditinggalkan.

Bukannya kamu nggak mau percaya, tapi kamu merasa lebih aman saat waspada. Sayangnya, ini bisa bikin hubungan jadi hambar dan kamu pun merasa sendirian, meski ada banyak orang di sekitarmu.

2. Overthinking jadi kebiasaan

Saat kamu tumbuh di lingkungan yang tidak stabil, berpikir panjang adalah bentuk perlindungan diri. Kamu terbiasa memikirkan semua kemungkinan—termasuk yang paling buruk—untuk menghindari kesalahan.

Bahkan untuk hal-hal kecil seperti mengirim pesan, kamu bisa menghabiskan waktu lama hanya untuk memastikan tidak ada pihak yang tersinggung atas pesanmu.

Namun, kebiasaan ini membuat hidup terasa berat. Otakmu seperti tidak pernah istirahat, selalu memutar ulang adegan, mengkaji ulang keputusan, dan meramalkan skenario yang belum tentu terjadi.

Padahal, kebahagiaan dan ketenangan hanya bisa dirasakan saat kamu berhenti mencoba mengontrol segalanya dan mulai menikmati yang ada di depan mata.

3. Penuh keraguan pada diri sendiri

Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh tekanan biasanya tumbuh dengan banyak keraguan. Mereka terbiasa merasa salah, takut gagal, dan mempertanyakan kemampuan sendiri.

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore